Kisah Ngentot Berawal Dari Kasihan - Cerita Dewasa - Cerita Sex Panas - Cerita Sex - Wisatalendir
31196
post-template-default,single,single-post,postid-31196,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1300,qode-theme-ver-11.1,qode-theme-bridge
Cerita dewasa

Kisah Ngentot Berawal Dari Kasihan

Cerita dewasa – Tinggal di komplek perumahan memang banyak meninggalkan cerita, Gossip, polemik rumah tangga, persaingan keluarga dan masih banyak lainnya. Seperti yang terjadi pada tetanggaku ini. Sebut saja keluarga Hendi. Sebuah keluarga cukup berada di lingkunganku. Pak Hendi adalah pengusaha yang terbilang sukses, punya usaha Cargo yang cukup dikenal dalam urusan export import.

Hanya saja seiring dengan perkembangan usahanya pak Hendi harus sering meninggalkan keluarganya karena berbagai urusan usahanya termasuk entertain client nya, atau juga entertain para pejabat untuk memuluskan berbagai perijinan. Saking seringnya urusan “keluar” (sengaja dikasi tanda petik untuk memberi konotasi seperti yang kita pahami) tersiar juga kabar kalau pak Hendi memiliki simpanan diluar sana. Kondisi ini tentu saja tidak menyenangkan bagi bu Sinta, istri pak Hendi.

Maklum di komplek perumahan begini, berita cepat menyebar bak gosip selebrity. Sebagai tetangga aku juga prihatin dengan keadaan keluarga bu Sinta. Entah apa yang kurang dari diri bu Sinta ini sehingga tega teganya pak Hendi memiliki wanita lain.

Perlu aku jelaskan bu Sinta ini orangnya cantik, putih, tinggi dengan bentuk tubuh yang bagiku sempurna, bagaimana tidak, dengan kulit bersih yang selalu terawat dan belahan dada yang menantang (entah disengaja atau tidak, bu Sinta sering memamerkan belahan dadanya dengan mengenakan baju yang berleher rendah) dan yang bagiku sangat menarik adalah bentuk pantatnya yang bulat dan agak tinggi kayak pantat bebek.

Hanya saja dia memang agak tertutup dan kurang bergaul di lingkungan kami. Karena rumah ku berhadapan dengan rumah pak Hendi hanya dibatasi jalan komplek aku jadi sering tahu apa yang terjadi di dalam rumah tersebut. Terlebih lagi rumahku tidak punya tembok pembatas seperti rumah lainnya, maklumlah bujangan yang baru saja beli rumah itupun cicilan jadi belum bisa bikin pagar. Sering kali aku lihat pertengkaran dirumah itu yang akhirnya berujung dengan perginya pak Hendi naik Honda CRV-nya kemudian disusul dengan munculnya bu Sinta menutup pagar dengan mata sembab.

Baca Juga: Pengalaman Ngentot Janda Imut

Cerita Ngentot | Hal ini tidak lepas dari pengamatanku (kayak pengamat militer) dan sering pula tanpa sengaja aku bertemu pandang dengan bu Sinta. Biasanya bu Sinta memaksakan tersenyum kearahku dan akupun membalas dengan senyuman…. Berawal dari sinilah pada suatu hari aku memberanikan diri bertanya pada bu Sinta meskipun aku dapat menerka apa yang telah terjadi. Mulanya dia mengelak untuk bercerita tapi setelah aku janjikan aku bisa menjaga rahasia dan mungkin bisa menolong bu Sinta mempersilahkan aku untuk datang kerumahnya.

Rumah besar dengan perabotan lengkap ternyata menyimpan kesedihan bagi bu Sinta. Bu Sinta punya seorang putri kelas 2 SD, seorang pembantu setengah baya yang sering kupanggil bibik juga tinggal disana. Persis seperti yang di gunjingkan orang, bu Sinta cerita kalo suaminya sekarang jarang dirumah, seringkali pulang pagi dan juga beberapa kali tidak pulang 1 sampai 2 hari. Belum lagi jika pak Hendi harus pergi ke kota lain otomatis bu Sinta ditinggal untuk beberapa hari tanpa berita. Bu Sinta yakin suaminya punya WIL, tapi dia nggak tahu siapa orang ke tiga tersebut. Dia ingin sekali untuk mengetahui siapa adanya orang ketiga tersebut itu sebabnya dia menawarkan kerjasama agar aku mencari tahu kegiatan suaminya termasuk mencari tahu identitas WIL nya pak Hendi.

