cerita dewasa

Cerita Sex Pacarku dan Aku Di Hari Itu

Aku mengerutkan kening, kemudian menggelengkan kepala.

Kalo yang ini?, kini baju kaos tanpa lengan yang tadinya dipegang oleh si gadis berganti dengan sebuah blouse bercorak bungabunga.
Hhmmm, kembali tanpa kata aku menggelengkan kepala.
Nah yang ini keren nih!, kembali baju yang dipegangnya berganti untuk kesekian kalinya.

Entah ini pakaian yang keberapa yang di ambilnya, namun terpaksa jawaban yang bisa aku berikan masih tetap sama. Sebuah gelengan kepala. Cerita Ngentot

Coba yang disana yuk!.
Uuuhhhh!, aku pun kembali harus menghela nafas panjang, karena semua ini ternyata masih belum juga berakhir.

Gadis cantik itu pun melesat cepat meninggalkan diriku yang berjalan gontai dibelakangnya.

Oya, gadis cantik itu adalah Dina. Seorang gadis ABG yang baru 2 bulan ini aku pacari. Ya seperti layaknya gadisgadis muda seumurannya, Dina termasuk lincah dan supel, sehingga kadang aku cukup kerepotan mengikuti gerak langkahnya. Beberapa hari yang lalu Dina baru merayakan sweet seventeennya.

Umur kami memang berselisih cukup jauh, sehingga dunia remaja Dina sudah cukup lama aku lewati. Namun kelincahan Dinalah yang membuatku tertarik kepadanya, karena ia seakanakan mampu membuat jiwa mudaku kembali bergejolak. Sedangkan siapakah aku? Aku kira itu sama sekali tidak penting untuk aku beritahukan.

Saat ini kami berada di sebuah shopping mall. Entah sudah berapa lama kami berputarputar di tempat ini dan juga entah berapa puluh kilometer yang telah kami lalui, namun yang jelas sudah cukup lama dan cukup jauh untuk membuat seluruh urat kakiku terasa keram.

Sedangkan lihat saja Dina, ketika tenagaku saat ini hanya tersisa beberapa persen lagi, gadis cantik itu masih saja tetap bersemangat dan sama sekali tidak terlihat kehilangan tenaga barang satu persen pun. Ya sudahlah, bukankah kata orang cinta itu butuh pengorbanan? Jadi marilah sedikit berpikir positif, kalau rasa pegal di sekujur tubuhku ini adalah salah satu bentuk pengorbananku untuk cinta.

Kalo yang ini bagus nggak Tom?, kembali aku harus menghadapi pertanyaan yang sama.

Aku pun mencoba untuk merubah jawabanku, berusaha untuk sekedar mengganti suasana.

Nah, itu bagus!.
Hhhmm:, Dina memperhatikan baju model kemeja berwarna hitam yang dipegangnya.
Nggak ah, jelek!.
Gubrak!, kalau ujungujungnya jawabanku akan menjadi tidak berarti seperti ini, lalu kenapa ia harus terus menerus meminta pendapatku.
Sabar Tom sabar, sebuah nasehat bijak dariku untuk diriku sendiri.
Nah ini baru keren!, Dina berteriak kegirangan seperti baru saja menemukan sebongkah emas dibalik tumbukan pakaian. Lucu ya Tom?.

Aku pun hanya bisa mengangguk, toh saat ini jelasjelas bukan aku yang memegang kendali untuk menentukan sebuah keputusan.

Coba yuk!, Dina kembali langsung melesat cepat, tanpa peduli kalau kini aku masih belum beranjak dari tempatku berdiri.
Tom, ayo dong!.
Oh my God, thanks! Ternyata pacarku ini masih ingat keberadaanku.

Aku pun melangkahkan kakiku mendekati Dina yang kini masih nampak berdiri di depan fitting room. Baru beberapa langkah aku berjalan, pacarku itu sudah terlihat masuk ke dalam fitting room. Nah loh, sesampainya di depan fitting room justru aku menjadi kebingungan harus melakukan apa.

Masa aku harus berdiri di depan fitting room seperti ini? Emang diriku ini satpam? Belum hilang rasa kikukku aku sempat Dinahat beberapa orang SPG yang beberapa meter dariku bergunjing sambil beberapa kali Dinarik ke arahku. Aku pun semakin kikuk dibuatnya. Janganjangan mereka berpikir kalau aku adalah seorang penjahat kelamin yang saat ini sedang mengincar mangsa di depan fitting room.

Oh tidak!.

Beruntung beberapa menit kemudian seorang wanita ditemani oleh seorang lakilaki paruh baya bertubuh tambun datang. Nampaknya lakilaki tersebut adalah suami dari si wanita. Dari gelakatnya nampaknya pasangan tersebut adalah pasangan baru, karena mereka sama sekali tidak menggandeng anak.

Selain itu usia mereka pun nampak tidak terlalu tua. Wanita paruh baya itu pun lalu segera masuk ke dalam fitting room, sementara suaminya menunggu di luar. Kini paling tidak aku tidak sendirian dalam kebingungan, pikirku. Aku melempar senyum ke arah lakilaki tersebut dan lakilaki tambun itu segera membalasnya.

Ssttttt Tom, masuk gih!, tibatiba Dina mendongakkan kepalanya dari dalam fitting room.

Aku pun langsung tersenyum kecil mendengar ajakan pacarku itu. Nah yang ini gue demen nih! Hehehe.

Lalu aku pun bergegas masuk ke dalam. Di dalam fitting room aku Dinahat Dina terbalut busana terusan berwarna ungu. Pakaian tersebut benarbenar indah melekat di tubuh Dina, membuatnya nampak begitu feminim dan terkesan lebih dewasa dari umurnya.

