Cerita Sex Dewasa Blowjob Bra Pink - Cerita Dewasa - Cerita Sex Panas - Cerita Sex - Wisatalendir
3385
post-template-default,single,single-post,postid-3385,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,no_animation_on_touch,qode-title-hidden,qode_grid_1300,qode-theme-ver-11.1,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.1.1,vc_responsive
cerita hot

Cerita Sex Dewasa Blowjob Bra Pink

Ujian kenaikan kelas telah berakhir dan dengan nilai raport yg pas-pasan aku pun merangkak naik ke kelas 3. Berbeda denganku, Amel, yg kali ini nilai raportnya naik dan menjadi rangking 3 di kelasnya melenggang mulus naik ke kelas 2 SMP, begitu juga dengan adiknya, Eri, yg nilai raportnya sama bagusnya dengan kakaknya, naik ke kelas 3 SD. Hal ini membuat bapak dan ibu Sis merasa gembira dan bangga terhadap anak-anak gadisnya.

“Eri, Amel, papa dan mama sangat bangga pada kalian yg rajin belajar selama ini, untuk itu papa akan mengajak kalian berlibur ke Bali!” kata Pak Sis yg disambut dengan sorakan kebahagiaan oleh Eri dan Amel.
“Si abang juga harus ikut ya Pa!” kata ibu Sis kepadaku yg langsung ditimpali oleh Pak Sis,
“Iya, kamu juga harus ikut karena kata ibu, selama ini kamulah yg selalu membantu Eri dan Amel dalam belajar, jadi kamu juga pantas mendapatkan hadiah!”
“Maaf Pak, Bu, kelihatannya saya tdk bisa ikut kali ini karena saya harus ke Jakarta berkumpul bersama keluarga, saya sudah kangen untuk bertemu ayah ibu serta adik-adik” Jawabku.
“Iya ya Pa, si abang ini khan sudah lama bersama keluarga kita, jadi dia pasti ingin berkumpul dengan keluarganya selama liburan ini.” Kata Ibu Sis.
“Baiklah kalau begitu, sampaikan salam kami kepada orang tuamu ya!” Kata Pak Sis.
“Baik Pak!” jawabku.

Akhirnya, aku pun bisa berkumpul kembali dan menikmati masa liburan yg menyenangkan bersama keluargaku. Selama berlibur, kadang-kadang aku teringat masa indah bersama Amel, di mana aku selalu memberinya kenikmatan oral seks sampai tubuh kecil itu menggelinjang-gelinjang tak karuan kala getar orgasme yg dahsyat melanda dirinya. Selama itu pun aku tdk pernah menagih janji Amel untuk mengajak adiknya agar mau kuberikan pelajaran “os” ku.

SeErip ada kesempatan yg menurutnya “aman” ia pasti memintaku untuk “memberinya”, dan tentu saja selalu kuturuti karena aku juga sangat menikmatinya. Semakin hari permintaannya semakin sering, mungkin seiring dengan bertambah dewasanya Amel dan hormon-hormon tubuhnya pun mulai aktif mengakibatkan nafsunya pun meningkat sampai-sampai terkadang aku harus menolaknya karena menurutku keadaan di rumah sedang “belum-aman”.

Baca Juga: Mobil Baru Dapat Ngentot Bu Lilis

Selain memberinya “os”, aku juga sering mengajaknya menonton film yg bertema blowjob dan cumshots sambil memberinya semacam pengerErin. Aku sangat berharap bahwa suatu hari nanti Amel dengan kesadarannya sendiri, tanpa paksaan mau mengkaraoke milikku. Reaksi Amel ketika menonton film-film tadi sebenarnya biasa-biasa saja karena memang ia telah sering kali kuperlihatkan adegan seperti itu, tetapi reaksinya berubah ketika suatu hari aku memperlihatkan kepadanya film bukkake jepang yg kupinjam dari temanku yg memang anak orang kaya itu.

Aku berani mengajaknya nonton malam itu karena bapak dan ibu Sis sedang menginap di luar kota sedangkan si Was, pembantu, sudah tidur di kamar belakang. Biasanya ketika menonton film blowjob dan cumshots, Amel masih bisa bersenda gurau denganku sambil menggelitiki pinggangku dengan jarinya yg nakal secara tiba-tiba di tengah adegan yg sedang seru sehingga suasana pun berubah jadi canda dan tawa yg sering pula kuakhiri dengan memberinya “os”.

Kali ini Amel tampak terlihat serius, ia bertanya mengapa banyak sekali laki-lakinya yg hanya mengenakan celana dalam saja sedangkan perempuannya hanya satu dengan berpakaian semacam jas hujan yg tipis di ruangan yg besar itu. Aku pun segera menjelaskan bahwa tdk perlu khawatir, perempuan itu tdk akan disakiti, lalu kudekap dia dari samping sambil menemaninya menonton.

Kali ini tdk ada canda dan tawa karena Amel terlihat sangat serius, ia sangat ingin mengetahui apa yg akan terjadi selanjutnya terhadap wanita tadi. Aku tersenyum kagum melihat rasa keingintahuan yg sangat besar dari gadis kecil yg cantik ini, sambil masih kudekap kubelai lembut kedua lengannya.

Terlihat di layar kaca, para pria melakukan onani dan mengeluarkan spermanya di dalam sebuah gelas besar yg sekarang mulai terisi setengahnya, sementara wanita satu-satunya dalam ruangan tadi juga tengah sibuk memberikan blowjob kepada beberapa pria lain yg tempatnya agak jauh dari gelas besar tadi.

Aku melihat raut kebingungan pada wajah Amel mengenai apa sebenarnya yg sedang ia tonton, tetapi ia berusaha untuk tdk bertanya kepadaku seolah-olah ia ingin menemukan sendiri jawaban dari kebingungannya. Amel terlihat takjub tatkala ia melihat bahwa gelas besar itu telah terisi penuh dengan sperma seluruh laki-laki yg ada di ruangan itu.

Kali ini terlihat wanita itu mendekati dan berdiri tepat di hadapan gelas besar yg sudah terisi penuh sperma itu dan ia didatangi oleh seorang laki-laki yg memakai baju lengkap (mungkin sang sutradara) yg berbicara pada si wanita tadi yg terlihat mengangguk-angguk dan tersenyum tanda mengerti.

Seusai memberikan mungkin semacam arahan (karena dalam bahasa Jepang, aku jadi kurang ngerti), sutradara itu pun pergi dan kamera didekatkan pada si wanita cantik yg kini sudah memegang gelas besar penuh sperma tadi dengan kedua tangannya. Wanita cantik itu kembali tersenyum di depan kamera dan membungkukkan badan tanda memberi hormat lalu.. lalu ia mulai meminum seluruh sperma yg ada di dalam gelas besar tadi.

Ketika pertama kali aku menontonnya di tempat temanku, aku benar-benar kaget setengah mati akan apa yg kulihat, tapi sekarang aku sudah bisa lebih mengontrol diriku, apalagi sekarang aku berada di depan Amel. Aku segera melihat ke arah Amel untuk mengetahui bagaimana reaksinya, dengan mata yg terus menatap ke arah layar kaca kembali terlihat raut wajahnya berubah dari serius menjadi raut wajah orang yg sedang terkejut, matanya terbelalak dan mulutnya membuka tapi tdk terucap satu kalimat pun, yg terdengar hanyalah suara desah keterkejutan, “Haah!?”

Amel terus memperhatikan si wanita yg pada akhirnya berhasil menghabiskan seluruh sperma yg terdapat di gelas besar itu dengan meminumnya lalu ketika selesai ia tersenyum puas penuh kemenangan dan mengangkat gelas besar yg kini kosong itu tinggi-tinggi dibarengi dengan suara gemuruh tepuk tangan para lelaki yg ikut menyumbangkan seluruh sperma tadi.

Film itu pun selesai dan seperti biasa aku segera membereskan semuanya sementara Amel terlihat masih duduk sendiri di sofa diam membisu seolah-olah ada sesuatu yg tengah mengganggu pikirannya. Setelah semuanya beres, aku datangi Amel sambil kupegang kedua bahunya dan bertanya,

”kenapa Amel cantik?” kok kayak orang yg kebingungan sich?” Ia hanya menatapku dengan pandangan kosong tak menjawab pertanyaanku.
“Tadi Amel udah lihat khan bahwa abang tdk bohong!” wanita sangat menyukai meminum sperma dan Mbak yg tadi Amel lihat sudah membuktikannya!” jelasku.

Amel tetap diam tdk menjawab dan aku sungguh tdk tahu apa yg dipikirkannya, segera kuangkat badannya dan membawanya ke kamar tidurnya pelan-pelan agar adiknya, Eri, tdk terbangun. Setelah kuselimuti tubuhnya aku mengucapkan selamat tidur sambil sebelumnya kuberi dia ciuman lembut selamat malam di bibirnya yg tipis itu. Semenjak menonton film itu, perilaku Amel menjadi agak aneh, ia menjadi agak pendiam dan terlihat ia menahan diri untuk tdk meminta “os” padaku.

Aku tahu hal itu dan menghormati keputusannya dan mungkin hal inilah yg membuat hubungan kami semakin dekat dan membuat rasa sayangku padanya semakin besar. Kira-kira dua minggu sampai aku berpisah dengan Amel karena berlibur, aktivitas “os” untuk Amel diistirahatkan dan ini membuatku sangat merindukan kehadirannya.

Liburan yg menyenangkan bersama keluargaku berakhir sudah, dan aku sudah harus cepat-cepat kembali ke kota kembang untuk persiapan sekolahku. Sore itu, ketika tiba di rumah, bapak dan ibu Sis menyambutku dengan hangat, mereka menanyakan kabar keluargaku dan kusampaikan bahwa mereka baik-baik saja lalu kuberikan oleh-oleh yg sudah dipersiapkan keluargaku khusus untuk bapak dan ibu Sis sekeluarga.

Aku bertanya ke mana Amel dan Eri, karena aku tdk melihat mereka lalu ibu Sis menjawab bahwa Amel dan Eri tadi diantar pergi berenang dan ditemani si Was. Ibu Sis juga merasa kaget ketika mendengar tiba-tiba Amel ingin mengajak Eri, bapak dan ibu Sis untuk berolah raga renang, karena biasanya Amel kurang menyukai olah raga.

Aku tersenyum senang mendengarnya karena akulah orang yg menganjurkannya agar berolah raga renang, karena selain menyenangkan berenang bisa membuat tubuh menjadi sehat dan juga membentuk tubuh menjadi indah. Bapak dan ibu Sis kemudian menyuruhku untuk beristirahat di kamar yg biasa kutempati, sementara mereka sibuk membereskan oleh-oleh yg kubawakan. Selesai membereskan barang bawaanku, aku pun tertidur karena lelah. Kira-kira pukul 20 aku bangun dari tidurku lalu beranjak menuju ruang makan, tetapi ketika melewati ruang tengah, aku bertemu dengan Eri dan Amel yg sedang menonton TV. Mereka terlihat begitu senang melihatku dan langsung keduanya berlari ke arahku.

“Abaang, apa kabar, Amel kangeen sekali sama abang!” kata Amel sambil memeluk pinggangku dengan erat.
“Iya, Eri juga kangen sama abang!” kata Eri yg memeluk paha kiriku juga dengan erat.
“Halo anak-anak manis, abang juga kangen sama Amel dan Eri!” kataku sambil membelai sayang kepala keduanya.
“Papa dan mama mana?” tanyaku.
“Sedang pergi!” kata Eri.
“Iya, ke kondangan perkawinan!” Amel menimpali.
“Kalian kok ngga ikut?” tanyaku lagi.
“Eri capek!”
“Amel juga bang, tadi khan kita abis berenang, jadi sekarang pengen istirahat sambil nonton kartun di rumah” jelas Amel.
“Was mana?” tanyaku lagi.
“Udah tidur!” jawab Eri.
“Iya, dia juga khan capek berdiri terus di pinggir kolam ngeliatin kita berenang!” kata Amel.
“Ya sudah, sekarang makan dulu yuk, abang sudah lapar nich!”