Singkat cerita akupun menyanggupi karena aku merasa kasihan dengan keadaan bu Sinta, tapi bukan itu saja, bu Sinta menjejali kantongku dengan sejumlah uang dan sebuah HP kamera sebagai alat mata-mataku. Kedekatanku dengan bu Sinta semakin bertambah karena aku harus memberikan laporan padanya. Tidak susah mencari bukti perselingkuhan pak Hendi, seminggu setelah menerima tugas dari bu Sinta, aku mendapati pak Hendi sedang menggandeng wanita muda di sebuah rumah makan dekat kantornya, wanita ini mungkin kalah cantik dibanding bu Sinta, hanya saja lebih muda dan sexy. aku membuntuti pak Hendi sehabis makan malam itu sampai ke sebuah rumah dimana dia mengantar wanita tersebut.

Bukan itu saja pak Hendi rupanya “lembur” di rumah tersebut dan baru pulang sekitar jam 12 an. Selang 2 hari kemudian kejadian yang sama terjadi lagi dan pak Hendi “lembur” lagi….. setelah yakin dengan pengamatanku dan tentu saja dengan bukti bukti otentik foto dari hp kamera yang di bekali bu Sinta, akupun siap menghadap dan memberi laporan pas pak Hendi tidak dirumah. Diluar dugaanku bu Sinta tidak syok sama sekali, mungkin karena dia sudah menduga isi laporanku. Dengan tenang dia memintaku untuk mengantarkan ke rumah wanita yang aku maksudkan.

Dengan naik mobil Picanto nya bu Sinta kami berangkat sore hari berharap wanita itu sudah dirumah. Tiba disana aku tidak melihat tanda tanda mobil pak Hendi tapi aku yakin ada orang dirumah. Bu Sinta memutuskan masuk meskipun aku larang, tapi rupanya dia sudah siap mental. Aku menunggu didalam mobil agak jaur dari rumah tersebut khawatir kalau kalo pak Hendi datang.

Cerita Dewasa | Selang 15 menit telponku berbunyi, bu Sinta minta aku menjemputnya. Dalam perjalanan pulang bu Sinta tidak banyak bicara hanya saja dia memintaku untuk mengarah ke pantai. Kami berhenti di pantai dan disitulah bu Sinta menangis. Aku tidak tahu harus berbuat apa, aku biarkan saja bu Sinta menangis di dadaku, aku tidak bisa bicara (gak tahu harus bilang apa) hanya mencoba menenangkan bu Sinta dengan mengelus elus punggungnya.

“De, (panggilanku Dode) cantik mana aku dengan perempuan tadi?” tiba tiba bu Sinta bertanya Aku sedikit kaget, tapi segera menjawab
“cantik bu Sinta lah, bukan Cuma menghibur tapi kenyataannya begitu” jawabku
“tapi kenapa bapak mengencani perempuan itu?” tanyanya lagi.

Aku mengerti arah pembicaraan bu Sinta, rupanya dia tidak habis pikir kenapa suaminya mengencani wanita yang notabene tidak lebih cantik dari dirinya.

“mungkin sudah sifatnya lelaki bu”
“maksudmu?” bu Sinta mengejar dengan pertanyaan.
“yaaah… biasa barang baru, lebih muda, atau servisnya kali bu” aku menjawab sekenanya takut membuat bu Sinta tersinggung. “maksudmu aku sudah tidak menarik lagi?”
“bukan begitu, bu Sinta masih sangat menarik kok, cantik juga sexy, setidaknya menurut pandangan saya begitu, mungkin karena bapak tertarik barang baru aja bu” Bu Sinta menarik nafas, entah apa yang berkecamuk dalam hatinya.

Kami terdiam beberapa lama.

“De… kamu masih mau bantu saya?” akhirnya dia buka suara
“Tentu bu, dengan senang hati saya akan bantu sebisa saya”
“kamu bilang aku masih menarik, apa aku cukup menarik buat kamu?” suara sendu itu bagaikan guntur ditelingaku, terus terang aku memang mengagumi wanita ini bahkan tak jarang pula membayangkan dapat bercinta dengannya.

