Tuntutan Sebuah Pekerjaan - Cerita Dewasa - Cerita Sex Panas - Cerita Sex - Wisatalendir
4035
post-template-default,single,single-post,postid-4035,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,no_animation_on_touch,qode-title-hidden,qode_grid_1300,qode-theme-ver-11.1,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.1.1,vc_responsive
Cerita hot

Tuntutan Sebuah Pekerjaan

Perkenalkan namaku Anis, usiaku 24tahun. Kulitku putih mulus dengan ukuran payudara 34b. Bibirku agak tebal tapi hidungku mancung. Banyak orang mengika kalau aku ini keturunan arab. Padahal dari keluargaku sama sekali tidak ada yang berdarah arab. Aku lulusan dari universitas yang gak begitu terkenal sehingga banyak orang yang menganggap remeh diriku. Aku merupakan anak pertama dari 3 bersaudara. Kedua adikku juga perempuan. Ayahku hanya bekerja serabutan dan ibuku bantu nyuci di rumah orang. Maka dari itu setelah lulus kuliah aku sebisa mungkin harus cari kerja untuk meringankan beban orang tuaku.

Singkat cerita aku diterima kerja di Jakarta di bank swasta. Dikesehariannya aku selalu memakai hijab. Setelah bekerja sekitar 1bulan aku tidak diperkenankan memakai hijabku lagi dengan alasan pekerjaanku di front office. Dan dengan berat hati terpaksa aku harus melepas hijabku yang sudah kupakai semenjak SD itu. Sengaja aku tak bilang sama kedua orang tua perihal harus melepas hijabku. Aku punya akal dengan selalu membawa baju ganti dari rumah. Setiap berangkat kerja dari rumah akau memakai hijab dulu dan sesampainya di kantor aku ganti baju dengan seragam yang telah disiapan kantor. Baju lengan pendek dan rok span pendek ketat dilengkapi dengan sepatu hak tinggi.

Seperti biasa aku berangkat pagi, harus buru-buru ke stasiun kereta karena rumahku jauh di Bogor. Singkat cerita akupun sampai di kantor dengan waktu yang hampir terlambat. Namun sungguh kagetnya aku karena ternyata rok spanku masih tertinggal di atas kasur kamarku. Aku jadi panik sekali hingga tibalah seorang rekan kerjaku yang tubuhnya lebih kecil dariku namanya Sari.

“Kenapa kamu Nis, kog lihatannya panik gitu?” tanya Sari.
“Ini mbak aku lupa bawa rok kerjaku…gimana nih mbak kalau sampai ketahuan bos” kataku cemas.
“Gimana ya…” kata Sari sambil berpikir.
“Oya aku ada rok satu lagi tapi kemarin habis aku pakai belum sempat aku cuci kalau kamu mau pakai aja dulu” tambah Sari.
“Serius mbak…makasih ya..” kataku.

Baca Juga: Desahan Nafsu Murid Baruku

Aku pun lekas-lekas ke kamar mandi untuk mengganti dengan rok yang dipinjamkan oleh mbak Sari. Roknya cukup ketat aku pakai, sangat sesak di pinggang karena memang ukurannya lebih kecil dari ukuran rokku sehingga menampakan bokong dan pahaku.

Singkat cerita waktu jam kerja telah usai. Aku berniat untuk segera mengganti rok ketat milik mbak Sari dan celanaku kembali karena sudah sangat tidak nyaman aku kenakan. Tapi sebelum berganti tiba-tiba bosku mengajak seluruh rekan kerja untuk makan malam dulu. Sehingga aku tak jadi berganti celana karena setahuku bosku tak suka kalau aku memakai pakaian muslimah. Dengan terpaksa aku tetap memakai rok ketat tersebut.

Ada 5 orang yang diajak makan malam sama bosku. 3 orang laki-laki yaitu Soni, Viko dan Romi sedangkan yang dua perempuan aku dan mbak Sari. Aku memang belum banyak akrab dengan teman-temanku yang lainnya karena memang baru sebulan aku bekerja. Tapi 3 orang laki-laki tadi dan bosku sering membicarakanku di belakang Viko yang paling aku khawatirkan karena dilihat dari tatapan matanya seakan ingin memangsaku.

Bosku mengajak kami makan malam di restoran yang glamor dengan lampu kelap-kelip dan banyak musik bising yang aku tak pernah dengar. Restoran itu lebih terlihat seperti club malam yang berisikan wanita-wanita seksi dan kumpulan laki-laki mesum. Aku merasa tak nyaman dan khawatir dengan tempat itu. Rasanya aku pengin-pengin cepat pulang bertemu dengan orang tuaku. Omong punya omong ternyata alasan bosku mengajak kami makam malam ketempat itu dia ingin mengucapkan salam perpisahan. Dia akan dimutasi ke cabang yang lain dengan posisi yang lebih tinggi.