Mereka setuju, tapi dasar manja, Eri tetap bergelayutan di kaki kiriku, sehingga seErip aku melangkah ia pun ikut terangkat oleh kakiku sementara Amel bergantungan di punggungku, mereka berdua tertawa-tawa gembira dan minta digendong keliling ruang tamu dua kali dulu baru menuju ruang makan, malam itu aku bahagia karena bisa membuat dua bidadari kecilku itu merasa gembira.

Selesai makan dan membereskan ruang makan, kami kembali ke ruang tengah untuk bersantai sambil menonton film kartun bersama-sama. Aku dan Amel duduk di Sofa, sementara Eri duduk di karpet sambil memegang remote TV.

“Bang, waktu liburan, abang pernah mikirin Amel nggak?” Amel bertanya padaku.

Aku menatap ke arahnya dan menjawab “Iya sayang, tentu saja abang teringat sama Amel dan juga Eri”.

Mendengar jawabanku ia tersenyum senang.

“Memangnya ada apa cantik?” tanyaku.
“Iya, soalnya Amel juga teringat terus sama abang”, jawabnya.
“Itu namanya Amel kangen sama abang” sambutku sambil menyentuhkan punggung tanganku dengan lembut ke pipinya yg mulus.

Tiba-tiba, Eri bangkit dari karpet dan berlari ke arah belakang sofa lalu berdiri tepat di belakangku, ia mengalungkan kedua lengannya di leherku dan menangkupkan wajahnya di pundak kiriku sambil berkata, “abaang, itu ada film hantu di TV, Eri takuut!”.

“Tenang Eri, di sini khan ada abang dan Kak Amel, jadi Eri tdk perlu takut”, kataku sambil membelai kepalanya.

Jam di dinding menunjukkan pukul 22, “sebaiknya Eri bobo sekarang, istirahat, hari ini khan cape abis berenang”, kataku.

“Tapi Eri takut sendirian, Kak Amel temenin Eri bobo ya”, kata Eri.

Amel tersenyum dan mengangguk.

“Nah ayo sekarang Eri dan Amel pergi ke kamar dan bobo!” perintahku.
“Eri mau, tapi harus digendong lagi sama abang sampai ke kamar yaa” pinta Eri manja.

Aku pun bangkit, lalu dengan membentangkan kedua tanganku dan bergaya seperti monster yg mau menangkap mangsanya, aku berkata dengan suara yg kubuat seserak dan seseram mungkin “Hrrmm.. hrrmm.. mana anak kecil yg mau digendong monster.. hrrm.. hmm..

“Kyaa.. ada monster!” Eri berteriak sambil tertawa senang.

Ia dan Amel yg juga sudah berdiri berlarian mengelilingi sofa, berusaha menghindari kejaran sang monster sambil tertawa-tawa gembira. Ya, mereka senang dengan permainan ini karena kami sering memainkannya sejak lama. Akhirnya aku pun berhasil menerkam Eri dan kami bergulingan di karpet.

“Kyaa.. Kak Amel, tolong Eri!” Eri berteriak sambil tertawa kegirangan.

Amel pun datang dan berusaha untuk menolong melepaskan adiknya dengan menarik lenganku dan dengan satu gerakan, kubuat Amel juga rebah di karpet dengan posisi telentang dan dengan cepat kupeluk perutnya serta kurebahkan kepalaku di dadanya yg terasa lembut dan hangat. Posisi itu membuatku sangat terangsang.

Kami masih bergulingan sambil tertawa-tawa hingga beberapa saat, lalu aku menggendong Eri.

“Yak, sudah waktunya goddess-goddess kecil abang ini bobo!” kataku.

Walaupun sudah kugendong, Eri masih tertawa-tawa melihatku, tangan kanannya merangkul leherku dan tangan kirinya memencet-mencet hidungku. Amel pun tiba-tiba meloncat ke punggungku dan bergantungan minta digendong.

“Aduuh, berat bener, kalian sudah pada besar nih” kataku.
“Iya dong bang, Eri juga sekarang khan sudah besar, jadi berat” kata Eri yg masih juga memencet-mencet hidungku, disambut dengan suara tawa Amel yg seolah-olah menyetujui pendapat Eri.

Tertatih-tatih aku menuju kamar kedua bidadari kecilku ini.

Aku segera menurunkan Eri di ranjang yg bersebelahan dengan ranjang Amel, menyelimutinya, menungguinya sebentar sampai Eri benar-benar tertidur. Lampu kecilnya kubiarkan menyala kemudian giliranku untuk menyelimuti Amel, kucium bibir tipisnya dengan lembut sebagai ucapan selamat bobo lalu aku kembali ke ruang TV untuk kembali menonton sambil menunggu pulangnya bapak dan ibu Sis. Benar-benar malam pertemuan kembali yg membahagiakan..

Keesokan harinya dan hari-hari berikutnya tdk ada kejadian yg istimewa antara aku dengan Amel, itu juga dikarenakan bapak dan ibu Sis sedang banyak kegiatan di dalam kota sehingga mereka jadi banyak tinggal di rumah. Walaupun begitu, sebenarnya Amel juga terkadang meggodaku dengan hanya memakai daster tipis tanpa bra dan terkadang tdk memakai CD ia masuk ke kamarku saat malam hari di mana ortunya sedang berada di kamar mereka, Amel lalu berbicara padaku dengan pose-pose yg sangat merangsang nafsuku, uuh.. seandainya rumah kosong..

Tentu saja aku gelagapan menghadapinya karena aku takut sekali kalau sampai ketahuan kedua ortunya. Biasanya jika sudah demikian Amel menjadi tdk patuh dan tdk mau kuminta keluar dari kamarku, jadi akulah yg keluar. Walaupun “tanda-tanda” yg diberikan Amel sering terpaksa kutolak karena keadaan yg menurutku “belum-aman” di rumah, tetapi dalam hal lain Amel dan Eri sangat patuh kepadaku. Hal ini membuat kedua orang tuanya benar-benar percaya kepadaku dan aku juga merasa sayang dan bangga kepada Amel dan Eri.

Bidadari-bidadari kecilku itu dalam kesehariannya sangat dekat dengan ibu mereka dan mereka bertiga sering berbincang-bincang bersama tentang apa saja. Aku mengetahui hal itu karena Amel menceritakannya padaku. Terkadang, jika melihat ibu dan anak-anak gadisnya itu berkumpul, aku menjadi ketakutan. Aku khawatir kalau-kalau Amel menceritakan pada ibunya bahwa aku mengajarinya seks, tetapi untungnya Amel selalu ingat dan memegang janjinya. Mungkin juga ini adalah suatu insting yg kuat dari seorang ibu, karena pada suatu saat aku pernah secara tdk sengaja mendengar pertanyaan ibu Sis tentang apa yg Amel dan Eri lakukan bersamaku jika mereka tdk di rumah.

Tanpa sadar, keringat dingin membasahi tubuhku. Aku mendengar sayup-sayup suara Eri yg menjawab pertanyaan ibundanya, lalu suara Amel yg ikut menimpali kata-kata Eri. Jantungku serasa berhenti berdetak..

Perasaanku menjadi sangat lega ketika kudengar pembicaraan masih terus berlanjut dengan penuh kehangatan, tanpa ada ledakan kemarahan dari sang ibu. Hal itu berarti rahasia kami masih aman dan membuatku merasa sangat bersyukur serta menambah rasa sayang dan simpati kepada kedua dewi kecilku itu. Aku juga kembali berjanji pada diriku untuk sekuat tenaga mampu mengontrol diri saat memberikan pelajaran seks pada Amel dan membuatnya bahagia.

Hari-hari terus berlalu, kesibukan sekolah dan juga keadaan rumah yg “belum-aman” membuat kegiatan seks yg biasa kulakukan dengan Amel tertunda tetapi walaupun begitu, harus kuakui bahwa aku bisa merasakan perubahan yg terjadi dalam diri Amel terlebih setelah dia kuperlihatkan film acara “minum-sperma” itu. Aku menjadi sering melihatnya termenung seolah memikirkan sesuatu yg cukup memberinya beban pikiran. Pernah suatu kali aku melihatnya, ketika itu kami sedang berkumpul makan siang bersama, aku, Amel, Eri dan ibu Sis. Amel kala itu mengambil sebuah pisang ambon, mengupas kulitnya dan memasukkannya ke mulut tetapi gayanya seperti cewek yg sedang memberikan blow job!

Aku sangat terkejut melihat hal itu, bahkan ibu Sis pun melihat dan menegurnya,

“Amel! Makanan tdk boleh dipakai main-main! Ayo cepat dimakan!!” kata ibu Sis dengan tegas.

Kulihat Amel sangat terkejut dan cepat-cepat memakan pisang itu sedangkan aku diam seribu bahasa sambil berharap semoga ibu Sis tdk curiga lebih jauh melihat tingkah laku putrinya itu. Untungnya perhaErin ibu Sis saat itu terbagi ketika HP ibu Sis berbunyi dan ia segera tenggelam dalam pembicaraan yg riang bersama temannya.

Walaupun kegiatan cintaku dengan Amel tertunda, kami masih sering mengisi waktu bersama dengan kegiatan lainnya. Amel dan Eri sering mengajakku berenang bersama seperti yg selalu kuanjurkan pada mereka demi menjaga kesehatan, kebugaran dan bentuk tubuh mereka yg indah supaya tetap indah dan sexy. Mereka senang mengajakku berenang karena itu lebih baik dan mengasyikkan buat mereka daripada hanya ditunggui oleh pembantu yg hanya berdiri saja di pinggir kolam. Olahraga lain biasanya lari-lari sore bersamaku di lapangan dekat rumah dan kalau aku sedang malas, maka mereka akan membujukku dengan sangat manja, memasang wajah mereka yg paling imut sehingga aku tdk kuasa untuk menolaknya.

Minggu pagi aku dibangunkan oleh Amel dan ternyata ia mengajakku untuk lari pagi. Sebetulnya aku masih sangat ingin meneruskan tidurku dan bermalas-malasan lebih lama lagi tapi demi Amel, aku pun segera bangun dan menemaninya lari pagi. Kami berangkat pukul 6, mulai berlari-lari kecil mengiringi mobil bapak dan ibu Sis yg juga berangkat menuju lapangan tenis. Setelah puas berolah raga kami kembali berlari kecil menuju rumah dan ketika tinggal berjarak 200 meter lagi, Amel dengan manjanya merayuku, “Baang, abang cakep deh, tolong gendong Amel sampai rumah ya bang”.

“Eh, Amel nggak malu tuh diliatin banyak orang?” tanyaku.
“Amel nggak peduli dengan orang lain! Gendong Amel dong baang!” pintanya dengan wajah yg dibuat semanis mungkin.

Aku tak bisa menolaknya

“Ayo naik ke punggung abang!” perintahku.

Dengan semangat 45 Amel segera naik ke punggungku lalu ku kembali berlari kecil sambil menikmati kelembutan payudaranya yg kali ini sudah agak berkembang bergoyg-goyg menyentuh punggungku, hmm.. rasanya seperti pijat payudara ala Thailand hehehe.. kataku dalam hati.