Tapi mendengar pertanyaanya ini aku kikuk sendiri, tanganku gemetaran, otakku berfikir mungkin ini saatnya aku dapat mewujudkan bayanganku selama ini, tapi aku takut salah mengartikan kata katanya, aku tidak berani gegabah.

“maksud bu Sinta?” “tolong jangan panggil aku ibu, aku merasa tua, panggil saja namaku kecuali dirumah tentunya”
“ooh itu… kalau Cuma itu tentu saya bisa lakukan” jawabku pura pura bloon.

Kulihat bu Sinta tersenyum kecil.

“bukan Cuma itu De, kalau aku cukup menarik buat kamu, tentunya kamu mau dong sama aku” eehh… saya tentu saja mau, tapi takutnya Sinta bakal menyesal.

Saya tahu bu Sinta lagi guncang, saya tidak mau ambil kesempatan dalam keadaan seperti ini” aku mencoba bijaksana

“bukan kali ini saja aku sakit hati De, kamu tahu sendiri…. Aku sudah lelah sakit hati sendiri. Aku tidak mau memikirkan ini lagi, yang ingin kulakukan sekarang adalah sedikit melupakan. Aku lelah jadi istri setia, kalau suamiku bisa melakukan itu kenapa aku tidak? Paling tidak aku masih bisa menikmati hidup khan?” Sinta mengeluarkan segenap perasaannya.
“yakin kamu mau melakukan ini? Tanyaku lagi. Dan Sinta hanya menyunggingkan senyum pertanda mengiyakan, akupun memeluknya dengan erat dan memberikan kecupan mesra dibibirnya yang mungil.

Dia pun memepererat pelukannya, tampak kalau dia benar benar ingin menikmati suasana.

“kita cari tempat yang aman yuk” ajakku, yang dibalas dengan cubitan kecil di pinggangku. Aku starter mobil ke arah penginapan terdekat.

Aku pilih kamar yang cukup luas dan nyaman, kesan pertama harus menggoda. Sinta duduk dipinggiran bed dengan wajah sayu. Setelah membayar sewa kamar short time kepada penjaga, aku mengunci pintu. Kudekati Sinta perlahan.

“kalau nggak yakin sebaiknya jangan dipaksakan, gak apa apa kok” aku mencoba buka pembicaraan sambil berjongkok didepannya.

Aku pegang kedua tangannya dengan lembut. Aku yakin dia perlu sentuhan kelembutan saat ini. Sinta menarik nafas …

“aku sangat yakin” katanya, tangan lembutnya mengusap pipiku.
“sudah lama aku ingin melakukan ini, bukan hanya karena dendam kepada suamiku de, tapi juga karena aku merasa butuh orang yang peduli padaku. Selama ini suamiku menyia-nyiakan aku, aku butuh kasih sayang de, aku butuh bercinta dengan nyaman, aku butuh kamu” katanya dengan mimik serius.

Agak kaget juga aku mendengarnya.

“aku juga sudah lama memperhatikan kamu ris, pertamanya karena kasihan dengan keadaanmu, tapi kemudian aku merasa menyayangimu” kulemparkan rayuan gombalku.
“aku tahu kamu memperhatikankan aku, itu sebabnya pilihanku jatuh pada kamu de” dia mulai mendesah aku sudah sampai dilehernya. Kunikmati bulu bulu halus ditengkuknya dengan bibirku.

Aku berpindah ke tempat tidur, duduk dibelakang Sinta. Tanganku memeluk pinggangnya, sungguh pinggang yang ramping, aku tidak merasakan ada lemak disana sementara bibirku melanjutkan menelusuri leher Sinta sampai ke belakang telinga, jilatan kecilku membuat Sinta mendesah panjang. Tangan Sinta mulai menyetir tanganku dan mengarahkannya ke buah dadanya, tidak kusia-siakan akupun meremas dengan lembut.