Oh my God, shes so hot!, seruku dalam hati.
Bagus nggak?.
Baguussss bangeet!, jawabku tanpa perlu berpikir panjang lagi.
Beli gih!.
Nggak ada duit.
Aduh!, aku berteriak dalam hati.

Agaknya aku tahu apa kirakira kalimat berikutnya yang akan segera menyusul keluar dari mulut mungil pacarku ini.

Beliin ya?, nada suara memelas pun terdengar lirih. Dengan manja Dina kemudian bergelayut di pundakku.
Tuh kan! Nggak jauhjauh deh, runtukku dalam hati.
Ya Tom ya?.
Emang harganya berapa?.
315 ribu, tapi ada diskon kok.
Gubrak!, rasanya aku ingin tersungkur dengan sukses mendengar harga yang disebutkan Dina.
Bagus sih bagus tapi kalau harganya segitu sih sama aja bikin gue bokek, kembali aku meruntuk dalam hati.
Tom, kembali Dina memelas, kali ini dilengkapi dengan ekspresi penuh harap di wajahnya.
Ya deh, tapi satu ini aja ya jangan nambah lagi, bertambah deh satu lagi bentuk pengorbananku untuk cinta.

Senyum paling manis yang pernah aku lihat pun langsung tersungging di bibir Dina, Thanks ya Tom!. Dan sedetik kemudian sebuah kecupan mendarat di pipiku.

Kok pipi sih? Di sini dong hehehe, aku menunjuk bibirku.
Nggak ah!, ekspresi wajah Dina langsung sedikit memerah.
Ayo dong, ntar nggak jadi aku beliin lo.

Kening pacarku itu pun langsung berkerut. Tomi jahat!.

Makanya cium dulu.

Entah berpikir atau memang malumalu, Dina cukup lama memerlukan waktu sebelum akhirnya bibir lembutnya menyentuh bibirku.

Nah gitu dong hehehe.
Jadi beli ya?.
Iya.

Kemudian Dina kembali bergaya di depan kaca. gadis cantik itu berputarputar seolaholah memastikan kalau pakaian yang dikenakannya saat ini benarbenar cocok di tubuhnya. Sekilas aku Dinahat ke arah gantungan pakaian pada fitting room tersebut. Disana tergantung tank top dan celana pendek yang tadi dikenakan Dina. Tak hanya itu, disana juga tergantung sebuah bra berwarna putih.

Oh, rupanya sekarang pacarku ini tidak mengenakan bra?, seruku dalam hati.

Mataku pun kemudian tak lepas dari pergerakan tubuh Dina, terutama terfokus di wilayah dadanya. Walaupun ukuran dada pacarku ini tidak terlalu besar namun cukup terlihat menonjol ketika ia mengenakan pakaianpakaian ketat. Memang dada itu baru pernah aku sentuh dari balik bajunya karena Dina memang baru memberikan ijin sebatas itu. Namun ketika aku menyentuhnya, dada tersebut terasa cukup padat di genggamanku. Otak kotorku pun langsung berkomplikasi dengan sesuatu di balik celana jeansku.

Kok Tomi masih disini?.
Emang harusnya di mana?, cukup heran juga aku mendengar katakata pacarku ini.
Kan Dina mau ganti baju?.
Nggak apaapa ganti aja, kan yang liat cuma Tomi?.
Enak aja nggak mau, Tomi keluar dulu!.

Aku berusaha tetap bertahan, namun Dina terus mendorongdorong tubuhku agar segera keluar. Akhirnya aku pun memilih untuk mengalah dan keluar dari fitting room untuk menghentikan aksi dorong mendorong tersebut.

Deam gagal lagi deh ngeliat bodi cewek gue, runtukku dalam hati.

Namun tibatiba saja sebuah kilasan ide jahat muncul di otak mesumku. Mungkin inilah yang disebut dengan istilah ketika nafsu sudah berbicara, maka setan pun dengan sukarela akan memberi jalan. Aku pun lalu kembali membalikkan tubuh.

Din!.
Iya, terdengar suara pacarku dari dalam fitting room.

Aku lalu menyibak tirai penutup fitting room tersebut dan mendongakkan kepalaku ke dalam. Di dalam aku masih Dinahat Dina belum membuka pakaiannya.

Jangan lamalama ya.
Oh iya.

Aku pun kemudian menarik kepalaku kembali. Namun tanpa disadari Dina, tanganku dengan cekatan sedikit menarik tirai sehingga memberikan celah terbuka beberapa sentimeter.

Hhhmm segini rasanya sudah cukup lebar, bisikku dalam hati.

Kemudian aku Dinahat sekeliling. Tak tampak lagi lakilaki tambun yang tadi berdiri bersamaku. Mungkin istrinya sudah selesai mencoba pakaian yang hendak dibelinya. Kemudian kembali aku menyapu pandangaku ke sekeliling. Aku pun tidak Dinahat ada orang di areal beberapa meter dari fitting room tersebut. Memang hari ini masih siang dan masih dalam waktu jam kerja sehingga suasana mall tersebut tidak seramai ketika sore mulai menjelang.

Hhhmm aman!, teriakku dalam hati.

Aku pun kemudian berjalan menjauh beberapa meter dari fitting room tersebut. Sambil berpurapura Dinahat pakaianpakaian yang tergantung, sesekali aku Dinahat ke arah celah tirai yang aku buat di fitting room tempat Dina berada. Rencanaku pun berjalan lancar. Dari tempatku berdiri aku bisa Dinahat dengan jelas di dalam fitting room Dina masih memperhatikan pakaian yang dikenakannya di depan kaca. Pacarku itu nampaknya tidak menyadari adanya celah yang aku buat. Senyum mesum langsung tersungging di bibirku.