Sesampainya di halaman depan, kami melihat si Was yg sedang sibuk memotong rumput, Amel berteriak sambil melambai-lambai ke arahnya sementara si Was tersenyum melihat kami berdua. Kami melakukan peregangan otot di halaman depan sebelum masuk rumah dan setelah kurasa cukup, kulihat Amel tersenyum nakal ke arahku sambil berkata,

“Aduuh abang, tadi Amel minum air mineralnya kebanyakan, abang haus nggak?” tanyanya sambil menahan tawa.

“Iya abang juga haus dong sayang” kataku sambil menggelitik pinggangnya sehingga ia tertawa kegelian lalu dengan masih berusaha menahan tawa Amel kembali berkata,
“jadi abang haus ya? Amel mau pipis nich” usai berkata begitu padaku ia langsung lari ke dalam rumah sambil tertawa cekikikan.

“Hehehe.. Amel jahil ya!” kataku sambil pura-pura mengejarnya ke dalam rumah.

Sesampainya di dalam rumah suasana terlihat masih sepi karena bapak dan ibu Sis masih belum pulang sedangkan Eri juga masih tidur di kamarnya.

Kenyataan ini membuatku merasa bergairah seketika dan terbersit ide gila di kepalaku. Amel yg baru saja akan memasuki kamar mandi segera kupanggil dan kuajak ke halaman belakang. Pintu dapur segera kukunci untuk memastikan tdk ada seorangpun yg bisa masuk atau melihat apa yg kami lakukan. Aku berkata pada Amel,

”Mana? katanya Amel mau pipis, abang haus nih mau mimi” kataku sambil duduk di rumput. Amel terkejut sekali kelihatannya.
“Ayo dong buka celananya terus pipis di sini” perintahku sambil menunjuk mulutku yg kubuka lebar dan berbaring di rumput yg hijau lebat bak permadani.

Setelah memastikan keadaan aman Amel pun mulai membuka celana training dan celana dalamnya lalu perlahan menuju ke arahku dengan raut wajah yg masih menunjukkan keterkejutan.

Aku juga agak terkejut melihat perubahan yg terjadi pada tubuh Amel, kemaluannya yg dulu gundul, sekarang sudah mulai terlihat bulu-bulu halus walau masih jarang.

“Aduuh, ternyata goddess abang sekarang sudah mulai dewasa yaa..”. Amel terlihat malu dan tanpa sadar kedua tangannya menutupi daerah kewanitaannya.
“Abaang, udah dong Bang jangan main-main, Amel udah ngga tahan nih!” katanya dengan wajah bersemu merah.
“Iya sayang, sini pipisnya pelan-pelan yaa!” pintaku.

Aku segera menarik pinggulnya dengan kedua tanganku dan mengatur posisinya agar kemaluannya mengarah langsung ke mulutku yg terbuka lebar, siap menampung seluruh cairan pipisnya. Amel pun segera memancarkan cairan pipisnya, awalnya agak tumpah ke bagian leherku tapi dengan sedikit penyesuaian aku mulai bisa menampung semua cairan pipisnya. Aku segera memberikan tanda padanya untuk menahan pipisnya sebentar karena mulutku sudah penuh kemudian setelah kutelan habis seluruh cairan yg kutampung tadi aku pun memberi tanda padanya untuk kembali melanjutkannya.

Setelah pipisnya sudah keluar semua, aku segera menjilati kemaluan Amel tetapi ia segera berdiri.

“Abaang, udah dulu ah geli!” katanya sambil memakai celana trainingnya kembali.

Aku hanya tersenyum melihatnya.

“Emangnya enak bang?” tanyanya menyelidik.
“Rasanya kayak minum obat” jawabku.
“Minum obat?” tanyanya tdk percaya.
“Iya” jawabku sok.

Amel tersenyum malu. Kami segera kembali ke dapur lalu dengan perlahan kuperiksa keadaan rumah dan kulihat ternyata si Was masih sibuk di halaman depan. “Aman” pikirku. Amel mempersilahkanku mandi lebih dulu sambil menggodaku dengan menceritakan beberapa lelucon yg membuat kami ketawa-ketiwi sejenak, lalu aku mandi.

Hari itu, nafsu makanku menurun drastis..

Semenjak acara “minum-obat” itu Amel menjadi semakin dekat denganku. Sikapnya semakin hangat, walaupun aku terkadang suka memarahinya dengan tegas terutama jika dia terlihat malas belajar. Hal itu tdk membuatnya membenciku karena ia juga mengerti bahwa jika seseorang bersikap tegas terhadapnya, selama masih dalam batas kewajaran, artinya orang itu menyayginya. Aku juga sering melihatnya senyum-senyum sendiri seolah sedang merencanakan sesuatu dan terkadang mencuri-curi pandang padaku dan jika kebetulan pandangan kami bertemu, maka ia melemparkan senyum manisnya sehingga membuatku salah tingkah.

Sore itu aku tengah bersiap-siap untuk pergi bermain basket bersama teman-temanku ketika Amel muncul di kamarku sambil tersenyum dan berkata, “Amel sudah putuskan, abang akan Amel beri hadiah kejutan!”.

“Oh ya, apa kejutannya?” tanyaku ringan sambil masih memasukkan barang-barangku ke dalam tas.
“Eeeit.. rahasia doong!” kata Amel.
“Waah.. Amel buat abang penasaran aja, yak selesai, Amel, abang pergi dulu yaa.. cup” kataku sambil mencium lembut bibir tipisnya yg sexy itu.

Hampir tengah malam saat aku kembali pulang dari bermain basket dan kumpul-kumpul bersama teman-temanku. Aku masuk ke dalam melewati garasi karena aku memang memiliki kunci, kulihat mobil Honda CR-V milik Pak Sis terparkir membuat garasi yg luas itu terasa agak menyempit. Hal ini juga berarti bahwa bapak dan ibu Sis ada di dalam rumah sedang beristirahat. Setelah kembali mengunci semua pintu, aku langsung menuju kamarku, lalu mandi. Selesai mandi, aku segera memakai piyamaku lalu pergi tidur. Mungkin karena begitu lelahnya malam itu aku sampai lupa mematikan lampu kecil di mejaku dan lupa mengunci pintu kamarku.

Aku tertidur dengan lelapnya sampai-sampai aku bermimpi dikelilingi banyak bidadari cantik dari kahygan yg menghangatkan tubuhku dengan pelukan dan ciuman panas menggelora membuat tubuhku serasa terbang ke awan. Aku juga melihat satu bidadari tercantik yg sedang membelai-belai burungku, mengecupnya dengan perlahan lalu mulai memasukkan “milikku” yg mulai berdiri tegak tadi ke dalam mulutnya.

“Aaah..” spontan aku mengerang.

Rasanya begitu hangat dan basah hingga membuat tubuhku menggeliat. Ketika kepala sang bidadari mulai bergerak turun naik, aku merasakan sensasi yg luar biasa nikmatnya hingga mampu membawa jiwaku kembali ke alam nyata.

Perlahan mataku mulai membuka dan aku mulai menyadari bahwa itu semua hanyalah mimpi, tetapi anehnya, ketika aku mulai sedikit tersadar dari tidurku, sensasi nikmat itu masih dapat kurasakan dengan sempurna dan terus berlanjut. Aku segera menyadari bahwa memang ada sesuatu yg sedang benar-benar terjadi pada diriku. Segera kukejap-kejapkan mataku dan berusaha melihat ke arah selangkanganku dan..

Aku tertidur dengan lelapnya sampai-sampai aku bermimpi dikelilingi banyak bidadari cantik dari kahygan yg menghangatkan tubuhku dengan pelukan dan ciuman panas menggelora membuat tubuhku serasa terbang ke awan. Aku juga melihat satu bidadari tercantik yg sedang membelai-belai burungku, mengecupnya dengan perlahan lalu mulai memasukkan “milikku” yg mulai berdiri tegak tadi ke dalam mulutnya.

“Aaah..” spontan aku mengerang.

Rasanya begitu hangat dan basah hingga membuat tubuhku menggeliat. Ketika kepala sang bidadari mulai bergerak turun naik, aku merasakan sensasi yg luar biasa nikmatnya hingga mampu membawa jiwaku kembali ke alam nyata. Perlahan mataku mulai membuka dan aku mulai menyadari bahwa itu semua hanyalah mimpi, tetapi anehnya, ketika aku mulai sedikit tersadar dari tidurku, sensasi nikmat itu masih dapat kurasakan dengan sempurna dan terus berlanjut. Aku segera menyadari bahwa memang ada sesuatu yg sedang benar-benar terjadi pada diriku. Segera kukejap-kejapkan mataku dan berusaha melihat ke arah selangkanganku dan..

Betapa terkejutnya aku ketika kulihat Amel sudah berada di tempat tidurku dan sedang memberiku blow job!! Aku segera berusaha untuk mendorong kepalanya dengan kedua tanganku secara perlahan agar Amel segera melepaskan hisapannya pada “batangku” karena apa yg ia lakukan padaku saat ini sangatlah nekad dan berbahaya di mana kedua orang tuanya sedang berada di rumah, beristirahat di kamar yg tdk jauh dari kamarku.

“Bagaimana jika ketahuan?” pikirku panik.

Kedua tanganku berhasil meraih kepala Amel dan mendorongnya secara perlahan agar melepaskan milikku, tetapi tiba-tiba aku merasakan penolakan darinya dan rasa sakit, karena ternyata..

Amel juga menggunakan giginya untuk mencengkram “batangku” agar hisapannya tdk lepas, sementara dapat kulihat pula matanya menatap tajam ke arahku seolah ia berkata

“jangan ganggu aku!!”

Aku pun segera angkat tangan dan hanya bisa bersikap pasrah saja terhadapnya saat itu. Melihatku pasrah, perlahan ia lepaskan cengkraman giginya dan mulai meneruskan aktivitasnya kembali. Kepalanya kembali turun naik dengan perlahan seolah ia sangat menikmatinya sementara lidahnya menggelitiki lubang burungku. Kelihatannya Amel sudah sering berlatih dengan pisang itu sehingga ketika pertama kali ini menerapkannya padaku, ia sudah seperti cewek yg berpengalaman. Ketakutanku sudah tdk bisa lagi mengalahkan rasa nikmat yg kuterima, aku mulai mendesah dan membelai kepalanya.

Hisapan, jilatan dan kuluman yg ia berikan pada batang dan zakarku membuatku tdk bisa bertahan lebih lama lagi, Amel memang benar-benar hebat untuk seorang pemula.

“Aaah.. sshh.. Amel cantik, abang ngga tahan.. sshh.. udah mau keluar.. aah..!”, Mendengarku berkata demikian, ia segera menggunakan tangan kanannya untuk mengocok batangku sementara ia tetap menghisap dan mempertahankan bagian kepala di dalam mulutnya, lidahnya juga turut memberikan kehangatan belaian-belaian kasih.

“Aaah.. aahh..!” aku sudah tdk kuasa menahan kenikmatan yg bertubi-tubi ini, tubuhku tersentak-sentak dan akhirnya
“creet.. crreett.. crreett..” cairan spermaku memancar keras di dalam mulut Amel.

Tubuhku melemas seiring dengan menjalarnya kenikmatan orgasme ke seluruh jiwaku, sementara Amel masih meneruskan hisapan dan jilatannya seolah-olah tdk ingin ada yg tersisa. Penerimaan diri, kehangatan dan kasih sayang yg ia curahkan terasa sangat menyejukkan jiwaku. Amel benar-benar seorang bidadari mungilku.

Setelah selesai menikmati spermaku, ia mendekatiku seraya berkata “Abang suka hadiah Amel tadi?” Aku tersenyum haru dan mengangguk, kubelai lembut kepalanya lalu ia merebahkan kepalanya di dadaku sambil memelukku.

