Saat Nina Menikmati Penis Besarku - Cerita Dewasa - Cerita Sex Panas - Cerita Sex - Wisatalendir
31199
post-template-default,single,single-post,postid-31199,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1300,qode-theme-ver-11.1,qode-theme-bridge
Cerita dewasa

Saat Nina Menikmati Penis Besarku

Cerita dewasa – Sebelumnya aku akan ceritakan dulu siapa diriku kepada kalian, Hmm menurut banyak orang, wajahku cantik sekali dengan kulit putih mulus dan tubuh sexy. Mataku yang sayu sering membuat pria tergila-gila padaku. Aku sendiri tidak GR tapi aku merasa pria banyak yang ingin ngesex denganku. Aku senang ja karena pada dasarnya aku juga senang ngesex.

Saya dibesarkan di keluarga yang taat beragama. Dari SD hingga SMP saya disekolahkan di sebuah sekolah berlatar belakang agama. Sebenarnya dari kelas 6 SD, gairah sexual saya tinggi sekali tetapi saya selalu berhasil menekannya dengan membaca buku. Selesai SMP tahun 1989, saya melanjutkan ke SMA negeri di kawasan bulungan, Jakarta Selatan.

Di hari pertama masuk SMA, saya sudah langsung akrab dengan teman-teman baru bernama Siska, Angki dan Nia. Mereka cantik, kaya dan pintar. Dari mereka bertiga, terus terang yang bertubuh paling indah adalah si Siska. Tubuh saya cenderung biasa saja tetapi berbuah dada besar karena dulu saya gemuk, tetapi berkat diet ketat dan olah raga gila-gilaan, saya berhasil menurunkan berat badan tetapi payudaraku tetap saja besar.

Di suatu hari Sabtu, sepulang sekolah kami menginap ke rumah Siska di Pondok Indah. Rumah Siska besar sekali dan punya kolam renang. Di rumah Siska, kami ngerumpi segala macam hal sambil bermalas-malasan di sofa. Di sore hari, kami berempat ganti baju untuk berenang.

Di kamar Siska, dengan cueknya Siska, Angki dan Nia telanjang didepanku untuk ganti baju. Saya awalnya agak risih tetapi saya ikut-ikutan cuek. Saya melirik tubuh ketiga teman saya yang langsing. Ku lirik selangkangan mereka dan bulu kemaluan mereka tercukur rapi bahkan Siska mencukur habis bulu kemaluannya. Tiba-tiba si Nia berteriak ke arah saya..

Baca Juga: Ngentot Perawat Bandung

“Gile, jembut Nina lebat banget”

Kontan Siska dan Angki menengok kearah saya. Saya menjadi sedikit malu.

“Dicukur dong Nina, enggak malu tuh sama celana dalam?” kata Angki.
“Gue belum pernah cukur jembut” jawabku.
“Ini ada gunting dan shaver, cukur aja kalau mau” kata Siska.

Saya menerima gunting dan shaver lalu mencukur jembutku di kamar mandi Siska. Angki dan Nia tidak menunggu lebih lama, mereka langsung menceburkan diri ke kolam renang sedangkan Siska menunggui saya. Setelah mencoba memendekkan jembut, Siska masuk ke kamar mandi dan melihat hasil saya.

“Kurang pendek, Nina. Abisin aja” kata Siska.
“Nggak berani, takut lecet” jawabku.
“Sini gue bantuin” kata Siska.

Siska lalu berjongkok di hadapanku. Saya sendiri posisinya duduk di kursi toilet. Siska membuka lebar kaki saya lalu mengoleskan shaving cream ke sekitar memek. Ada sensasi getaran menyelubungi tubuhku saat jari Siska menyentuh memekku. Dengan cepat Siska menyapu shaver ke jembutku dan menggunduli semua rambut-rambut didaerah kelaminku. Tak terasa dalam waktu 5 menit, Siska telah selesai dengan karyanya. Ia mengambil handuk kecil lalu dibasahi dengan air kemudian ia membersihkan sisa-sisa shaving cream dari selangkanganku.

“Bagus kan?” kata Siska.

Saya menengok ke bawah dan melihat memekku yang botak seperti bayi. OK juga kerjaannya. Siska lalu jongkok kembali di selangkanganku dan membersihkan sedikit selangkanganku.

“Nina, elo masih perawan ya?” kata Siska.
“Iya, kok tau?”
“Memek elo rapat banget” kata Siska.

Sekali-kali jari Siska membuka bibir memek saya. Nafasku mulai memburu menahan getaran dalam tubuhku. Ada apa ini? Tanya saya dalam hati. Siska melirik ke arahku lalu jarinya kembali memainkan memekku.