Namun rencanaku langsung kacau ketika pasangan suami istri yang tadi sempat aku temui di depan fitting room kembali lagi. Kali ini mungkin istri lakilaki bertubuh tambun itu masih ingin mencoba beberapa potong pakaian lagi. Yang aku takutkan pun terjadi, ketika wanita tersebut masuk ke dalam fitting room di sebelah tempat Dina berada, sang suami kembali berdiri di luar dan tidak ikut masuk. Beberapa saat kemudian aku Dinahat lakilaki paruh baya tersebut menatap ke arah fitting room tempat pacarku berada, mungkin ia menyadari adanya celah kecil pada tirai. Parahnya lagi saat itu bertepatan ketika Dina sedang mulai menurunkan tali terusan yang dikenakan dari pundaknya.

Oh tidak! Din jangan buka baju dulu, teriakku dalam hati.

Dari tempatku berdiri aku bisa Dinahat kalau lakilaki tambun itu mulai menoleh ke kanan dan ke kiri, seolaholah ingin memastikan tidak ada orang lagi disana selain dirinya. Lakilaki itu tidak menyadari keberadaanku yang kini sedang memperhatikan gerakgeriknya.

Aku sebenarnya ingin segera menutup celah yang aku buat, namun justru disaat yang sama keinginanku itu bertolak belakang dengan keinginanku untuk Dinahat tubuh telanjang pacarku. Apalagi ketika Dinahat terusan ungu yang dikenakan Dina melorot turun, kedua kakiku langsung terasa kaku. Kini tidak hanya aku, lakilaki tambun itu pun juga erlihat terpaku Dinahat tubuh sintal seorang gadis belia yang hanya terbalut sebuah celana dalam mini berwarna merah muda. Saking mininya kain mungil tersebut, mengakibatkan belahan pantat Dina menjadi terekspos dengan jelas. Begitu montok, padat dan menggiurkan.

Dari pantulan kaca, aku juga bisa Dinahat payudara Dina terlihat menggunung dengan puting kecil berwarna coklat di tengahnya. Ternyata benar pacarku itu tidak mengenakan bra. Ini memang pertama kali aku Dinahat bukit kembar gadis cantik tersebut dengan mata kepalaku sendiri. Pemandangan tersebut bertambah indah ketika aku Dinarik ke arah selangkangan Dina yang terlihat menonjol. Otak mesumku seakanakan bisa membayangkan dengan jelas sebuah memek segar seorang gadis belia pastilah bersembuyi di balik kain mungil tersebut. Sebuah memek yang ranum dan mungkin sama sekali belum tersentuh oleh tangantangan jahil.

Ooohhhhh!, aku mendesah kecil sambil berlahan meremas pelan selangkanganku.

Aku bisa Dinahat lakilaki tambun tersebut juga melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan saat ini.

Ya ampun apa yang telah aku lakukan? Aku baru saja mempertontonkan tubuh indah pacarku, teriakku dalam hati.

Walau terbersit sedikit penyesalan , namun aku sendiri tidak mampu menghentikannya karena saat ini aku juga justru menikmatinya. Dinahat langsung tubuh sintal Dina yang hanya terbalut celana dalam mini, sedangkan disaat yang sama aku mengetahui kalau ada orang lain yang juga menikmati pemandangan tersebut justru membuat nafsu birahiku kian bergejolak. Apakah ini berarti aku memiliki kelainan seksual? Aku tidak peduli, yang jelas aku sangat menikmati sensasi yang kini menjalar di sekujur tubuhku.

Di dalam fitting room, Dina terlihat menggantungkan terusan ungu tersebut di gantungan dan lalu mengambil branya. Saat Dina mulai mengenakan branya, saatsaat itu benarbenar menjadi sebuah momen yang eksotis untuk dilihat. Apalagi ketika saat pacarku itu mengaitkan tali dan kemudian mengatur letak posisi cup branya benarbenar membuatku merinding. Sekujur tubuhku kini terasa bergetar hebat, sehingga aku harus semakin kencang meremasremas selangkanganku sendiri.

Ketika Dina hendak memakai celana pendeknya, aku Dinahat tirai fitting room di sebelah terkuak. Wanita paruh baya yang ada di dalamnya beranjak keluar. Lakilaki tambun tersebut terlihat kikuk ketika wanita itu mengajaknya berbicara. Kemudian aku Dinahat wanita membalikkan badan dan mulai berjalan meninggalkan fitting room. Setelah wanita tersebut membalikkan tubuhnya, sempat aku Dinahat lakilaki tambun itu Dinarik ke dalam fitting room Dina.

Ketika itu pacarku sudah selesai memakai celana pendeknya namun belum sempat memakai tank topnya. Lakilaki tambun itu pun sempat menikmati tubuh atas Dina yang hanya terbalut bra berwarna putih. Lalu lakilaki itu pun melangkah pergi sambil agak mengatur posisi sesuatu yang ada diselangkangannya yang kini nampak menggelembung.

Dinahat Dina yang telah selesai berpakaian dan kini sedang merapikan diri di depan kaca, tidak mampu membuat nafsuku yang kini tengah bergejolak menjadi menurun. Keringat dingin mulai membasahi keningku. Deam!, runtukku pelan ketika Dinahat selangkanganku masih tetap menggelembung walaupun aku sudah merusaha mengalihkan pikiranku.

Di kejauhan aku Dinahat Dina sudah keluar dari fitting room dan menyapu pandangannya ke sekeliling. Dengan susah payah akibat ganjalan di selangkanganku, aku pun berjalan menuju kearahnya. Gadis cantik itu terlihat tersenyum tanpa tahu kalau dirinya baru saja memberikan tontonan eksotis untuk dua orang lakilaki.

Tom, jadi beli yang ini ya?, seolah Dina ingin kembali memastikan persetujuanku di awal tadi.
Ya jadi dong.
Oh my God!, aku berteriak dalam hati ketika Dinahat Dina kembali tersenyum.