“Abang sayang sama Amel” bisikku.

Kukecup mesra kepala bidadariku ini, wangi rambutnya mendamaikan perasaanku. Kupeluk dan kubelai mesra tubuhnya sampai ia benar-benar kembali tertidur dalam kehangatan pelukanku. Jam mejaku menunjukkan pukul 3.30 pagi saat aku mengangkat tubuh Amel perlahan, menggendongnya kembali ke kamar tidurnya. Jaraknya tdk terlalu jauh, namun aku harus melewati kamar kedua orangtuanya. Hal itu menjadikan perasaanku sangat tegang karena harus bergerak perlahan untuk menghidari suara gaduh. Terlebih bila kudengar suara batuk dari dalam kamar ortunya, maka aku akan berdiri mematung sembari memejamkan mata, saat itu bahkan rasanya detak jantungku bisa didengar orang sekampung.

Akhirnya aku berhasil mengembalikan Amel ke tempat tidurnya, menyelimutinya, lalu cepat-cepat kembali ke kamarku. Sesampainya di kamar, kubuka sedikit kaca jendela dan kutanggalkan bajuku yg basah oleh keringat, lalu kunyalakan rokok dan kuhisap dalam-dalam untuk menenangkan pikiranku. Pagi itu merupakan pagi terindah yg pernah kualami seumur hidupku.

Suara burung yg berkicau riang menyambut pagi terdengar bagaikan sebuah sonata nan indah yg seolah juga turut mengiringi kebahagiaan perasaan diri ini setelah menerima “hadiah-kejutan” luar biasa, yg pernah diberikan seorang bidadari mungil padaku. Segar rasanya tubuhku pagi itu walaupun kurang tidur semalaman, kuhirup udara pagi yg segar itu sedalam-dalamnya sambil kukayuh santai sepedaku menuju sekolah. Aktivitas rutin pun berjalan seperti biasanya di sekolah, hanya saja teman-temanku menilai sikapku menjadi lebih riang dibanding hari-hari lainnya. Siang itu sepulang sekolah, aku menuju rumah temanku untuk mengerjakan tugas kelompok, padahal aku sudah sangat ingin pulang dan bertemu Amel secepat mungkin, tetapi.. apa boleh buat, aku harus menyelesaikan tugasku terlebih dahulu.

Sore itu aku baru bisa kembali bersepeda pulang ke rumah dan sesampainya di halaman aku melihat mobil CR-V Pak Sis nongkrong di sana.

“Wah, belum aman nich!” pikirku.

Aku segera menyimpan sepedaku di garasi, segera menuju kamarku lalu mandi. Saat makan malam aku juga masih belum melihat Amel, hanya Eri yg terlihat baru bangun.

“Amel belum pulang pak?” tanyaku.
“Ooh sudah pulang tadi siang, tapi lalu ia bapak antar ke rumah Ani, katanya mau mengerjakan tugas sekolah yg penting.
“Oh ya, bapak juga ingin menyampaikan bahwa besok sore ibu dan bapak akan berangkat ke Jakarta, baru lusa menuju Australia selama 1 minggu karena ada keperluan bisnis yg mendesak” kata Pak Sis dengan wajah yg berseri-seri.
“Lho, kok mendadak sekali pak?” tanyaku.

“Sebenarnya tdk mendadak, berita ini sudah bapak terima dari kemarin-kemarin, bapak juga sudah dibelikan tiket oleh perusahaan, Amel dan Eri pun sudah bapak beritahu kemarin malam, hanya kamu saja yg tdk ada” jawab Pak Sis semangat.
“Bapak mau berpesan padamu agar selama kami pergi, kamu yg bertanggung jawab penuh di rumah ini dan juga harus menjaga dan memperhatikan Amel dan Eri, bantu mereka terlebih dalam pelajaran agar tdk mendapat nilai buruk dalam ujian, kamu mengerti?” tanya Pak Sis tegas.

“Iya pak, saya mengerti” jawabku.
“Baiklah, kalau begitu sekarang bapak jemput Amel dulu” kata Pak Sis dengan wajah yg cerah sambil mencium kening ibu Sis.
“Hati-hati ya pak!” kata ibu Sis.

Aku sudah tidur di kamarku saat Pak Sis dan Amel kembali ke rumah sehingga hari itu hampir bisa dikatakan bahwa kami tdk bertemu karena kesibukan masing-masing.

Keesokan harinya, sepulang sekolah aku segera pulang ke rumah untuk membantu bapak dan ibu Sis menyiapkan segala yg mereka butuhkan. Setibanya di rumah kulihat koper-koper besar yg sudah siap dibawa, tertata rapi di ruang tamu. Pak Sis kemudian memintaku untuk mencarikan taksi karena menurutnya cara itu lebih baik daripada hanya menelepon lalu menunggu.

Aku segera keluar dan mencari taksi kosong di pinggir jalan besar yg agak jauh dari rumah. Tdk lama kemudian menaiki taksi yg kupanggil. Aku segera mengangkat koper-koper besar itu ke dalam bagasi sementara Eri dan Amel membantu dengan membawakan beberapa tas kecil. Setelah seluruh barang yg akan di bawa sudah dimasukkan ke dalam taksi, bapak dan ibu Sis memanggilku ke ruang tamu sementara Eri, Amel dan si Was menunggui taksi di luar.

Bapak dan ibu Sis memberikan beberapa pesan penting padaku seperti beberapa nomor telpon penting yg bisa dihubungi jika ada sesuatu di luar kendali, namun intinya mereka mempercayakan semua padaku untuk sementara mewakili mereka menjaga dan memperhatikan kedua putrinya. Aku mendengarkan dengan sungguh-sungguh.

“Semoga berhasil Pak Sis dan ibu!” kataku.
“Terima kasih dan ingat semua pesan bapak dan ibu ya!” Tegas Pak Sis mengingatkanku.

Seluruh barang bawaan pun kembali diperiksa, lalu mereka berpamitan dengan Eri dan Amel.

“Eri, Amel, kalian harus nurut sama abang, jangan lupa belajar dan jangan nakal ya!” kata ibu Sis sambil memeluk dan mencium pipi kedua putrinya itu.
“Papa dan mama hati-hati ya!” kata Amel.
“Iya, nanti juga kalau pulang jangan lupa oleh-olehnya yaa!” sambung Eri.

Pak Sis pun memeluk kedua putrinya dan mencium kening mereka.

“Papa dan mama berangkat dulu ya sayang, kalian baik-baik di rumah ya!” kata Pak Sis.

Selesai berpamitan, mereka lalu menaiki taksi yg akan mengantar mereka ke stasiun kereta api untuk lalu berangkat menuju Jakarta.

Taksi yg membawa bapak dan ibu Sis telah menghilang di balik tikungan jalan ketika aku melirik ke arah Amel, pandangan kami pun bertemu dan ia melmparkan senyum manisnya kepadaku.

“Waah..pesta nih nanti malam!!” pikirku gembira.

Kriing.. kriing.. terdengar suara telpon berdering malam itu.

“Halo, dari siapa?” Terdengar suara Eri menjawab telpon.
“Kak Amela.. telpon dari Dewa” teriak Eri memanggil Amel.

Amel segera menjawab telpon itu.

“Huuh.. banyak amat sih yg nelpon!!” gerutuku.

Sebenarnya bukan hanya malam ini saja, tapi hampir seErip malam banyak sekali telpon yg mencari Amel dari temen-temen cowoknya di sekolah. Saat itu aku tdk terlalu peduli karena suasana rumah juga “belum-aman”, tapi sekarang.. aku benar-benar merasa sangat terganggu.

Wajahku pastilah terlihat kesal ketika Amel sudah berada di dekatku kembali dan bertanya, “Abang kenapa sich? Kok kelihatannya marah, ada apa bang?” tanya Amel.

“Siapa sih itu yg nelpon, pacar ya?!” tanyaku dengan nada ketus, padahal aku sudah sangat berusaha untuk tenang, tapi tetap saja yg kuucapkan bernada ketus emosi.
“Iya bang, hihihi enggak kook, Dewa cuman temen biasa tadi juga cuman nanyain PR buat besok, Mmm.. abang cemburu yaa?” godanya padaku sambil melemparkan senyum nakal.
“Eh.. eng.. enggak kok, cuman sinetronnya sedang seru tuh” kataku dengan gugup berusaha mengelak.
“Kenapa sih dari tadi banyak amat mahluk yg nelpon??” tanyaku akhirnya.

Amel tersenyum lalu berkata,

“begini deh, nanti kalau ada yg nelpon lagi, abang juga angkat telpon yg di kamar mama yaa, biar bisa ikutan dengar” katanya.
“Oh boleh, abang juga pengen tau apa sih maunya orang-orang yg nelponin Amel itu.. huh.. mengganggu saja mereka!!” jawabku kembali dengan nada ketus.

Amel lalu duduk di sampingku di sofa panjang sambil merangkulkan tangan kiriku pada lehernya, lalu ia dengan manja merebahkan kepalanya di pundakku. baja jg cerita nya di >>> orisex.com

Perasaanku pun kembali tenang. Kami menonton acara TV bersama, melepaskan lelah sehabis sibuk mengerjakan tugas-tugas rumah untuk sekolah esok. Erilah yg paling berkuasa memonopoli acara TV yg kami tonton karena ia memegang remote TV, duduk di karpet sambil bermain dengan boneka-boneka Barbienya dan tdk ada seorang pun yg boleh mengganggunya saat itu karena ia sangat suka menonton sinetron kesayangannya, Bidadari. Setelah sinetron itu selesai, aku segera menyuruh Eri untuk bobo. Amel dan aku biasanya sering menemani Eri untuk menina bobokannya, terlebih malam ini saat aku dan Amel ingin mereguk “kenikmatan surga duniawi” yg telah lama tertunda.

“Eri, ayo bobo sayang, sudah malam nih” kataku membujuknya.
“Nanti ya Bang, soalnya Eri masih mau nonton TV” kata Eri sambil tertawa-tawa dan berusaha untuk menghindariku yg berjalan ke arahnya.

Kriing.. kriing.. kembali telpon berbunyi.

“Bang, Eri angkat telpon dulu!” kata Eri seolah mendapat angin lalu berlari menuju telepon.
“Halo.. selamat malam.. dari siapa?” tanya Eri.
“Kak Amela.. telpon dari Padi” teriak Eri memanggil kakaknya.

Amel lalu menggamit tanganku dan memintaku untuk mendengarkan pembicaraan mereka lewat telpon di kamar ortunya. Pintu kamar kubuka lebar-lebar sehingga aku bisa mendengarkan pembicaraan sambil melihat ke arah Amel yg berdiri di sana.

“Halo” kata Amel.
“Hai Amel, ini Padi, sedang ngapain nich?” Padi berbasa basi.
“Nonton TV, eh kamu dari kelas berapa??” Amel bingung.
“eh.. aku dari kelas tiga itu lho, defendernya tim inti basket sekolah kita, kamu khan cheerleadernya pasti kamu tau aku doong” jelasnya.
“Cuihh.. nge-bullshit dia!!” pikirku geram.
“Hmm.. mungkin” jawab Amel dingin.

Suasana hening sejenak, lalu terdengar Padi berkata lagi

“mm.. begini, sebenernya aku mau mengajak Amel nonton pertandingan basket liga profesional besok sore yg di stadion deket sekolah kita, Amel ada waktu ngga?” tanyanya penuh harap.
“Waah, kayaknya ngga bisa deh Di, besok sore Amel mau berenang” jawab Amel cuek.
“Mau berenang yaa? Di mana? Aku temenin deh, aku juga suka berenang, bareng ya besok!” pinta Padi.
“Busseet dasar bajigur! Maksa amat jadi orang, wong Amel juga nggak kenal ama dia” pikirku.