Aku benar benar ingin menikmatinya sepenuh hati, kembali desahan halus keluar dari bibir Sinta membuatku tambah bergairah. Beberapa kali remasan cukup membuatku penasaran ingin segera menyaksikan buah dada yang selama ini hanya kulihat belahannya saja. Kubuka kancing bajunya satu persatu dibantu tangan Sinta yang juga cekatan melanjutkan sampai pakaiannya terlepas, kembali remasan halus kuberikan pada buah dadanya. Terasa lebih mantap tanpa baju dan aku bisa menyaksikan belahan dada yang mulus didepanku. Tidak terlalu besar tapi menggelembung padat seperti mau lepas dari penyangga bra nya. Tanganu menyelinap ke punggung Sinta hendak mencari kaitan tapi segera ditahan Sinta. Malah dia membimbing tanganku kearah depan, rupanya kaitannya ada didepan.

Dia menoleh kebelakang dan tersenyum, langsung saja kulumat senyumannya yang dibalas Sinta dengan cepat . tanganku langsung membuka kaitan bra-nya Sinta, yang terpampang sekarang adalah pemandangan yang luar biasa, aku tertegun beberapa saat sebelum melanjutkan remasan remasanku. Kali ini bukan hanya desahan yang kudengar tapi juga gerakan tubuh Sinta yang meliuk lik setiap kali tangan ku meremas.

“sayang… kamu lembut sekali…
“bisiknya “kamu suka?” tanyaku
“ya sayang aku suka sekali… perlakukan aku dengan lembut sayang”
“tentu… tubuh seindah kamu sayang untuk dikasari” ujarku sambil pindah posisi. Kali ini aku turun dari tempat tidur, kuangkat tubuh Sinta keatas tempat tidur seperti menidurkan bayi, tangan Sintapun melingkar dileherku.

Kali ini posisi Sinta dalam keadaan telentak siap untuk disantap. Perlahan kudaratkan ciuman mulai dari keningnya, terus turun ke ujung hidung, kemudian melumat sebentar pada bibirnya, meluncur lagi turun ke leher, sapai berhenti diantara belahan payudayanya yang hangat. Kubiarkan saja payudara itu terlepas dan kupermainkan dengan jilatan bergantian kiri dan kanan, sementara tanganku bersiap melucuti celana jean yang dikenakannya.

Dengan bantuan kaki Sinta yang sangat kooperatif maka terlepaslah celana itu berikut cd-nya. Aku berdiri mematung menikmati tubuh indah tanpa busana didepanku. Yang selama ini hanya terjadi didalam mimpiku kini nyata. Sinta tersenyum sangat manis, tahu kalau mataku sedang menikmati pemandangan tubuh indahnya. Kulanjutkan penelusuranku kearah perut, dengan beberapa jilatan pada udelnya mulutku langsung meluncur keselangkangan Sinta.

Yang terjadi kemudian adalah Sinta mengangkat pinggulnya seakan hendak menyuguhi mulutku dengan memeknya. Bau kahas wanita sudah kucium bercampur dengan farfum yang dipakai Sinta. Ketika lidahku mulai membelah bibir memeknya, terdengar rintihan panjang….

“De… hibur aku sayang…. Puaskan aku…. Aku ingin lepas….. “ Aku mulai menjilati bibir memek Sinta, tangan satunya sibuk meremas payudara dan yang satunya membantu membuka paha Sinta sehingga aku leluasa untuk menikmati memek Sinta.

Sembulan kecil merah kulahap dengan nikmat diiringi deru nafas Sinta yang semakin memburu. Sodokan lidahku mulai masuk ke lubang sempit memeknya beberapa kali ku ulangi antara jilatan, hisapan dan sodokan disana membuat posisi Sinta jadi berubah tak karuan sprei pun sudah telepas akibat ditarik dengan hebat oleh Sinta. Sampai akhirnya dia menghentikan gerakanku.

“sayang berhenti sebentar… “ katanya sambil menahan kepalaku
“kenapa?” tanyaku
“aku sudah tidak kuat, aku mau meledak”
“gak apa apa… lepaskan saja”
“gak ah… aku mau menikatinya bersama sama, kamu bahkan belum buka pakaian” katanya.

Aku baru sadar kalo aku masih berpakaian utuh sementara Sinta sudah telanjang bulat. Kembali Sinta duduk ditepi ranjang dan Aku pun berdiri dan membuka kancing bajuku. Rupanya Sinta cukup kreatif, melihat kesibukanku membuka kancing baju dia pun berinisiatif membukakan kancing dan resleting celanaku. Baju kulempar begitu saja kelantai sementara celana kuplorotkan sampai lepas dengan kakiku. Tinggal cd-ku saja yang membungkus k0ntol ku yang sudah tegang dari tadi. Sinta memegang k0ntolku dari luar cd dan perlahan meremasnya.