Pandanganku terhadap gadis cantik yang kini berdiri di hadapanku telah berubah. Pandanganku tidaklah lagi sebuah pandangan mata seorang lakilaki terhadap seorang gadis muda, imut dan cantik. Pandanganku kini telah berubah menjadi sebuah pandangan seorang lakilaki terhadap seorang gadis belia yang begitu terlihat ranum dan menggiurkan. Walaupun saat ini Dina sudah berpakaian lengkap, namun pandangan mataku masih berbayangbayang seorang gadis muda yang beberapa menit yang lalu terlihat hanya terbalut sebuah celana dalam mini.

Ada apa sih?, mungkin Dina menangkap sesuatu yang aneh pada tatapanku.
Eh, nggak ada apaapa kok!, aku mencoba mengusir pikiran kotorku dari dalam otak.
Tomi, marah ya Dina nyuruh bayarin baju ini?.
Bukan bukan gitu!, aku pun menggelengkan kepala sambil menggerakkan tangan kananku.
Nggak marah kok, cu cuma takut mama Dina ntar nyariin lagi, abis kita kan keluarnya udah lama banget, ucapku mencaricari alasan.
Iya juga ya.
Makanya sekarang langsung ke kasir yuk, aku pun menggandeng tangan Dina.

Gadis cantik itu pun dengan polosnya mengikuti tarikan tanganku. Ya ampun masih lugu banget sih ini anak, ampe nggak sadar kalau pacarnya ini sudah bertransformasi menjadi seekor serigala yang siap menerkam mangsanya kapan saja, pikirku.

Yang jelas sampai saat kami selesai melakukan transaksi di kasir, di kepalaku masih dipenuhi pikiranpikiran kotor terhadap Dina dan selangkanganku masih menegang dengan mantapnya.

Di belakang kemudi, aku kian salah tingkah. Selangkanganku tidak juga mengendur, justru semakin menegang hebat ketika aku bergantian menggerakkan kaki menginjak rem dan kopling. Sedangkan di sampingku Dina dengan semangatnya bercerita kapan ia akan menggunakan baju yang baru aku belikan tadi.

Ia juga terus meyakinkan diriku kalau temantemannya pasti akan sangat iri Dinahatnya mengenakan pakaian tersebut. Aku sendiri semakin kesulitan membagi konsentrasi antara menyetir, mendengarkan cerita Dina dan menahan nafsu yang kini sedang membumbung tinggi. Sadar kalau mengemudi dengan keadaan seperti ini akan sangat berbahaya, aku pun kemudian memutuskan untuk menepikan mobil di pinggir jalan.

Lo kok berhenti Tom?.
Hhmm hhmm, aku hanya berdehem tak menentu.

Aku juga bingung bagaimana caranya mengatakan kepada gadis cantik ini kalau saat ini gairah birahiku sedang bergejolak.

Tom?.
Eh, iya.
Kok berhenti?, Dina mengulang pertanyaannya.
Hhmm gini Din, aku terdiam sejenak mencoba mencari katakata yang tepat.

Sedangkan Dina masih terlihat menatap diriku penuh keheranan.

Tomi lagi pengen nih Din, ciuman yuk!, tanpa sadar katakata itu meluncur begitu saja dari dalam mulutku.

Dina nampak sedikit tersentak. Aku yakin gadis cantik itu mengerti benar maksudku dengan kata pengen dan ciuman yang aku ucapkan tadi. Bagi kami kata ciuman memang memiliki padanan kata yang sama maknanya dengan kata bercinta. Memang sampai saat ini aktifitas seksual yang kami lakukan baru sebatas ciuman sambil sedikit melakukan rabaanrabaan.

Terus terang sebagai seorang lakilaki yang sudah pernah merasakan penetrasi sebelumnya, sebatas ciuman dan rabaan tentunya tidaklah cukup sebagai penyalur birahi. Namun aku sendiri memang tidak berniat untuk terburuburu dalam mengajarkan Dina tentang aktifitas seksual orang dewasa. Biarkanlah semuanya mengalir seperti adanya, setahap demi setahap, itulah prinsipku.

Di sini?, ucap Dina ragu.
Iya, di sini?.
Ntar ada orang gimana?.
Nggak ada orang kok, tuh liat sepi kan?, aku berusaha meyakinkan Dina.
Tapi, suara Dina terputus. Gadis cantik itu masih berusaha menolak ajakanku untuk berciuman.

Mungkin ia merasa risih untuk melakukannya di tempat terbuka seperti ini, di siang hari pula.

Ayo dong Din, bentar aja, bujukku lagi.
Tapi Tom, hanya itu yang kembali keluar dari mulut mungilnya.
Ayo dong, aku pun merangkul pundaknya dan mendekatkan wajahnya ke wajahku.

Akhirnya bibir kami pun beradu. Aku langsung melumat pelan bibir mungil Dina. Bibir itu terasa begitu lembut dan begitu natural, tidak seperti bibir wanitawanita yang pernah aku kencani yang umumnya selalu tertutupi lipstik ataupun lipgloss. Berkencan dengan gadis muda seperti Dina memang memberikan tantangan tersendiri bagi diriku.

Sambil berciuman lidahku mulai nakal membuka katupan bibir Dina, mencoba mencari celah untuk masuk ke dalam mulut mungil tersebut. Seperti biasa setiap kali berciuman Dina selalu menutup matanya. Entah apa maksudnya, mungkin ini adalah caranya untuk bisa lebih menikmati pagutan bibirku di bibirnya. Lidahku akhirnya menemukan celah dan kemudian berhasil masuk ke dalam mulut Dina.

Hhhmm, hanya desahan tertahan yang terdengar ketika lidah kami saling beradu.