“Ah, nggak perlu deh Di, soalnya Amel ditemenin sama Eri dan abang, tapi makasih ya” Amel menolak dengan halus.
“Ngga pa pa deh.. tapi gimana kalo besok pulang sekolah bareng kuanter naik motorku, aku tunggu di depan kelasmu yaa” katanya lagi usaha.
“Besok Amel dan teman-teman mau janjian kerja kelompok jadi pulangnya harus bareng-bareng naik angkot soalnya Amel belom tau rumahnya..”
“Huaahh dasar gombal, perayu kelas teri!!” gerutuku dalam hati.

Kesal sekali rasanya, orang itu kok kayak nggak ngerti-ngerti, Amel sudah tdk mau kok masih aja maksa.. dsb.. dsb.. begitulah kira-kira apa yg kupikirkan saat itu. Perasaanku meledak-ledak sekali, ingin rasanya aku memotong pembicaraan mereka dan menyudahinya, tapi aku berusaha untuk bersikap tenang terlebih di depan Amel, aku harus selalu bisa memberikan contoh yg baik, aku juga berusaha untuk mengerti seandainya aku yg berada pada posisi si Padi tadi, mungkin aku juga akan begitu, yahh, namanya juga usaha..

Aku melihat bahwa begitu banyak orang yg berusaha mengambil hati Amel, mendekatinya dan menjadikannya pacar, tetapi mereka tdk bisa mendapatkan apa yg mereka inginkan. Hal ini membuatku merasa sadar bahwa betapa bahagianya aku saat ini karena bisa memilikinya, menyayginya, mencurahkan seluruh perhaErin dan perasaan kasih sayangku padanya, merupakan suatu penghargaan tertinggi yg bisa kupersembahkan kepada Amel ataupun kepada bidadari-bidadari kecil lainnya yg pernah dan mungkin akan kutemui sepanjang perjalanan hidupku.

Aku kembali melihat ke arah Amel yg tersenyum-senyum sambil memandangku. Amel terlihat begitu cantik, lesung pipit di pipinya menyempurnakan kecantikan wajahnya, Ia mengenakan daster tipisnya yg seksi sehingga aku dapat melihat tonjolan bukit kembarnya yg tengah berkembang pesat, kulitnya yg putih mulus, tubuh yg seksi feminin, rambut terurai berkilau panjang sebahu, usianya yg baru menginjak 12 tahun, benar-benar seorang bidadari.

Selain teman-teman yg mendekatinya, banyak juga pencari-pencari bakat dan produser-produser sinetron lainnya yg sudah kebelet ingin menjadikannya seorang model-lah, bintang sinetron-lah, tetapi untungnya semua tawaran itu ditolak mentah-mentah oleh Pak Sis, dan aku tentu saja, sangat mendukung keputusan Pak Sis tersebut.

“Mm, jadi besok Amel sibuk sekali ya?” tanya Padi yg keliatannya udah agak ngerti.
“Huaahh dasar lamban!” pikirku emosi.
“Iyyaa..” jawab Amel dengan manja.

Suaranya yg halus dan manja serta silhouette tubuh sexy femininnya plus dua bukit kembar di balik dasternya yg tipis membuat birahiku menggelegak bak lahar di kawah candradimuka, ingin rasanya segera menerkam dirinya dan segera memberikan sentuhan kenikmatan seperti yg biasa kuberikan padanya, terlebih suasana saat ini telah begitu mendukung. “Hhh.. hh.. hh..” perasaan cemburu dan nafsu birahiku bercampur menjadi satu membuatku tdk mampu lagi mengatur nafasku, jantungku berdegup kencang.

“Eh Padi, udah dulu ya, Amel mau bobo nich!” kata Amel tiba-tiba mengakhiri pembicaraannya, mungkin ia juga bisa mendengar dengusan nafasku di telepon, tapi aku sudah tdk peduli, segera kututup telponnya dan segera berjalan dengan cepat ke arah Amel yg tdk lama kemudian juga menutup telponnya lalu dengan setengah berlari ia masuk ke kamarku.

Ketika aku masuk ke kamar, kulihat Amel tengah berdiri bersandar di meja belajar menantiku sambil kaki kirinya naik ke atas tempat tidurku sehingga dapat kulihat pahanya yg putih mulus itu tersingkap dengan jelas di hadapanku. Dengan cepat kupegang erat kedua bahunya, kutarik lalu kudorong merapat tembok. Aku merapatkan jarak dengannya lalu kuraih kedua tangannya dan kuangkat ke atas menempel ke tembok lalu kutahan. Posisi Amel sekarang bagaikan orang yg sedang “angkat-tangan” di hadapanku membuat kedua bukit kembarnya tercetak jelas di balik daster tipisnya. Ia memandangku dengan pandangan yg penuh kegairahan sambil sedikit menggigit bibir bawahnya.

“Hhh.. hh..hh..” Aku memandang wajahnya dengan penuh nafsu sampai-sampai hembusan nafasku mengibaskan rambutnya.

Posisi dadanya yg membusung ke depan begitu menantang dikarenakan kedua tangannya yg masih juga kutahan di atas. Tanpa bisa kukontrol lagi aku segera menghisap dan menjilati payudara kuncup bidadari kecilku. Daster tipis yg membalut bukit kembarnya yg sexy itu tdk bisa menghalangi hisapan dan jilatan liarku, bahkan malah membuatku semakin bernafsu untuk menghisap, karena ternyata jika menjadi semakin basah, maka bukit kembarnya itu akan semakin tercetak dengan jelas. Hal ini membuat Amel menggeliat-geliat kenikmatan. Tdk lama kemudian ciuman dan jilatan kuarahkan ke lehernya yg jenjang, dagunya lalu naik ke bibir tipisnya yg sexy. Pertarungan emosi antara nafsu dan rasio agar tdk melakukan hisapan dengan sangat kuat dan penuh nafsu, hingga bisa menyakiti dirinya membuat tubuhku bergetar.

Kekhawatiran itu membuat kelembutan diriku kembali muncul, lalu kuhisap lidah Amel dengan lembut dan penuh perasaan, melepas kerinduanku yg sudah sekian lama tertunda, sementara tanganku pun mulai merayap turun untuk kemudian menjamah kedua bukit kembarnya. Amel terlihat menikmati apa yg kulakukan terhadap dirinya lalu mulai merangkulkan lengan kirinya di leherku lalu tangan kanannya membelai kepalaku.

Aku kemudian menggetarkan tanganku seperti vibrator yg kini memegang sepasang payudaranya, hal itu ternyata membuat Amel amat sangat terangsang sehingga kali ini ia tdk bisa mengontrol dirinya dan mulai menghisap lidahku dengan kuat. Hisapannya pada lidahku begitu kuat di tambah rangkulan tangannya pada leherku sehingga membuat kepalaku serasa terjepit. Bagiku, selama masih dalam batasan yg wajar dan masih bisa kuatasi, Amel boleh lepas kontrol terhadapku tetapi aku yg wajib untuk mengontrol diriku sendiri agar tdk menyakiti apalagi sampai merusaknya secara fisik.

Kugetarkan kembali tanganku agak kencang pada sepasang payudaranya yg sensitif itu dan “Aaahh..” Amel mendesah. Apa yg kulakukan ternyata membuatnya terangsang hebat, begitu hebatnya sampai-sampai ia melepaskan hisapannya pada lidahku dan agak memundurkan payudaranya sedikit ke belakang agar terlepas dari getaran mautku. Kesempatan itu tdk kusia-siakan, segera kubuka daster tipis Amel dan menyisakan CD putihnya, sehingga seolah masih menyimpan misteri yg membuatku menjadi selalu penasaran, lalu kugendong dia ke atas tempat tidurku sambil memberinya french kiss.

Tangan kananku pun sibuk mengusapi perutnya lalu turun ke bagian paha dalamnya dan naik lagi ke perutnya sambil sesekali membelai payudaranya yg sensitif itu. Rangsangan tanganku kini mulai kufokuskan, kuelus puncak bukit payudara kanannya dengan telunjukku sementara keempat jari lainnya memijat-mijat badan bukitnya yg secara utuh telah berada di bawah telapak tanganku. Perlahan tanganku menggetarkan bukit payudaranya lalu kupercepat intensitas getarannya, hal ini membuat Amel kembali tdk dapat mengontrol dirinya. Rangkulan tangannya pada leherku menjadi sedemikian eratnya, begitu pula hisapannya pada lidahku yg seolah-olah ingin menelan seluruh cairan tubuhku sampai tak bersisa. Hangat nafasnya yg terengah-engah pun menerpa wajahku dan menambah sexy suasana.

Akhirnya Amel menekan dadanya ke bawah agar payudaranya bisa terlepas dari getaran tanganku. Hisapan dan rangkulannya jadi agak mengendor, saat itu aku yakin Amel berusaha curi nafas, tapi aku tdk mau membiarkan nafsunya turun begitu saja, lalu dengan cepat aku segera menggeser ciuman dan jilatanku ke leher kemudian menuju bukit payudara kirinya. Kuhisap dengan cepat puncaknya yg berwarna coklat muda yg indah memberikan gradasi warna yg kontras sempurna dengan kulitnya yg putih.

“Aaahh.. abaanghh.. hh.. hh.. sshh.. Amel ngga kuat baang.. mo pipiissh..” Amel kembali mendesah.

Aku bisa merasakannya, tentu saja dia langsung menyerah, sebab begitu mulutku mendapatkan putingnya langsung kuhisap dan kujilati puncak bukit payudara kirinya itu, tanganku pun langsung mengejar dan kembali menggetarkan payudara kanannya yg agak terlepas tadi.

“Abaanghh.. sshh.. aahh..” tubuh Amel menggelinjang-gelinjang kenikmatan.

Ia juga mulai mengangkat pinggulnya yg berarti ia mau menyerah sekarang. Melihat hal itu aku segera bergerak cepat, menghentikan hisapanku lalu berpindah menuju selangkangannya. Kedua tanganku dengan sigap lalu membuka kedua pahanya lebar-lebar lalu kupinggirkan bagian celana dalamnya yg sudah basah dan masih menutupi memeknya karena aku tdk punya waktu lagi untuk melepaskannya.

Sekarang aku bisa melihat cairan kenikmatan yg meleleh keluar dari daerah keperawanan Amel. Aku segera menjilat dan menghisapnya sementara jariku masih menahan bagian CDnya yg tadi kupinggirkan agar tdk lagi mengganggu. Amel segera mencengkram rambutku dengan kedua tangannya dan menekannya lebih dalam sementara paha kiri dan kanannya menjepit kepalaku dengan kuat.

“Abaanghh.. sshh.. aahh.. Amel keluar.. baanghh..” teriaknya.

Tubuh Amel yg sexy itu kini tersentak-sentak, sementara aku berusaha meredam gerakan liarnya agar rangsangan dan hisapanku tdk terlepas dari memeknya.

“Aaahh..” Seiring dengan desahan itu, meluncurlah cairan orgasmenya yg hangat dan nikmat, langsung kusambut dengan hisapan mulutku.

Tekanan tangan dan jepitan pahanya kini sudah lepas, Amel sudah tenang kembali tapi masih terlihat lemas, segera kubuka celana dalam putihnya yg menggangguku tadi.