Tanpa menunggu perintah dia pun meloloskan k0ntolku dari cd-ku. Tampak si boy mengacung tepat kea rah mulut Sinta. Dielusnya perlahan, diciumnya dari pangkal sampai keujung sampai kemudian di masukkannya kedalam mulutnya. Aku membereskan melepas cd-ku sambil menikmati hisapan lembut bibir Sinta pada k0ntolku. Hanya sebentar tapi cukup membuatku merinding sampai akhirnya Sinta memohon untuk pertarungan yang sebenarnya. Dia telentang pasrah di tempat tidur dan aku bersiap memasukkan k0ntolku kedalam memeknya. Dengan bantuan tangannya yang membimbing k0ntolku kuarahkan si boy ke lubang kenikmatan Sinta.

“aduh sayang … pelan pelan ya… agak sakit” katanya
“ya sayang … kayaknya lubangnya kekecilan” kataku pula.

Aku tidak jadi menusukkan siboy tapi aku gesek gesekan sebentar pada bibir memeknya Sinta. Akupun mencoba melumat bibir nya untuk menambah sensasi.. Sinta paham benar cara menaikkan nafsu. Dia mengimbangi gesekan kepala k0ntolku.

“masukkin sayang … aku sudah siap” katanya lagi.

Dan siboy dibimbingnya masuk kelubang kenikmatannya. Perlahan tapi pasti si boy menyusup diantara kehangatan memek Sinta yang telah basah. Kulihat dia menggigit bibirnya sendiri sampai kemudian dia berteriak keras ketika seluruh k0ntolku berhasil masuk ke memeknya.

“ooooh ssaaayaanng …… enakk sekali …… oooohhhhh….ssssssshhhhh genjot sayang… uuh terus” dan entah apalagi katakata yang keluar dari bibirnya.

Dia meracau dan mendesah tanpa henti dan tubuhnya pun tidak berhenti meliuk, mengangkat pinggul….. Cuma 5 menit…

“aku mau keluar … aku gak tahan… “ teriaknya
“keluarin aja sayang… nikmati harimu… lepaskan bebanmu “ aku member dorongan.

Dan yang terjadi kemudian …. Tubuh Sinta bergetar, k0ntolku rasanya seperti dijepit….. dan dia mengangkat pinggulnya tinggi tinggi kemudian menghempaskannya begitu saja ke ranjang ….. tidak ada suara beberapa saat sekitar 10 detik yang kurasakan hanya denyutan denyutan pada memek Sinta. Kemudian..

“aaahhhhhhhhhhhhhhhhhhh……….” Desahan yang sangat panjang sambil memelukku erat.

Kubiarkan saja begitu beberapa lama sambil mengatur nafas untuk sesi berikutnya.

“terima kasih sayang, aku belum pernah merasakan yang seperti ini dari suamiku. Sekarang aku sangat yakin aku tidak menyesal melakukan ini. Aku mendapat lebih daripada apa yang bisa diberikan suamiku” celotehnya kemudian, terdengar seperti kata kata balas dendam.
“suamimu saja yang tidak bisa menikmati kamu. Kamu sangat luar biasa”pujiku pula.

Sinta tersenyum.

“maaf ya aku duluan keluar, udah gak tahan banget” katanya
“gak apa apa, khan masih bias dilanjutkan”
“tentu saja… aku akan layani kamu sampai puas malam ini” Maka berlanjutlah pertarungan kami, Sinta keluar untuk kedua kalinya disaat aku hampir sampai, dan itu memberiku kesempatan untuk mengatur rithme permainanku dan melanjutkan ke tahap berikutnya.

Aku menyudahi permainan ketika Sinta menjerit untuk ketigakalinya, dan saat itu dorongan lahar dari k0ntolku juga tak tertahankan, akhirnya aku semburkan begitusaja dalam memek Sinta. Tampaknya dia juga tidak keberatan. Kami beristirahat sambil berpelukan dengan k0ntol masih menancap.

Related Post