Lidahku kini dengan benasnya menarinari di dalam mulut gadis cantik tersebut. Dari bahasa tubuhnya kelihatannya Dina menyukai aksi lidahku tersebut. Desahan pelan juga terlihat ketika aku mulai merabai payudaranya dari balik tank top. Atas perbuatanku ini Dina sama sekali tidak memberikan penolakan. Kini kedua payudara padat itu pun sudah sepenuhnya berada di dalam genggaman tanganku.

Dinahat Dina mulai terbuai dengan suasana, tanganku mulai nakal mencoba masuk ke balik kaos yang dikenakannya. Sedikit demi sedikit tanganku mulai bisa menyentuh permukaan perut Dina dan terus naik ke atas sehingga jarijariku pun berhasil menyentuh branya. Sambil masih berciuman, dengan berlahan aku mencoba menggeser cup bra tersebut dan berhasil! Cup bra itu bergeser dari posisinya semula.

Aaah Tom, Dina hanya mendesah di telingaku ketika aku mencium lehernya dan memilin halus puting payudaranya.

Diamdiam ternyata rupanya Dina menikmati benar aksiaksiku di tubuhnya. Desahandesahan kecil dan kepasrahan dirinya benarbenar menggambarkan hal tersebut.

Enak Din?, bisikku di telinganya.
Hhhmm, kembali ia hanya mendesah sambil menganggukkan sedikit kepalanya.

Tanganku pun semakin berani memainkan dan meremasremas payudara padat milik Dina sambil tetap berpagutan. Ini adalah pertama kali aku berhasil menyentuh langsung kedua payudara pacarku ini. Rupanya buaian rasa nikmat membuat Dina lupa melarangku memasukkan tanganku ke balik pakaiannya seperti yang biasa ia lakukan.

Seandainya saja aku bisa Dinahat langsung payudara Dina sambil meremasremasnya, tentu akan terasa lebih nikmat. Namun kedua tangan Dina yang kini memeluk tubuhku erat membuat mataku sulit untuk Dinarik. Oh, ingin sekali aku Dinahat bukit kembar gadis belia ini dari dekat.

Maka dengan sedikit daya upaya aku kembali mengalihkan ciumanku menuju ke lehernya. Aku sempat Dinarik ke arah Dina dan Dinahat kepala gadis cantik itu mendongak dengan mata terpejam. Aku pun terus menjilati leher Dina sambil tanganku pelanpelan semakin menaikkan ujung tank top yang dikenakan Dina. Kini entah disadari atau tidak oleh Dina, ciumanku kini sudah mendarat di permukaan payudaranya.

Benarbenar lembut dan padat, sebuah payudara gadis belia yang masih polos, seruku dalam hati ketika berlahan akhirnya aku bisa Dinahat langsung payudara Dina dan mengulum puting kecilnya.

Aaah Tom, ucap Dina pelan.

Aku pun melepaskan kulumanku. Kenapa?.

Geli aaah.
Iya tahan dikit, ntar enak kok.

Kembali aku melanjutkan kulumanku dan kali ini disertai cupangan.

Aduh!.
Sakit?, kembali aku harus melepaskan payudara putih, mulus dan padat tersebut.

Dina hanya mengangguk kecil sambil memandang wajahku dengan sayu.

Tahan ya, Dina sayang Tomi kan?.

Kembali Dina mengangguk. iya.

Dina, nggak marah kan kalo dadanya dimainin ama Tomi?, rayuku.

Dina menggeleng.

Kulumanku di payudara gadis cantik tersebut kembali berlanjut. Kali ini jilatan, kuluman dan cupanganku terus diringi dengan desahan dan teriakan kecil dari sang pemilik. Namun gadis belia itu nampak pasrah tanpa perlawanan membiarkan aksiaksi nakalku di payudaranya.

Din, ke belakang yuk.

Aku sengaja mengajak Dina ke bangku belakang karena ketika aku melakukan aksiaksiku tadi, perseneling mobilku terasa teramat sangat mengganggu. Sekilas Dina Dinahat situasi di luar mobil. Dari ekspresi wajahnya terlihat sekali kalau ia masih ragu untuk melanjutkan aksi gila kami ini. Memang siang itu suasana disekitar kami terlihat sepi, namun memang beberapa kali terlihat motor ataupun mobil lewat di depan kami.

Eh jangan dirapiin dulu, ucapku ketika Dinahat Dina hendak merapikan letak branya di balik tank top.
Tom udahan ya, Dina takut.
Lagi bentar aja yuk Din, nanggung nih, bujukku sambil menarik pelan tangan gadis belia tersebut yang tadi masuk ke dalam tank top.
Ntar ada yang liat Tom, Dina kan malu.
Masih sepi kok, lagian kaca mobilnya kan gelap, nggak bakal keliatan kok dari luar, aku terus berusaha meyakinkan pacarku tersebut untuk mau melanjutkan permainan kami yang terputus.
Di rumah aja ya.
Di rumah kan ada mamanya Dina?.

Dina pun terdiam. Ekspresi wajahnya memang menunjukkan ketakutan, namun di wajah manis itu juga tersirat sebuah keinginan untuk melanjutkan permainan dan merengkuh kenikmatan.

Gini aja, ntar dilanjutin lagi sepuluh menit aja abis itu Tomi anter Dina pulang deh, gimana?.
Janji ya, bentar aja.
Janji!, aku membuat huruf V dengan jari tengah dan jari manisku dan menunjukkannya di hadapan Dina.

Setelah Dinahat sekali lagi situasi di luar mobil yang memang masih terlihat sepi, Dina pun berpindah ke bangku belakang. Aku pun kemudian menyusul gadis tersebut. Di bangku belakang dengan lembut aku memeluk Dina. Aku mencoba menenangkan gadis cantik itu sebelum melanjutkan aksiaksi nakalku terhadap tubuh ranumnya.

Dinahat Dina sudah mulai tenang kembali, aku berbisik kepadanya,

Lanjut yuk?.

Dina mengangguk.