Kini Amel benar-benar telanjang bulat di hadapanku. Tubuhnya yg putih mulus itu terlihat mengkilap oleh keringat, matanya sayu menatapku dan ia mencoba untuk tersenyum. Aku tersenyum padanya dan mulai menjilati kembali daerah kewanitaannya yg kini sudah mulai ditumbuhi bulu-bulu halus walaupun masih jarang. Sebenarnya, aku kurang suka melihatnya karena favoritku adalah daerah kewanitaan yg benar-benar bersih tanpa bulu, tapi daripada mengeluh, lebih baik aku mensyukuri apa yg kumiliki. Aku mulai menjilati bibir vertikal dan bulu-bulu halusnya, sementara tangan kiriku berusaha menjatuhkan CD Amel ke bawah ketika tiba-tiba..

Kini Amel benar-benar telanjang bulat di hadapanku. Tubuhnya yg putih mulus itu terlihat mengkilap oleh keringat, matanya sayu menatapku dan ia mencoba untuk tersenyum. Aku tersenyum padanya dan mulai menjilati kembali daerah kewanitaannya yg kini sudah mulai ditumbuhi bulu-bulu halus walaupun masih jarang. Sebenarnya, aku kurang suka melihatnya karena favoritku adalah daerah kewanitaan yg benar-benar bersih tanpa bulu, tapi daripada mengeluh, lebih baik aku mensyukuri apa yg kumiliki. Aku mulai menjilati bibir vertikal dan bulu-bulu halusnya, sementara tangan kiriku berusaha menjatuhkan CD Amel ke bawah ketika tiba-tiba..

Celana dalam Amel yg kupegang tadi tiba-tiba ditarik oleh seseorang yg tdk kami sadari keberadaannya sedari tadi. Aku sangat-sangat terkejut sampai-sampai aku terduduk tegak menghadap ke arah Amel yg masih terlihat lemas. Aku tdk berani menoleh dan kurasa wajahku menjadi pucat.

“Iiih abang, ini khan celana dalam Kak Amel jangan dilempar-lempar doong! lho, kok basah sih celananya? Emangnya abang sama Kak Amel lagi ngapain sih? Kok Kak Amel telanjang?” pertanyaan beruntun yg dilontarkan oleh suara mungil yg sangat kukenal baik.. ya, itu suara Eri..

Betapa cerobohnya aku sampai-sampai lupa mengunci kamar. Aku berusaha keras mengingat-ingat apa yg terjadi, mengapa Eri bisa lolos sampai di sini? Seharusnya dia khan sudah bobo..

Wuaahh.. kini aku ingat.. ini semua gara-gara telpon sialan itu yg membuat kami lupa untuk menidurkan Eri. Rupanya ia masih menonton TV saat kami bercinta di sini. Eri lalu mendekati Amel dan memberikan celana dalamnya yg ia ambil dari tanganku tadi. Amel tdk tampak terkejut saat melihat Eri dan itu membuatku sedikit merasa tenang.

Amel merangkul Eri dan berkata dengan lembut, “abang tadi sedang mengajarkan sesuatu yg pernah Kak Amel ceritakan sama Eri, masih ingat khan?” tanya Amel.

“Yg ngga boleh bilang papa mama itu khan? Iya kak, Eri masih ingat” jawab Eri.

Amel tersenyum senang “Eri mau khan diajarin juga sama abang dan Kak Amel?” lanjut Amel.

“Tapi tadi Kak Amel diapain sih sama abang, kok sampe teriak-teriak, Eri khan jadi takut” raut wajah Eri jadi agak berubah.

Amel memeluk Eri dan membelai punggungnya seraya berkata,

“abang tadi membuat Kak Amel kegelian.. enaak sekali, saking enaknya Kak Amel ngga sadar kalo teriak, naah kalo Eri mau diajarin sama Kak Amel dan abang, Eri harus selalu menepati janjinya ya!” bujuk Amel.
“Iya kak, Eri janji ngga akan bilang papa mama dan mau nurut sama abang dan Kak Amel” janji Eri.

Amel tersenyum mendengarnya lalu menyodorkan kelingkingnya ke arah Eri sambil berkata,

“janji yaa!” Eri pun lalu mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Amel tanda ia berjanji.

Perasaanku menjadi tenang kembali melihat kakak beradik yg cantik itu rukun dan akur.

“Nah, Eri sudah berjanji sama Kak Amel, sekarang Eri harus berjanji juga dong sama abang!” perintahku.

Eri lalu berjalan mengitari tempat tidur ke arahku sambil menyodorkan kelingkingnya untuk mengikat janji denganku. Aku melihat wajahnya yg begitu polos, begitu murni membuat perasaan sayangku padanya meluap-luap. Manusia macam apa yg akan tega menyakitinya??

Aku segera mengangkatnya dan mendudukkannya di atas perutku lalu berkata, “Iya Eri sayaang, abang percaya sama Eri, Eri khan anak cantik yg baik.. cup kataku sambil mengecup keningnya.

“Nah, sekarang abang akan memperlihatkan bagaimana caranya memberikan oral seks kepada Kak Amel, Eri perhatikan baik-baik!” kataku sambil tersenyum padanya.

Baru saja aku mau bergerak ke arah Amel, tiba-tiba Amel duduk dan berkata,

“tdk adil dong Bang kalau begitu, sekarang giliran abang yg Amel kasih “os”!” katanya sambil bergerak ke arahku.

Terus terang saja, aku terkejut mendengarnya sampai jadi salah tingkah, ternyata Amel bukan hanya seorang anak cantik dan cerdas tetapi juga penuh pengerErin. Sebenarnya aku agak malu mempertontonkan batangku di depan kedua godiva kecilku ini, tapi apa boleh buat..

Aku segera melucuti pakaianku di depan kedua goddess mungilku sesuai dengan permintaan Amel. Mungkin karena aku merasa agak malu sehingga batangku yg tadinya begitu tegang, menjadi kembali agak tertidur.Dengan telanjang bulat, aku segera menaiki tempat tidur lalu mengatur posisi Eri agar dia bisa memperhatikan dengan jelas apa yg akan Amel lakukan. Eri masih tetap duduk di atas perutku tapi menghadap ke arah Amel sehingga aku juga dapat memeluknya dari belakang, sementara Amel sudah siap berhadapan dengan batangku.

“Eri, perhatikan Kak Amel yaa!” kata Amel pada Eri yg mulai memperhatikan ulah kakaknya itu dengan seksama.

Amel mulai mengecup dan menjilati batangku dari kepala hingga pangkal, buah zakar, dan tak lama kemudian batangku mulai bangun lagi.

“Iiih.. burungnya abang berdiri!” tiba-tiba Eri berteriak.
“Iya Eri, itu artinya abang sayang sama Kak Amel” jawab Amel menjelaskan.

Aku tersenyum lalu menambahkan,

“abang sayang sama Amel juga sama Eri” tambahku sambil mencium pipi Eri dari belakang.

Amel lalu mulai memasukkan bagian kepala batangku ke dalam mulutnya lalu menguncinya dengan bibir dan lidahnya, kemudian dengan hati-hati agar tdk terkena giginya meluncur turun menuju pangkal batang sehingga hampir seluruhnya berada di dalam mulutnya selama beberapa saat, baru naik lagi ke bagian kepala.

“Aaah..” aku mulai menggeliat keenakan.

Eri yg berada dalam pelukanku, kini menjadi sasaran kegiatanku, tapi aku tdk berusaha merangsangnya agar perhaErinnya tetap fokus pada Amel. Aku hanya memeluknya dari belakang dengan penuh kehangatan dan mencium wangi rambut dan tubuhnya sebagai penambah stamina, yg juga merupakan aroma terapi bagiku agar mampu bertahan lebih lama menghadapi rangsangan blow job yg Amel berikan.

Semakin nafsuku menggelegak naik, semakin aku menarik nafas dalam-dalam dengan perlahan, menikmati aroma harumnya tubuh dan rambut Eri. Suatu hal yg menarik bagiku adalah, jika seorang gadis cantik selalu rajin menjaga kebersihan tubuhnya dengan mandi secara teratur dan menggunakan sabun yg sesuai dengan kulitnya, bukan dengan memakai parfum banyak-banyak, maka ia akan terlihat selalu segar, awet muda dan selalu akan menebarkan aroma wangi yg bersih. Hal itu akan menjadi suatu ciri khas bagaikan sidik jari pada seErip orang.

“Ssshh.. aahh..” aku kembali mendesah.

Hisapan dan gerakan Amel yg semakin cepat membuat konsentrasiku buyar. Rasa geli dan ngilu nikmat akibat kuluman dan hisapan itu mulai menjalar naik ke seluruh tubuh ini.

Kupeluk Eri dengan agak kencang, nafasku memburu, aku tdk kuat lagi untuk bertahan lebih lama dan,

“Aaah.. Amel.. abang mau keluar sayaang.. sshh.. aahh..” Amel segera melepaskan hisapannya, kini tangannya mengocok batangku dengan cepat, mulutnya membuka lebar siap menyambut semburan lahar cintaku.

Tubuhku bergetar hebat bagaikan terkena sengatan listrik dan akhirnya,

“Amel.. Aaahh.. croot.. croot.. croot..” spermaku pun muncrat dengan cepat dan banyak mengenai mulut dan wajah Amel dan ketika tembakan spermaku tadi mulai berhenti, Amel lalu menghisap batangku yg mulai melemas dengan antusias seperti seorang yg sedang menghisap permen lolipop.

Setelah merasa sudah tdk ada cairan yg tersisa pada saluran dalam batangku, Amel pun duduk dan menatap wajahku yg kini bertopang lemas pada bahu kanan Eri, memandang sayu ke arahnya.

“Iiih, Kak Amel kok mau minumin pipis abang?” tanya Eri setengah berteriak.

Amel tersenyum lalu bertanya,

“Eri sayang ngga sama abang?” Eri mengangguk.
“Kalau begitu Eri pasti nanti mengerti” kata Amel dengan bijak.

Aku tersenyum mendengarnya, Amel benar-benar seorang bidadari muda yg hebat dan bijak.

“Nah, pelajarannya selesai, besok kita lanjutkan lagi, sekarang Eri bobo yaa!” perintahku sambil menggendong Eri ke kamarnya dengan tubuhku yg masih telanjang bulat, sementara Amel membersihkan dirinya.

Tdk berapa lama Amel masuk ke kamarnya dengan membawa piyamaku saat aku masih menunggui Eri yg sudah mulai terlelap di balik selimutnya yg hangat. Aku segera memakai piyamaku lalu menuju tempat tidur Amel untuk mengucapkan selamat malam. Ia tersenyum memandangku, kukecup bibir tipisnya yg sexy itu seraya berkata,

“Amel, kamu sangat cantik dan luar biasa malam ini sayang” kubelai rambutnya dengan lembut,
“sekarang bobo ya sayang” kataku lagi sambil memeluknya dengan penuh kehangatan, lalu kembali ke kamarku.

Keesokan pagi sampai dengan sore berjalan sebagaimana biasa, tetapi waktu malam setelah mereka kutemani dan kubantu menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya, itulah yg rruaarr biasaa. Malam-malam berikutnya programku kepada mereka adalah memberikan tontonan kepada Eri tentang film-film lesbian, dan juga peragaan deep and hot french kiss, pemberian oral dan blow job secara “live” antara aku dan Amel.

Selama ini aku tdk pernah “menembus” Amel dan menyentuh Eri secara lebih dalam, hal itu hanya kuwakilkan kepada Amel. Kuminta Amel untuk mempraktekkan french kiss dan pemberian oral pada Eri sementara aku mengamati dan memberinya instruksi sambil berbaring di samping Eri, memegang tangannya dan membelai lembut kepalanya. Beberapa adegan film close-up yg bagus sengaja ku paus untuk memberikan pengerErin, terutama pada Eri, tentang gaya dan cara untuk memuaskan pasangannya.