Bosku memesan seluruh menu makanan dan kami hanya tinggal menyantapnya saja. Menu makanan yang dipesan sangat asing bagiku. Aku dipaksa oleh rekan-rekanku untuk meneggak minuman yang membuat kepalaku sangat berat. Aku jadi mengatuk, kepalaku rasanya berat sekali setelah meminum beberapa teguk minuman itu dan membuatku tak sadarkan diri. Meski dalam keadaan tak sadarkan diri aku merasa ada yang mencengkram bokongku dari balik rok span ketatku. Aku mencoba untuk teriak namun ada tangan yang tiba-tiba menyumpal mulutku. Saat aku membuka mataku betapa kagetnya aku dengan apa yang aku lihat, ada 3 orang laki-laki berbadan tegap dalam keadaan telanjang berdiri dihadapanku. Mereka tidak lain adalan Soni, Viko dan Romi rekan kerjaku. Aku tak menyangka mereka akan tega berbuat hal yang keji padaku.

Aku kembali berusaha untuk teriak walaupun mulutku masih tersumpal tangan Viko yang badannya paling besar dibanding dari dua orang temannya yang lain. Saat aku berusaha meronta tiba-tiba “Plaaakkkk” tangan Viko yang satunya mendarat tepat di pipiku.

“Diam kamu…kamu nurut aja atau mau aku bunuh dan mayat kamu aku buang ke toll” bentak Viko.

Sementara Soni menarik rok span ketatku ke bawah beserta celana dalamku. Dalam satu tarikan celana dalamku yang berwarna pink langsung tergeletak di lantai. Kini vaginaku dengan bulu halus terpampang jelas. Kedua pahaku dibuka paksa oleh Soni dengan mulut yang masih tersumpal tangan Viko dari belakang. Soni lalu berjongkok dan mulai menjilati vaginaku dengan kasar. Aku hanya dapat memejamkan mata karena tenagaku sudah habis setelahmulutku disumpal habis oelh tangan Viko yang membuatku sulit bernafas.

“Woooww…ternyata masih perawab son…” celetuk Soni.

Tak terasa airmata jatuh berlinang mendengar ucapannya Soni tersebut. Romi yang sedari tadi diam kini ikut-ikutan bergabung mengerjaiku. Dia mengambil HP dan merekam diriku yang dalam keadaan mengakang yang memeperlihatkan setiap inci vaginaku. Tujuan Romi merekam kejadian ini dengan maksud untuk mengancamku agar lain waktu mau disetubuhi lagi oleh mereka. Kini aku hanya bisa menangis sejadi-jadinya karena telah masuk dalam perangkap 3 orang brengsek itu.

Aku diperkosa habis-habisan oleh ketiga orang tersebut secara bergantian. Mereka menghujamkan batang penisnya ke lubang vaginaku secara bergantian. Darah perawanku menetes deras diiringi dengan tetesan air mataku.

“Aaahhh…enak sekali memekmu Nis…” ucap Viko yang saat itu tengah menyodokan batang penisnya ke dalam lubang vaginaku dari belakang.
“Viko kumohon hentikan” rengekku.

Kini posisiku dalam keadaan menungging seperti anjing. Vaginaku disodok dengan ganasnya dari belakang oleh Viko, pria yang mempunyai ukuran penis paling besar. Sementara Soni menjejalakan batang penisnya ke mulutku dan Romi meminta tanganku untuk mengocokkan batang penisnya. Tak berapa lama Viko menyodokan batang penisnya semakin cepat dengan tubuuh mengejang,

“Aaaarrrgghhh….aku keluaaarrr sayang…pejuhnya dikeluarin di dalam aja ya biar nanti anaknya ganteng kayak aku” rancu Viko saat meraih orgasmenya.
“Jangan Viko…aku gak mau hamil” rengekku. Tapi Viko tak mendengarkan ucapanku. “Crooott…crooott..crooott” pejuhnya pun menyembur semuanya di dalam vaginaku.
“Brengsek kamu Viko” umpatku. Viko tak meladeni umpatanku dia kemudian mencabut batang penisnya dari dalam lubang vaginaku. Sisa sperma Viko menetes bercampur darah keperawananku.

Setelah Viko udah ngecrot, aku masih harus meledeni Soni dan Romi secara bergantian sampai mereka meraih oragsmenya. Aku yang lemas hanya bisa berbaring tak berdaya. Menatap kosong saat ketiga orang tersebut meninggalkanku sendiri setelah mereka mendapatkan keperawananku.

Singkat cerita aku berjalan guntai keluar dari hotel setelah sebelumnya mandi dan membersihkan diri. Aku pun kembali memakai jilbab dan celana panjang karena ingin pulang kerumah, sementara rok span milik mbal Sari yang sudah belepotan sperma ingin rasanya aku buang saja ke tempat sampah, namun karena rasa tanggung jawabku terhadap benda pinjaman terpaksa aku membawa pulang rok tersebut di dalam tas walau dengan aroma sperma yang menyengat.

Dua hari setelah kejadian itu aku izin tak masuk kerja dengan alasan sakit. tapi memang benar adanya aku sakit khususnya dibagian vaginaku. Ingin rasanya aku segera resign dari kantor itu, namun karena adanya kontrak dan rasa tanggung jawabku terhadap pekerjaanku, tepaksa aku menahannya walau tak mungkin lama lagi.

Orang tuaku yang tidak mengetahui soal pemerkosaan ini pun selalu mendoakanku setiap pagi agar aku sukses dalam karirku padahal justru karena karir ku inilah masa depanku menjadi rusak.

Related Post