Aku pun dengan segera kembali mendaratkan ciuman di bibir lembut Dina. Tanganku pun dengan tak kalah cepat kembali beraksi masuk ke dalam tank top yang dikenakan Dina. Aksi ciuman, permainan lidah ditambah remasan di payudaranya pun kembali berlanjut seperti di awal tadi.

Tak perlu waktu lama, payudara Dina pun kini kembali sepenuhnya berada di dalam kekuasaan lidah dan mulutku. Aku tahu benar aku harus bertindak cepat sebelum nantinya Dina kembali tersadar merengek minta pulang. Di bawah sana, tepat di daerah selangkangan batang kontolku terasa semakin menegang dan membesar. Aku tahu jika hanya melakukan permainan wilayah dada seperti ini, maka puncak permainan tidak akan pernah aku capai.

Aku lalu sedikit memberanikan diri untuk menyentuh paha dan kemudian berlahan tanganku naik menuju selangkangan Dina. Aku tahu benar Dina tidak akan menyetujui tindakanku ini, namun apa salahnya mencoba. Cukup lama aku merabaraba wilayah selangkangannya dan gadis cantik itu sama sekali belum menunjukkan penolakan. Mungkin ia masih terbuai akibat permainan lidah dan mulutku di payudaranya. Tanganku pun semakin nakal mencoba mencari akses masuk ke dalam celana pendek tersebut.

Tom, jangan!, aku cukup tersentak mendengar teriakan Dina.

Gadis itu langsung menepis tanganku yang hendak membuka kancing celana pendeknya. Rupanya akibat gerakan tanganku ia tersadar dari buaian gairah dan menyadari kalau aku mengincar apa yang ada di balik celana pendeknya.

Din, dikit aja ya, suaraku bergetar akibat menahan nafsu yang semakin meninggi.

Tanganku masih berusaha merambah kancing celana pendek Dina, walaupun gadis itu berusaha terus menahannya.

Nggak Tom, jangan yang bawah!.
Dikit aja Din, please.
Nggak boleh nggak boleh!.

Aku yang sudah berbakar birahi terus berusaha menepis tangan Dina yang menutup daerah selangkangannya. Sedang Dina jutru sebaliknya, dengan sekuat tenaga terus mempertahankan daerah kewanitaannya tersebut. Di dalam otakku kini kembali berseliweran bayangbayang mesum ketika aku Dinahat Dina melepaskan celananya di fitting room. Selain itu bayangbayang belahan pantat montok yang hanya terbalut celana dalam mini kian membuat nafsuku membumbung tinggi. Saking bernafsunya, entah setan dari mana yang membuatku tibatiba meremas kedua tangan Dina dan meDinantirnya dengan kasar.

Aaakkh sakiiit!, Dina berteriak kencang.

Aku pun langsung tersadar dari belenggu birahiku ketika Dinahat Dina meringis dan hampir menangis.

Din, maaf Din, aku langsung memeluk tubuh Dina.
Sakit Tomi jahat jahat!, Dina terdengar terisak di dalam pelukanku.
Maaf ya, Tomi benerbener nggak sengaja tadi, aku mengeluselus rambut dan pundak gadis cantik tersebut.

Dina masih terdengar terisak. Aku yang sebenarnya masih terbelenggu di dalam nafsu yang belum tersalurkan berusaha untuk menguasai diri. Sisi liar di dalam diriku sebenarnya ingin sekali memaksa Dina untuk melayani nafsu birahiku, namun sisi baikku sampai saat ini masih bisa menahanku untuk melakukan hal tersebut. Terpaksalah aku kembali harus menahan nafsu birahi yang kian detik kian meninggi, sejak kejadian di mall tadi.

Masih sakit Din?, bisikku pelan setelah mendengar isakan Dina sudah mulai berkurang.

Tidak terdengar jawaban dari Dina. Gadis cantik itu masih memeluk tubuhku dengan erat.

Din masih sakit?, kembali aku mengulang pertanyaanku.

Kali ini aku merasakan gelengan kepala Dina di pundakku.

Aku menarik nafas lega, paling tidak pacarku ini tidak apaapa akibat perbuatanku tadi. Tapi nafsu birahi yang masih tertahan membuat diriku benarbenar merasa tidak nyaman. Selangkanganku yang menggelembung membuatku kesusahan mengendalikan pikiranku sendiri agar tidak sampai mengulangi apa yang tadi aku lakukan kepada Dina. Akhirnya aku memilih untuk berkata jujur kepada Dina tentang apa yang aku rasakan saat ini.

Din, aku masih mengeluselus rambut panjangnya.
Iya, jawab Dina pelan.

Aku lalu mengangkat pundak Dina sehingga kini kami saling bertatapan.

Maaf ya tadi Tomi jadi kasar ama Dina.

Dina tidak menjawab ia hanya menatap mataku.

Tomi tadi kasar soalnya pengennya Tomi belum ilang sih.

Dina terlihat mengerutkan keningnya.

Dina inget kan sabtu kemarin Tomi bilang Tomi lagi pengen, trus Tomi ngeliatin Dina titit Tomi yang tegang?.

Gadis cantik di hadapanku itu mengangguk.

Nah sekarang titit Tomi juga lagi tegang kayak waktu itu.
Masa?, Dina Dinarik ke selangkanganku.
Iya, makanya tadi Tomi minta ciuman ama Dina.
Oooh, Dina hanya mendesah polos.

Aku lalu memegang kedua tangan gadis cantik tersebut. Dina mau nggak ngelakuin lagi yang Dina lakuin sabtu lalu?.

Ngelakuin apa?.
Ngocokin titit Tomi, mau ya?, nada suaraku aku buat sememelas mungkin.

Memang sabtu lalu untuk pertama kalinya aku mengajarkan Dina untuk melakukan oral sex. Karena saat itu adalah yang pertama bagi Dina maka pelayanan oral yang dilakukannya masih terasa sangat kaku dan tentunya tidak bisa membuatku muncrat di akhir layanan.