Aku bagaikan seks instruktur bagi mereka (I’m a sex instructor for pretty young divas only, first lesson’s free). PengerErin-pengerErin yg kuberikan bukan hanya sebatas aktivitas di atas ranjang saja, tetapi juga sampai pada menjaga gizi seimbang, olahraga yg teratur agar tubuh tetap sexy dan enak dipandang, serta bagaimana cara membersihkan tubuh mereka terutama daerah-daerah yg paling feminin dan misteri dari seorang wanita, tapi untuk hal yg satu itu hanya sebatas pengetahuanku saja, mengenai detilnya, kuanjurkan agar mereka bertanya pada ibundanya.

Aku berusaha untuk menanamkan pemikiran serta sikap pada kedua goddess mudaku ini bahwa menjaga kebersihan diri merupakan hal yg teramat sangat penting bagi seorang wanita. Pernah juga Amel bertanya mengenai perubahan yg terjadi pada tubuhnya dan membandingkannya dengan cewek-cewek yg ada di film lesbian yg kami tonton.

Ia bertanya mengapa cewek-cewek itu di daerah keErik dan kewanitaannya bersih tanpa bulu, lalu apakah kalo besar nanti payudaranya akan tumbuh jadi sebesar bola basket seperti yg di film karena ia tdk mau seperti itu dan ingin yg normal saja seperti milik ibunya, dan mengapa milikku tdk sebesar tongkat baseball menakutkan seperti yg di film.

Aku memberikan penjelasan bahwa mengenai daerah keErik dan kewanitaan yg bersih tanpa bulu karena mereka secara teratur mencukurnya karena hal itu melambangkan kefemininan, keindahan dan keseksian bagi mereka, kukatakan juga bahwa mereka itu mencukurnya dengan alat cukur janggut seperti milik papanya tapi kembali kutegaskan mengenai yg lebih benarnya sebaiknya bertanya langsung ke ibu mereka atau ke sesama teman cewek di sekolah yg pastinya lebih mengetahui secara detil hal-hal semacam itu.

Intinya, seorang wanita cantik akan lebih sempurna apabila pandai menjaga kebersihan tubuhnya menghilangkan rambut di tubuhnya secara teratur, kecuali tentunya rambut pada bagian kepala karena itu merupakan sebuah Erira kecantikan yg wajib untuk selalu dirawat dan dipertahankan. Kuanjurkan juga agar mereka saling mengingatkan untuk selalu menajaga kebersihan diri dengan sebaik mungkin, karena walaupun Amel dan Eri cantik-cantik bagaikan bidadari, namun kalau tdk pandai merawat diri, pasti akan terlihat sangat tdk menarik. Mereka tahu dan pernah melihat contoh-contoh kurang baik yg kuperlihatkan dan mereka pun tdk ingin menjadi seperti itu.

Mengenai payudaranya, aku jelaskan bahwa itu akan tumbuh dan berkembang secara normal tetapi tdk akan sebesar seperti yg kami lihat di film, karena yg di film itu merupakan hasil operasi plastik penanaman silikon, lagipula kutambahkan bahwa aku sangat menyukai yg natural asli alami seperti payudara milik Eri dan Amel. Mengenai milikku, kujelaskan bahwa batang segede tongkat baseball itu masih bisa dibilang kecil.. karena ada yg segede dan sepanjang Ering listrik hahaha.. Kujelaskan batang yg besar itu tdk banyak manfaatnya, malah hanya akan menyakiti si cewek.

Contoh yg kuberikan pada Amel adalah ketika dia memberiku blowjob, maka dia tdk perlu membuka mulutnya lebar-lebar dalam waktu yg lama karena hal itu akan menyakitkan buat rahangnya, lalu kalau dimasukkan ke dalam memek pasti akan membuat si cewek kesakitan, walau tdk lama karena setelah itu pasti terasa nikmat, tetapi efeknya adalah meninggalkan lubang yg besar dan meninggalkan bentuk yg kurang sedap dipandang.

Aku mengetahuinya karena aku sudah mendengar pengakuan yg diberikan oleh seorang aktris pemain film seks professional itu sendiri kepadaku. Karena itulah aku tekankan pada mereka untuk selalu menghargai dan memanfaatkan dengan sebaik-baiknya semua yg mereka miliki agar lalu tdk menjadi rendah diri dan bersembunyi di balik kepalsuan. Aku juga menanyakan pada Amel apakah dia suka batang yg segede di film, Amel mengatakan bahwa ia takut melihatnya dan ia lebih suka yg normal alami. Kutegaskan bahwa yg terpenting adalah pengerErin dalam membahagiakan pasangan, bukan menyiksanya.

Sayang sekali saat itu aku kesulitan mendapatkan film-film Jepang sebagai pembanding karena rata-rata film versi asia khususnya Jepang lebih berani tampil natural, tdk bersembunyi di balik hasil operasi buatan yg penuh kepalsuan, namun mampu menampilkan variasi hebat, kreatif dan inovatif serta berteknik tinggi, sehingga secara pribadi, aku kagum kepada mereka.

Dari sekian banyak materi “kuliah” yg kuberikan, satu hal yg paling penting adalah menjaga diri mereka terutama bila mereka sudah mulai berpacaran nanti, maksudku jangan sampai rudal sang pacar diijinkan untuk menembus keperawanannya lalu si pacar kabur begitu saja, pokoknya kalau si pacar itu sudah ingin yg macem-macem, segera putuskan. Serahkan diri seutuhnya hanya pada orang yg benar-benar menyaygi, perhaErin dan bertanggung jawab sebagai suami yg syah itulah kebahagiaan sejati yg kutanamkan pada pemikiran mereka dan kuyakin dapat terwujud suatu hari nanti pada diva-diva mudaku ini.

Keesokan harinya yakni hari Sabtu itu sepulang dari sekolah, aku mendapat kabar per telepon dari Pak Sis bahwa mereka sudah kembali berada di Jakarta dan baru besok sore akan sampai di rumah. Ia juga menanyakan kabar kedua putri yg sudah sangat dirindukannya serta menyampaikan bahwa pertemuan bisnisnya di Australia berhasil dengan sukses. Aku memberikan laporan bahwa kedua putrinya dan keadaan di rumah baik-baik saja serta mengucapkan selamat atas keberhasilannya. Kabar itu membuat perasaanku campur aduk,”ini berarti malam terakhir pesta kami bertiga!” pikirku.

Malamnya kebetulan aku ada janji ketemu dengan cewek cantik anak kelas satu di sekolahku yg selama ini kuincar, maka aku pulangnya agak malam, namun Amel dan Eri sudah kuberitahu dan kujanjikan bahwa pelajaran pasti berlanjut malam ini, mereka juga kuharuskan menonton film lesbian yg sudah kusiapkan sambil menungguku, jadi tdk perlu khawatir.

Kencan malam itu berakhir dengan sukses, karena ketika aku nyatain.. ternyata di luar dugaan dia menerimanya, betapa bahagianya aku malam itu. Saat aku tiba di rumah sekitar pukul 22.00 aku langsung mencari Amel dan Eri. Agak terkejut ketika kudapati mereka berdua di kamar ortunya tengah berciuman sambil berguling-guling di atas spring bed yg besar itu.

“Waah, kok ngga nungguin abang sich?” godaku.
“Abiis abang lama sich, Amel dan Eri khan nggak sabar jadinya, tapi ini juga baru mulai kok bang, tadi lamanya nonton film dulu” jawab Amel.

Eri menghambur ke arahku minta digendong dan ia pun bergantung di punggungku.

“Eh.. abang mau cerita nich, tadi abang sudah nyatain ke temen cewek yg cantik, junior abang di sekolah, dan abang diterima jadi pacarnya” kataku gembira.
“Waah, selamat ya bang, ada fotonya ngga?” tanya Amel.

Aku segera mengambilnya di dompetku,

“nih liat, abang dikasih waktu di restoran tadi, gimana menurut Amel?”
“Waah, abang seleranya bagus.. dia cantik sekali, cute, siapa namanya bang?” tanya Amel.
“Liat doong, liat fotonya” kata Eri.
“Namanya Melati” jawabku.
“Wuiihh, iya Bang cantiik, kaya Kak Amel” Eri berpendapat.
“Aaah, cutenya lebih mirip Eri kok” Amel memuji keimutan adiknya.
“Bang, nanti kenalin sama Amel dan Eri, ajak maen seks bareng” pinta Amel.
“Iya baang” dukung Eri.

Idenya benar-benar membuatku sumringah.

“Waahh, seru buanget nih” pikirku.
“Pasti, abang kenalin ke bidadari-bidadari abang ini, tapi kalau ngajak maen bareng.. abang nggak bisa janji yaa” kataku.
“Nggak pa pa kok bang, yg penting kenalin dulu sama kita cewek beruntung yg jadi pacar abang itu” kata Amel. “Aaah, Amel bisa aja” kataku tersipu.
“Ayo ah, sekarang kita mulai pelajarannya, biar abang yg buka daster kalian yaa!” kataku sambil mulai melucuti pakaianku sendiri.

Dengan menyisakan celana dalam di tubuhku, aku berkata pada Amel,

“malam ini abang mau mencoba Eri, boleh ya Amel” kataku.

Eri memandang ke arahku lalu ke arah Amel. Amel tersenyum lembut lalu berkata,

“boleh dong Bang Amel dan Eri khan percaya sama abang” jawab Amel.

Mendengar ijin Amel, Eri pun tersenyum lalu memandang ke arahku.

Eri mengangkat kedua tangannya lurus ke atas tanpa dikomando ketika kedua tanganku baru saja mau membuka dasternya. Satu kesalahan kecil saja yg kulakukan terhadap mereka maka aku akan menjadi salah satu bintang dalam berita TV. Segera kuangkat Eri yg kini hanya mengenakan celana dalam putihnya itu ke tengah tempat tidur, lalu kurebahkan.

Sementara Amel mengambil posisi berbaring di samping kiri Eri, memegang tangannya dan membelai rambutnya. Aku duduk tegak di atas kedua lututku untuk menikmati pemandangan-pemandangan indah yg terhampar di depanku. Kuperhatikan Eri yg kini hanya tinggal dibalut celana dalamnya saja, kulitnya yg putih mulus mirip kakaknya, membuatku tdk sabar untuk memberinya kecupan-kecupan mesra.

Pada sebelah kiri Eri berbaring Amel dengan daster tipisnya yg agak tersingkap di bagian paha, sehingga kini bisa kulihat kulit pahanya yg mulus dan sekilas celana dalam pinknya yg begitu sexy menggoda. Amel dengan cepat menutup bagian dasternya yg tersingkap tadi dengan gaya yg malu-malu dan memandangku dengan ekspresi wajah yg begitu polos, lugu, imut sambil kemudian menggigit sedikit bibir bawahnya, membuat birahiku bergejolak hebat. Bagaikan orang kelaparan yg dihidangkan santapan lezat di depan matanya aku langsung menciumi perut Eri.

“Aaah..” Eri mulai mendesah.

Hisapan dan jilatanku kembali merambat naik menuju lehernya, kedua daun telinganya yg membuatnya merasa kegelian sehingga ia agak menarik kepalanya menjauhi mulutku.

“Abaanghh.. geli.. ahh..” Secara samar kuperhatikan ternyata Amel kini sedang menghisap sepasang payudara kuncupnya berganErin, itulah sebabnya Eri menjadi agak lepas kontrol.

Kubiarkan Eri menghisap lidahku sepuasnya sementara tanganku kini mulai mengusapi paha dalamnya. Kugetarkan tanganku bagaikan vibrator pada paha dalam Eri sebelah kanan dan hal ini ternyata membuat badan Eri terhentak ke bawah, seakan ingin melepaskan diri dari getaran tanganku dan hisapan Amel. Eri tdk kuat menerima rangsangan nikmat yg bertubi-tubi seperti itu sehingga ciumannya pun terlepas.