“Ooh, Siska, geli ah”

Siska nyengir nakal tapi jarinya masih mengelus-elus memekku. Saya benar-benar menjadi gila rasanya menahan perasaan ini. Tak terasa saya menjambak rambut Siska dan Siska menjadi semakin agresif memainkan jarinya di memekku. Dan sekarang ia perlahan mulai menjilat memek saya.

“Memek kamu wangi”
“Jangan Siska” pinta saya tetapi dalam hati ingin terus dijilat.

Siska menjilat memek saya. Bibir memek saya dibuka dan lidahnya menyapu seluruh memek saya. Klitorisku dihisap dengan keras sehingga nafas saya tersentak-sentak. Saya memejamkan mata menikmati lidah Siska di memekku. Tak berapa lama saya merasakan lidah Siska mulai naik kearah perut lalu ke dada. Hatiku berdebar-debar menantikan perbuatan Siska berikutnya.

Dengan lembut tangan Siska membuka BH-ku lalu tangan kanannya mulai meremas payudara kiriku sedangkan payudara kananku dikulum oleh Siska. Inikah yang namanya sex? Tanyaku dalam hati. 18 tahun saya mencoba membayangkan kenikmatan sex dan saya sama sekali tak membayangkan bahwa pengalaman pertamaku akan dengan seorang perempuan. Tetapi nikmatnya luar biasa. Siska mengulum puting payudaraku sementara tangan kanannya sudah kembali turun ke selangkanganku dan memainkan klitorisku. Saya menggeliat-geliat menikmati sensualitas dalam diriku. Tiba-tiba dari luar si Nia memanggil..

“Woi, lama amat di dalam. Mau berenang enggak?”

Siska tersenyum lalu berdiri. Saya tersipu malu kemudian saya bergegas memakai baju berenang dan kami berdua menyusul kedua teman yang sudah berenang.

Di malam hari selesai makan malam, kita berempat nonton TV dikamar Siska. Oiya, orang tua Siska sedang keluar negeri sedangkan kakak Siska lagi keluar kota karenanya rumah Siska kosong. Setelah bosan menonton TV, kami menggosipkan orang-orang di sekolah. Pembicaraan kami ngalor-ngidul hingga Siska membuat topik baru dengan siapa kita mau bersetubuh di sekolah. Angki dan Nia sudah tidak perawan sejak SMP. Mereka berdua menceritakan pengalaman sex mereka dan Siska juga menceritakan pengalaman sexnya, saya hanya mendengarkan kisah-kisah mereka.

“Kalau gue, gue horny liat si Ari anak kelas I-6″ kata Nia.
“Iya sama dong, tetapi gue liat horny liat si Marcel. Kayaknya penisnya gede deh” kata Angky.
“Terus terang ya, gue dari dulu horny banget liat si Rendi. Sering banget gue bayangin penis dia muat enggak di memek gue.

Sorry ya Siska, gue kan tau Rendi cowok elo” kata saya sambil tersenyum.

“Hahahahaha, nggak apa-apa lagi. Banyak kok yang horny liat dia. Si Angky dan Nia juga horny” kata Siska. Kami berempat lalu tertawa bersama-sama.

Di hari Senin setelah pulang sekolah, Siska menarik tangan saya.

“Eh Nina, beneran nih elo sering mikirin Rendi?”
“Iya sih, kenapa? Nggak apa-apa kan gue ngomong gitu?” tanya saya.
“Nggak apa-apa kok. Gue orangnya nyantai aja” kata Siska.
“Pernah kepikiran enggak mau ML?” Siska kembali bertanya.
“Hah? Dengan siapa?” tanya saya terheran-heran.
“Dengan Rendi. Semalam gue cerita ke Rendi dan Rendi mau aja ML dengan kamu”
“Ah gila loe Siska” jawab saya.
“Mau enggak?” desak Siska.
“Terus kamu sendiri gimana?” tanya saya dengan heran.
“Saya sih cuek aja. Kalo bisa bikin teman senang, kenapa enggak?” kata Siska.
“Ya boleh aja deh” kata saya dengan deg-degan.
“Mau sekarang di rumahku?” kata Siska.
“Boleh”

Saya naik mobil Siska dan kami berdua langsung meluncur ke Pondok Indah. Setiba di sana, saya mandi di kamar mandi karena panas sekali. Sambil mandi, perasaan saya antara tegang, senang, merinding. Semua bercampur aduk. Selesai mandi, saya keluar kamar mandi mengenakan BH dan celana dalam. Saya pikir tidak ada orang di kamar. Saya duduk di meja rias sambil menyisir rambutku yang panjang. Tiba-tiba saya kaget karena Siska dan Rendi muncul dari balkon kamar Siska. Rupanya mereka berdua sedang menunggu saya sambil mengobrol di balkon.