Sekarang? Di sini?.
Iya sekarang, di sini.
Tapi.

Mendengar perkataan Dina yang kembali terkesan hendak menolak, aku pun berusaha kembali meyakinkan pacarku ini.

Nggak apaapa kok ngocokin di sini, tangan Dina kan di bawah? Jadi nggak bakal ada yang tahu. Aku benarbenar berharap pacarku ini mau melakukannya, karena jika tidak aku akan semakin uringuringan akibat nafsu yang tak tersalurkan.

Mau ya Din, kembali aku memohon kepada Dina.

Aku sudah takut sekali kalau Dina akan menolak, namun ternyata tak disangka pacarku ini justru menganggukan kepalanya.

Bener nih mau?.
Iya, Dina kembali menganggukkan kepalanya dan setelah itu dengan cekatan ia melepaskan kancing celana jeansku.

Di dalam hatiku, aku berteriak kegirangan. Aku pun membantu Dina menurunkan jeans yang aku kenakan dengan cara sedikit mengangkat pantatku. Setelah jeansku melorot turun menuruni kedua pahaku, aku lalu membantu Dina menurunkan boxer yang aku kenakan. Begitu boxer itu melorot turun, kontolku yang telah tegang sejak tadi langsung mengacung tegak. Seolaholah tahu benar apa yang harus dilakukan, dengan telaten jarijari lentik Dina menggenggam batang kontolku dan mulai mengocoknya pelan.

Ooohh!, aku melenguh pelan.

Jarijari tangan Dina terasa sedemikian halus menyentuh uraturat kontolku.

Enak?.

Aku mengangguk dengan mantap.

Terus Din.

Dina melanjutkan kocokan dan pijatan tangannya di kontolku. Aku yang merasakan kenikmatan uar biasa hanya bisa menyandarkan pundakku di jok belakang mobil. Sekilas aku melempar senyuman ke arah Dina, dan gadis cantik itu pun membalasnya.

Padahal baru seminggu yang lalu aku memberitahukan cara melakukan kocokan dan oral sex, namun saat ini Dina terlihat sudah begitu pandai melakukannya. Apakah pasca kejadian malam itu di rumahnya Dina terus mempraktekkan pelajaranku tersebut? Aku tak peduli dengan jawaban pertanyaanku, yang jelas kini Dina seperti seorang gadis yang sudah berpengalaman memuaskan pasangannya. Bahkan aku tak perlu memberitahukan lagi, ketika beberapa saat kemudian Dina menundukkan tubuhnya dan mulai menjilati ujung kepala kontolku.

Ooohhh aaah, aku merasakan geli yang teramat sangat ketika lidah Dina menarinari dengan panasnya.
Tom, Dina menghentikan aksi lidahnya dan memandang wajahku.
Iya, jawabku penuh keheranan karena tibatiba saja Dina menghentikan jilatannya.
Kalo Dina masukin titit Tomi ke mulut, Dina bener nggak bakal hamil kan?, sebuah pertanyaan yang benarbenar polos keluar dari mulut pacarku yang cantik ini.

Aku hanya tersenyum kecil. Iya Dina nggak bakal hamil.

Bener?, nampaknya Dina berusaha meyakinkan jawabanku.
Bener!, aku pun harus kembali mengacungkan jari tengah dan jari manisku membentuk huruf V untuk menyakinkannya.

Seolaholah percaya dengan yang aku katakan tadi, Dina kemudian melanjutkan kembali jilatan dan kocokan tangannya di kontolku. Bahkan beberapa saat kemudian batang kontolku pun telah amblas masuk ke dalam mulut mungilnya.

Ooohhh aaah, dengan cekatan Dina mengocok kontolku dengan mulutnya.

Aku benarbenar melayang dibuatnya. Aku hanya bisa memejamkan mata menikmati sensasi yang kini sedang melandaku.

Tak terlihat lagi Dina yang seminggu lalu masih terlihat kaku memberikan layanan oral. Kini yang ada justru Dina yang terlihat begitu ahli dan tahu benar apa yang harus dilakukannya. Entah dimana ia belajar, namun yang jelas aku sangat menikmatinya. Sesekali Dina melepaskan kontolku dari dalam mulutnya untuk mengambil nafas. Kemudian ia melemparkan senyum ke arahku sambil tetap melakukan kocokan dengan tangannya. Beberapa saat kemudian kontolku kembali amblas ke dalam mulutnya.

Din, jilatin bawahnya juga dong.

Dina pun menurut. Ia juga menghisap dan menjilati zakarmu dengan telaten. Aku merasa didera rasa ngilu dan nikmat ketika Dina melakukan hal tersebut. Aku hanya bisa mengelusngelus rambut gadis cantik yang kini sedang sibuk di antara kedua pahaku. Aku merasa batang kontolku terasa semakin tegang, sehingga mulai secara refleks aku menggerakgerakkan pantatku sehingga kontolku menghujamhujam ke dalam mulut Dina. Dinahat itu Dina pun bersikap pasif dan membiarkan kontolku mengocok mulutku.

Sambil memejamkan mata, aku pun menghayati gerakanku itu seolaholah saat ini aku sedang mengocoki memek Dina. Memang jepitan mulut Dina tidak begitu kencang, namun sudah cukup membuat diriku meremmelek ketika melakukan kocokan.

Ooohh aaahhh. oooh, desahanku semakin intens seiring kocokan mulut Dina yang semakin kencang.

Sambil menerima layanan Dina, tanganku dengan nakal masuk ke dalam tank top Dina dan meremasremas lembut payudaranya. Bukit kembar padat itu terlihat sudah menegang berikut dengan puting kecilnya. Rupanya Dina juga sudah mulai terangsang, entah hal itu disadarinya atau tidak.