“Aaah.. sshh.. aahh.. hh.. hh..”

Kesempatan itu segera kumanfaatkan untuk berpidah ke posisi. Naluriku mengatakan bahwa Eri tdk akan kuat bertahan lebih lama lagi. Dengan sigap kedua tanganku segera menarik celana dalam putih itu ke bawah. Kubuka kedua pahanya lebar-lebar lalu kukecup dan Eri mulai mendesah.

“Aaah.. abaanghh.. Kak Amel.. hh.. hh.. hh..”

Eri mengangkat-angkat pinggulnya sementara Amel masih tetap menghisapi payudaranya dan tak lama, “Aaah.. abaanghh.. Eri mau pipiiss.. hh.. hh..”

Kuredam hentakan pinggulnya.

“Aaah.. abaanghh..”

Akhirnya tubuh Eri bergetar kenikmatan walau agak tertahan oleh tanganku dan tubuh Amel. Setelah gerakan Eri terhenti, aku memberikan Amel French Kiss. Amel menyambut ciumanku dengan penuh antusias, kemudian kami pun berbaring di sisi kanan dan kiri Eri sambil memeluk tubuh kecil itu yg kini terkulai lemas untuk memberinya kehangatan. Aku tersenyum lalu berkata, “Nah, sekarang giliran Amel dan abang!” kataku semangat.

Segera kubuka daster tipis Amel lalu kurebahkan kembali seraya memberinya ciuman penuh nafsu. Tanganku dengan cepat kini mulai menggeraygi bukit kembarnya yg indah dan mulai menggetarkannya. Dapat kurasakan Amel berusaha untuk bersikap kuat dengan mampu bertahan, tetapi aku bisa mengetahuinya bahwa dia berusaha mati-maErin untuk menahan rangsangan tanganku pada payudaranya melalui dengusan nafasnya yg mulai tdk terkontrol serta hisapannya pada lidahku yg menjadi begitu kuat.

Tangan kananku segera kuarahkan ke paha dalam bagian kanan, kubelai-belai lalu kugetarkan di bagian yg paling dekat dengan daerah paling femininnya yg masih tertutup celana dalam tipisnya sehingga getaran tanganku juga turut menggetarkan dengan daerah femininnya yg mulai basah itu.

“Aaahh.. hh.. hh..” Amel akhirnya melepaskan hisapannya karena tdk kuat menahan nikmatnya rangsanganku di tiga tempat sekaligus itu.

Inilah kesempatan emasku untuk berpindah posisi dan memberinya oral, segera kugigit karet celana dalamnya dan kutarik ke bawah. Begitu terlihat belahan vertikalnya aku agak terkejut sekaligus bahagia, karena ternyata daerah itu telah kembali bersih. Bulu-bulu halus yg kemarin-kemarin masih kulihat itu kini telah hilang, bersih dan halus seperti milik Eri.

Ini merupakan sebuah hadiah kejutan kedua yg istimewa bagiku. Kubuka lidahku lebar-lebar agar dapat mengusap bagian bibir vertikalnya yg menggairahkan dan sangat feminin itu. Hisapan kumulai dari paha kiri bagian dalam, merambat naik lalu ke paha dalam bagian kiri tanpa menyentuh memeknya. Setelah beberapa saat menikmati pahanya barulah ciuman dan hisapan kuarahkan untuk memberikan rangsangan kontinyu pada bagian klitorisnya, sementara kedua tanganku yg menyusup dari bawah kedua pahanya sudah berada pada pada bukit kembarnya dan siap memberikan getaran yg dahsyat.

Eri yg masih berbaring di samping Amel hanya bisa memperhatikan aktivitas kami sambil memegang tangan dan membelai rambut kakaknya yg tengah kubuat melayg di angkasa merasakan nikmat surga duniawi.

“Aaahh.. aah.. shh.. ouuhh.. hh.. hh.. hh” Amel mendesah tak karuan kala aku menghisap dan memilin-milin klitorisnya.

Kedua pahanya menjepit kepalaku dengan erat, menandakan dirinya amat sangat terangsang oleh apa yg kulakukan. Tanganku mulai kembali menggetarkan bukit kembarnya yg indah itu, selaras dengan hisapan, kecupan dan jilatan yg kulakukan pada klitorisnya.

“Ooouhh.. ooh.. sshh.. aahh.. hh.. hh.. abaanghh.. hh.. hh.. hh” Amel kembali meracau.

Kecepatan getaran kedua tangan kupercepat begitu pula dengan permainan hisapanku pada klitorisnya. Tubuh Amel tersentak-sentak hebat, Ia berusaha melepaskan kedua bukit kembarnya dari tanganku dengan menekan badannya ke bawah, namun tdk berhasil. Ia menaik turunkan pinggulnya dengan liar, “Aaah.. abaanghh.. Amel pipiiss.. oouhh..” Segera kulepas tangan kananku dari payudaranya untuk memberikan belaian pada klitorisnya, sementara mulutku kuarahkan ke lubang memeknya..

“Abaangh.. shh.. ah.. ah.. ah” akhirnya Amel pun kutaklukkan.

Desahan Amel yg begitu menggairahkan terdengar mengiringi deras dan hangatnya cairan orgasmenya yg mengalir keluar dari lubang memeknya.

Diriku sendiri juga sudah tdk kuat lagi menahan nafsu yg semakin bergejolak dan siap meledak ini, segera aku membuka celana dalamku dan mulai mengocok batangku yg sudah berdiri dengan tegangnya. Kuarahkan batangku ke wajah Amel agar dia menghisapinya seperti biasa. Keringat deras yg mengucur di badan dan wajahnya, serta tubuhnya yg kini terlihat lemas sehabis dilanda getar orgasme hebat tadi menjadikan diriku tdk tega untuk memintanya menghisapi batangku. Akhirnya kuputuskan untuk mengocok sendiri dan mengeluarkannya di dada Amel. Tdk lama kemudian aku mengalami orgasme dan ejakulasi hebat, spermaku muncrat dengan keras membasahi dada Amel.

Aku pun terkulai lemas di tempat tidur di samping tubuh Amel. Kami bertiga saling berpelukan dan berciuman dengan hangatnya di atas tempat tidur besar milik orang tuanya itu. Setelah puas berciuman, kuajak mereka mandi, membersihkan diri bersama dengan air hangat.

Selesai mandi dan berganti pakaian dengan piyama baru, kami pun kembali naik ke tempat tidur besar itu untuk beristirahat dan saling berpelukan dengan penuh kehangatan.

“Amel hebat, abang kaget sekali lho tadi, kok bisa bersih dan sehalus itu, gimana caranya yaa?” tanyaku menggodanya.
“Ah abang, itu khan rahasia wanita” jawabnya sambil melihat ke arahku dan tersenyum manis.
“Pokoknya dari sekarang Amel pasti akan selalu mempraktekkan nasehat-nasehat abang!” lanjutnya.

Kukecup bibirnya yg sexy itu dengan lembut.

“Eri juga, malam ini hebaat sekali, abang nggak nygka lho” kataku lagi pada Eri.
“Eri khan sayang sama abang” jawabnya simpel penuh pengerErin, sambil memelukku dengan erat.

Kucium rambutnya yg harum lalu kupeluk kedua bidadariku itu dengan penuh kasih. Kami pun lalu terlelap dalam mimpi yg damai dan indah di malam yg sangat luar biasa itu.

“Tinit.. tinit.. tinit..” Pagi itu sekitar pukul tiga dinihari aku terbangun mendengar suara weker yg sudah sengaja kuaktifkan semalam.

Bergegas kumatikan weker lalu kugendong bidadariku satu per satu menuju ranjang mereka masing-masing, kuselimuti mereka, kemudian aku kembali ke kamar ortunya untuk mengganti sprei, sarung bantal dan guling dengan yg baru. Hal ini kulakukan untuk menghindari prasangka yg tdk-tdk dari si Was jika pagi nanti ia mendapati kami bertiga tidur seranjang di kamar bapak dan ibu Sis, terlebih hari ini mereka akan kembali ke rumah. Setelah semuanya selesai, aku kembali ke kamarku untuk kembali beristirahat.

Siang harinya, Amel sibuk di dapur dibantu oleh Eri dan si Was membuat kue untuk menyambut kedatangan kedua orangtuanya, sedangkan aku ikut membantu dengan membelikan semua bahan-bahan yg mereka butuhkan untuk membuat kue di supermarket. Sore harinya barulah kue “selamat-datang” buatan Amel dan Eri itu jadi dan siap saji, setelah itu kami menonton film-film VCD kartun koleksi kesukaan Eri dan Amel sambil menunggu orangtuanya tiba di rumah.

Sekitar pukul 19.30, kedua ortunya tiba di rumah dan kami menyambutnya langsung di halaman depan. Denga sigap kubuka pintu taksi yg mengantarkan kedatangan bapak dan ibu Sis, mereka keluar dan menyalamiku dengan wajah yg berseri-seri, lalu memeluk erat kedua putri kecilnya untuk melepaskan rasa rindu yg selama ini menjadi beban selama berada di Australia.

Segera kuangkat seluruh barang bawaan bapak dan ibu Sis dari taksi ke dalam rumah, dibantu oleh si Was. Suasana di dalam rumah dipenuhi kebahagiaan, Amel dan Eri kini memberikan hasil karya mereka berupa kue “selamat-datang” kepada ayah dan ibunya. Mereka berbagi hadiah, pelukan kasih, canda dan tawa serta cerita, tapi tentunya rahasia kami tetap terjaga dengan baik.

Hubunganku dengan Pak Sis sekeluarga tetap berjalan dengan baik, khususnya dengan Amel dan Eri, namun semenjak saat itu aktivitas ranjang kami bertiga jadi sangat tersendat dikarenakan oleh kesibukanku mempersiapkan diri untuk ujian-ujian dan Ebtanas. Seperti yg sudah kupersiapkan sebelumnya bahwa ketika aku tdk di tempat atau berhalangan, maka mereka berdua bisa saling mereguk kenikmatan tanpa diketahui papa dan mamanya dan juga tanpa harus minta bantuan dari laki-laki lain yg pasti akan menghancurkan segalanya.

Aku mengetahuinya karena mereka selalu mengajakku dan jika aku memang tdk bisa karena terpaksa harus nginap di rumah teman untuk belajar bareng misalnya, maka Amel ataupun Eri akan memberikan laporan aktivitas erotis mereka berdua dengan begitu membangkitkan gairahku dan membuatku hanya bisa menelan ludah, merasa sangat iri dan menyesal karena tdk bisa turut berpartisipasi, tapi apa mau dikata..

Hubunganku dengan Melati pun sudah semakin erat dan ia juga sudah kukenalkan pada kedua bidadariku, bahkan ia bisa menjadi akrab dengan mereka.

Semua hal terindah itu hanya bertahan sampai aku lulus SMA saja, karena aku harus pindah ke ibukota untuk melanjutkan pendidikan sedangkan Pak Sis dan keluarga harus pindah ke Autralia karena bisnis yg ia tangani berkembang pesat dan sukses besar. Hubunganku dengan Melati pun terpaksa putus dengan baik-baik karena kepindahanku, tapi sebagai teman, ia masih rajin menghubungiku. Inilah kehidupan, realita yg sungguh sangat disayangkan bahwa segala sesuatu yg berawal dengan indah harus berakhir dengan kepedihan. Sekarang, semua manis pahitnya pengalamanku, hanyalah menjadi sebuah, kenangan..

Related Post