“Halo Nina” kata Rendi sambil tersenyum.

Saya membalas tersenyum lalu berdiri. Rendi memperhatikan tubuhku yang hanya ditutupi BH dan celana dalam. Tubuh Rendi sendiri tinggi dan tegap. Rendi masih campuran Belanda Menado sehingga terlihat sangat tampan.

“Hayo, langsung aja. Jangan grogi” kata Siska bagaikan germo.

Rendi lalu menghampiriku kemudian ia mencium bibirku. Inilah pertama kali saya dicium di bibir. Perasaan hangat dan getaran menyelimuti seluruh tubuhku. Saya membalas ciuman Rendi dan kita berciuman saling berangkulan. Saya melirik ke Siska dan saya melihat Siska sedang mengganti baju seragamnya ke daster. Rendi mulai meremas-remas payudaraku yang berukuran 34C.

Saya membuka BH-ku sehingga Rendi dengan mudah dapat meremas seluruh payudara. Tangan kirinya diselipkan kedalam celana dalamku lalu memekku yang tidak ditutupi sehelai rambut mulai ia usap dengan perlahan. Saya menggelinjang merasakan jari jemari Rendi di selangkanganku. Rendi lalu mengangkat tubuhku dan dibaringkan ke tempat tidur.

Rendi membuka baju seragam SMA-nya sampai ia telanjang bulat di hadapanku. Mulut saya terbuka lebar melihat penis Rendi yang besar. Selama ini saya membayangkan penis Rendi dan sekarang saya melihat dengan mata kapala sendiri penis Rendi yang berdiri tegak di depan mukaku. Rendi menyodorkan penisnya ke muka saya. Saya langsung menyambutnya dan mulai mengulum penisnya. Rasanya tidak mungkin muat seluruh penisnya dalam mulutku tetapi saya mencoba sebisaku menghisap seluruh batang penis itu.

Saya merasakan tangan Rendi kembali memainkan memekku. Gairah saya mulai memuncak dan hisapanku semakin kencang. Saya melirik Rendi dan kulihat ia memejamkan matanya menikmati penisnya dihisap. Saya melirik ke Siska dan Siska ternyata tidak mengenakan baju sama sekali dan ia sudah duduk di tempat tidur. Rendi lalu membalikkan tubuhku sehingga saya dalam posisi menungging.
Saya agak bingung karena melihat Siska bersimpuh dibelakang saya. Ah ternyata Siska kembali menjilat memek saya.

Nafas saya memburu dengan keras menikmati jilatan Siska di kemaluan saya. Di sebelah kanan saya ada sebuah kaca besar dipaku ke dinding. Saya melirik ke arah kaca itu dan saya melihat si Rendi yang sedang menyetubuhi Siska dalam posisi doggy style sedangkan Siska sendiri dalam keadaan disetubuhi sedang menikmati memekku.

Wah ini pertama kali saya melihat ini. Saya melihat wajah Rendi yang ganteng sedang sibuk ngentot dengan Siska. Gairah wajah Rendi membuat saya semakin horny. Sekali-kali lidah Siska menjilat anus saya dan kepalanya terbentur-bentur ke pantat saya karena tekanan dari tubuh Rendi ke tubuh Siska. Tidak berapa lama, Rendi menjerit dengan keras sedangkan Siska tubuhnya mengejang. Saya melihat penis Rendi dikeluarkan dari memek Siska. Air maninya tumpah ke pinggir tempat tidur.

Rendi terlihat terengah-engah tetapi matanya langsung tertuju ke memek saya. Bagaikan sapi yang akan dipotong, Rendi dengan mata liar mendorong Siska ke samping lalu ia menghampiri diriku. Rendi mengarahkan penisnya yang masih berdiri ke memekku. Saya sudah sering mendengar pertama kali sex akan sakit dan saya mulai merasakannya. Saya memejamkan mata dengan erat merasakan penis Rendi masuk ke memekku. Saya menjerit menahan perih saat penis Rendi yang besar mencoba memasuki memekku yang masih sempit. Siska meremas lenganku untuk membantu menahan sakit.

“Aduh, tunggu dong, sakit nih” keluh saya.