Hhhmm, terdengar desahan Dina ketika puting payudaranya aku pelintir.
Aaahh oooh. aaahh, aku merasakan sedikit lagi akan ada sesuatu yang meledak dari dalam diriku.

Pelayanan Dina kali ini agaknya tidak akan berujung sebagaimana pelayanannya minggu lalu. Kali ini pacarku ini hampir berhasil membuatku mencapai puncak.

Din, kocok yang kenceng hampir mau nih!, rancauku.

Dina pun mempercepat kocokan mulutnya. Seluruh otototot di tubuhku terasa menegang. Saatsaat yang aku nanti sepertinya akan segera tiba. Aku merasakan beberapa kali kedutan di kontolku. Aku sedikit mengencangkan peganganku di kepala Dina. Tibatiba saja menjelang orgasme yang mungkin akan datang, tercetus ide di kepalaku untuk memberikan pelajaran tambahan untuk pacarku yang cantik ini. Pelajaran tentang bagaimana rasa sperma lakilaki sebenarnya.

Aaaaakkhh!, tak lama setelahnya aku pun melenguh panjang.
Croot, aku merasakan semburan pertamaku menyemprot deras ke dalam mulut Dina.

Pacarku ini sepertinya menyadari sebuah benda asing masuk ke dalam mulutnya. Dengan segera ia hendak melepaskan batang kontolku dari dalam mulutnya, namun dengan cekatan pula aku menahannya kepalanya.

Creett creett creeettt, semburan berikutnya pun dengan mantap kembali menyembur masuk ke dalam mulut Dina. Dari gerakan kepalanya sepertinya Dina cukup gelagapan menerima semburan cairan kental tersebut.

Setelah semburan terakhir keluar, baru kemudian aku melepaskan peganganku di kepala Dina. Langsung saja Dina mengangkat kepalanya dan membuka kaca jendela mobil. Di luar sana aku Dinahat pacarku itu memuntahkan spermaku dari dalam mulutnya. Dinahat hal itu aku cukup merasa kasihan juga, semoga Dina tidak tersedak karenanya. Kontolku pun kini berlahan mulai mengkerut kembali.

Selesai memuntahkan sperma dari mulutnya Dina langsung berteriak dan memukulmukul tubuhku.

Tomi jahat Tomi jelek jahat jeleeeek!.

Walaupun untuk aku yang memiliki tubuh besar ini pukulan Dina sama sekali tidak terasa, namun tetap saja aku harus Dinandungi diri akibat pukulan demi pukulan Dina yang terus menyerangku. Setelah cukup lama mendapatkan serangan bertubitubi, aku akhirnya bisa menguasai kedua tangan Dina dalam genggamanku. Begitu Dina sudah sepenuhnya aku kuasai, aku mendaratkan sebuah ciuman di bibirnya.

Thanks ya sayang.
Tomi jeleek!.
Lo kalo jelek kok mau dijadiin pacar? Hehehe, godaku.
Kok nggak bilangbilang mau keluar?, wajah Dina terlihat manyun.

Aku lalu mengambil tissue di dashbord dan sebotol air mineral.

Katanya waktu ini pengen tau sperma cowok rasanya kayak apa?. Aku berujar sambil mengusap bibir Dina dan membersihkannya dari sisa cairan putih kental yang masih tersisa di sana.

Tapi kan jangan langsung dikeluarin di mulut Dina!.
Maaf deh, tadi pengennya sih biar Dina juga bisa ngerasain langsung rasa sperma kayak apa, tapi kalo Dina nggak suka ntar Tomi nggak bakal ngulangin lagi deh.
Ntar Dina hamil gimana?.

Kembali aku tersenyum kecil.

Kan keluarnya di mulut, nggak di situ!, aku menunjuk ke arah selangkangan Dina.
Nggak bakal hamil kok, tambahku.
Bener?.
Bener.

Gadis cantik itu kemudian hanya terdiam. Aku lalu menyodorkan botol air mineral kepadanya.

Minum dulu gih, biar enakan.

Dina mengambil botol tersebut dan meminumnya.

Maaf lagi deh, Dina nggak masih marah kan?.

Ia pun menggeleng pelan. Aku langsung memeluk tubuh gadis cantik tersebut.

Gimana rasanya sperma Tomi?, bisikku di telinga Dina mencoba menggodanya lagi.
Nggak enak!, ucapnya penuh kekesalan.

Aku pun tertawa mendengar jawaban pacarku itu.

I love you, sebuah ciuman kemudian mendarat di bibirnya.
Tom, pulang yuk, rengek Dina.
Iya deh.

Kami pun merapikan pakaian masingmasing dan kembali ke kursi depan. Sebelum menstater mobilku sekilas aku memandang ke arah Dina. Wajah gadis cantik itu nampak semakin cantik, walaupun masih tersisa sedikit ekspresi masam akibat perbuatanku tadi. Aku melempar senyuman ke arahnya dan ia pun membalasnya.

Sebagai pacar yang baik sebenarnya aku tidak ingin merusak gadis cantik dan polos di sampingku ini. Namun sebagai seorang lakilaki normal siapa sih yang bisa kuat menahan diri untuk tidak menikmati tubuh seindah milik Dina. Hubungan kami, terutama soal sex, kini sudah naik satu level lagi. Akses tubuh atas Dina kini sudah sepenuhnya aku kantongi.

Saat ini pikiran kotorku jelas tidak bisa berbohong kalau target berikutnya adalah wilayah selangkangan. Saatsaat mendapatkan momen itu adalah saatsaat yang sangat aku idamidamkan. Namun tetap aku tidak ingin terburuburu. Aku ingin menikmati benar babak demi babak di dalam hubungan cinta kami ini. Apa yang akan terjadi berikutnya? Mungkin hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Post Terkait