Rendi mengeluarkan sebentar penisnya kemudian kembali ia masukkan ke memekku. Kali ini rasa sakitnya perlahan-lahan menghilang dan mulai berganti kerasa nikmat. Oh ini yang namanya kenikmatan surgawi pikir saya dalam hati. Penis Rendi terasa seperti memenuhi seluruh memekku. Dalam posisi nungging, saya merasakan energi Rendi yang sangat besar. Saya mencoba mengimbangi gerakan tubuh Rendi sambil menggerakkan tubuhku maju mundur tetapi Rendi menampar pantatku.

“Kamu diam aja, enggak usah bergerak” katanya dengan galak.
“Jangan galak-galak dong, takut nih Nina” kata Siska sambil tertawa. Saya ikut tertawa.

Siska berbaring di sebelahku kemudian ia mendekatkan wajahnya ke diriku lalu ia mencium bibirku! Wah, bertubi-tubi perasaan menyerang diriku. Saya benar-benar merasakan semua perasaan sex dengan pria dan wanita dalam satu hari. Awalnya saya membiarkan Siska menjilat bibirku tetapi lama kelamaan saya mulai membuka mulutku dan lidah kami saling beradu.
Saya merasakan tangan Rendi yang kekar meremas-remas payudaraku sedangkan tangan Siska membelai rambutku.

Saya tak ingin ketinggalan, saya mulai ikut meremas payudara Siska yang saya taksir berukuran 32C. Kurang lebih lima menit kita bertiga saling memberi kenikmatan duniawi sampai Rendi mencapai puncak dan ia ejakulasi. Saya sendiri merasa rasanya sudah orgasme kurang lebih 4 kali. Rendi mengeluarkan penisnya dari memekku dan Siska langsung menghisap penisnya dan menelan semua air mani dari penis Rendi.

Saya melihat Rendi meraih kantong celananya dan mengambil sesuatu seperti obat. Ia menelan obat itu dengan segelas air di meja rias Siska. Saya melihat penis Rendi yang masih berdiri tegak. Dalam hati saya bertanya-tanya bukankah setiap kali pria ejakulasi pasti penisnya akan lemas? Kenapa Rendi tidak lemas-lemas? Belakangan saya tau ternyata Rendi memakan semacam obat yang dapat membuat penisnya terus tegang.

Setelah minum obat, Rendi menyuruh Siska berbaring ditepi tempat tidur lalu Rendi kembali ngentot dengan Siska dalam posisi missionary. Siska memanggil saya lalu saya diminta berbaring diatas tubuh Siska. Dengan terheran-heran saya ikuti kemauan Siska.

Saya menindih tubuh Siska tetapi karena kaki Siska sedang ngangkang karena dalam posisi ngentot, terpaksa kaki saya bersimpuh disebelah kiri dan kanan Siska. Saya langsung mencium Siska dan Siska melingkarkan lengannya ke tubuhku dan kami berdua berciuman dengan mesra. Saya merasakan tangan Rendi menggerayangi seluruh pantatku. Ia membuka belahan pantatku dan saya merasakan jarinya memainkan anusku.

Saya menggumam saat jarinya mencoba disodok ke anusku tetapi Rendi tidak melanjutkan. Beberapa menit kemudian, Siska menjerit dengan keras. Tubuhnya mengejang saat air mani Rendi kembali tumpah dalam memeknya. Saya mencoba turun dari pelukan Siska tetapi Siska memeluk tubuhku dengan keras sehingga saya tidak bisa bergerak. Tak disangka, Rendi kembali menyodorkan penisnya ke memekku. Saya yang dalam posisi nungging di atas tubuh Siska tidak bisa menolak menerima penis Rendi.

Rendi kembali memompakan penisnya dalam memekku. Saya sebenarnya rasanya sudah lemas dan akhirnya saya pasrah saja disetubuhi Rendi dengan liar. Tetapi dalam hatiku saya senang sekali dientotin. Berkali-kali penis Rendi keluar masuk dalam memekku sedangkan Siska terus menerus mencium bibirku.

Kali ini saya rasa tidak sampai 3 menit Rendi ngentot dengan saya karena saya merasakan cairan hangat dari penis Rendi memenuhi memekku dan Rendi berseru dengan keras merasakan kenikmatan yang ia peroleh. Saya sendiri melenguh dengan keras. Seluruh otot memekku rasanya seperti mengejang. Saya cengkeram tubuh Siska dengan keras menikmati sensual dalam diriku.

Rendi lalu dalam keadaan lunglai membaringkan dirinya ke tempat tidur. Siska menyambutnya sambil mencium bibirnya. Mereka berdua saling berciuman. Saya berbaring disebelah kiri Rendi sedangkan Siska disebelah kanannya. Kita bertiga tertidur sampai jam 5 sore. Setelah itu saya diantar pulang oleh Siska.