cerita dewasa

Bayi Kita Lahir

Aku menghirup nafas dalamdalam. Aroma ini, kenapa sangat nyaman? Mataku masih terpejam, tapi kesadaranku mulai kembali. Ah Kubenamkan wajahku ke dalam bantal Herman dan menghirup aromanya. Tunggu dulu, kemana dia?

Aku mengerjap pelan dan melihat tempat kosong di sampingku. Aku baru ingat kalau selama ini Herman tidur di kamar sebelah. Tapi Kenapa sekarang aku malah ingin menghirup baunya? Dengan wajah kusut aku turun dari tempat tidur. Berjalan menuju kamar sebelah. Dia masih tidur pulas saat aku masuk ke dalam.

Aku mengerjap pelan dan melihat tempat kosong di sampingku. Aku baru ingat kalau selama ini Herman tidur di kamar sebelah. Tapi Kenapa sekarang aku malah ingin menghirup baunya? Dengan wajah kusut aku turun dari tempat tidur. Berjalan menuju kamar sebelah. Dia masih tidur pulas saat aku masuk ke dalam.

Cerita Sex Istri | Ah, dia masih saja tetap seperti anakanak saat tidur. Aku naik ke atas ranjang, masuk ke dalam selimut lalu memeluknya. Kubenamkan wajahku ke dalam lehernya lalu kuhirup dalamdalam. Kurasakan ia bergerak dalam tidurnya.

Uugh Cik, gumamnya tidak jelas setengah sadar.
Aku tidak menjawab, hanya semakin banyak menghirup aromanya. Ciki, kau ada di sini? tanyanya terkejut saat sudah sadar sepenuhnya.

Aku tersenyum padanya lalu menyeruakkan wajahku lagi ke lehernya. Baumu enak, bisikku pelan. Menghirup lagi aromanya, tapi Herman menjauhkan wajahku lalu duduk, menatapku dalam.

Kau sudah tidak mual lagi?
Aku ikut duduk sambil menggeleng pelan.
Tidak ingin muntah?

Aku menggeleng lagi.

Jadi aku bisa mendekatimu?

Aku mengangguk sambil tersenyum.

Greeep Aku sedikit terkejut saat ia merengkuh tubuhku kuat.

Aku merindukanmu, bisiknya lirih.

Aku membalas pelukannya.

Aku juga bisikku.
Dia mengecup kening, pipi, hidung dan bibirku. Akhirnyaaa serunya sambil tersenyum lebar.

Aku tertawa kecil melihatnya. Seulas kenangan kami dari awal bertemu hingga saat ini seolah berputar di memori otakku. Betapa ajaibnya takdir.

Apa yang kau pikirkan? tanyanya.

Aku memejamkan mataku sejenak.

Seperti yang kau pikirkan, bisikku sambil tertawa.

Cuup Ia mengecup bibirku.

Kamu cantik, bisiknya lalu mengecupi bibirku, merubahnya jadi lumatanlumatan manis.

Bruuk Aku terjatuh ke ranjang, tapi ia tidak melepaskan ciumannya. Kurengkuh lehernya eraterat, meremas rambut halusnya.

Mmmmm kau harus ke kantor, bisikku di sela ciumannya.

Dia menghentikan ciumannya. Menempelkan keningnya di keningku sambil memejamkan mata. Aku tidak ingin pergi hari ini.

Kenapa?
Aku ingin bersamamu seharian, jawabnya. Hampir dua minggu, Cik, aku sangat merindukanmu

Aku tersenyum. Apa aku harus berbohong pada sekretarismu?
Tidak perlu, biarkan saja balasnya lalu mulai melumat bibirku lagi lebih dalam.

Mmhh suara decakan mulai terdengar.

Herman menahan tubuhnya dengan tangan agar tidak menindih perutku. Dia sangat melindungi bayinya. Dan aku tentu saja.

Dibukanya bibirku dengan lembut, lidahnya terjulur menjilatjilat lidahku. Mencampur air liur kami. Ah, hampir dua minggu aku tidak merasakan sentuhannya. Aku tahu betapa tersiksanya dia. Kuharap bayi kami baikbaik saja setelah ini, tidak menginginkan sesuatu yang aneh

Suara kecapan semakin keras. Nafasku mulai terputusputus. Bibirnya terasa sangat manis dan lembut, membuatku ingin terus mengulumnya. Kuhisap lidahnya di mulutku dan ia menjerit tertahan. Sesekali ia memberi jeda untuk kami mengambil nafas.

Mmhh aku melenguh pelan.

Bibirnya mulai bergerak turun ke bawah. membuatku mendongak, memudahkannya untuk menyusurinya. Detak jantungku mulai tidak beraturan. Nafasku mulai tersengal. Bibir Herman terus merambat ke sisi lain leherku dan semakin naik ke atas, ia menggigit lembut telingaku. Terpaan nafasnya yang hangat, nyaris membuatku hilang kendali.

Nghh Darahku berdesir cepat.

Aku menggeliat pelan dalam dekapannya. Ia masih terus menyusuri leher bagian belakang telinga kananku.

Ngghhh desahnya lembut diselasela bunyi decakan dari kecupannya. Ia menarikku pelan untuk duduk. Dilepasnya kaos longgar yang kupakai, kemudian tangannya bergerak ke belakang bersama dengan bibirnya yang mengecupi setiap inci bahuku.

Ngghh hhh desahku pelan.

Kukecup bahunya dan berhenti di satu titik untuk membuat hisapan lembut. Aroma keringatnya tercium jelas. Sisa dari masturbasi yang dilakukannya semalam bersamaku di telepon.

Enghhh erangnya tertahan.

Tangannya bergerak membuka kait braku, kemudian membuang benda itu entah kemana. Dan dengan cepat ia melepaskan kaosnya sendiri kemudian mendorongku untuk kembali tidur.

Ia mencium keningku lembut. Mataku, pipiku, hidungku kemudian bibirku lagi. Ditekannya lembut bibirku, membasahinya. Ia melumat lembut sambil menekannya semakin dalam, membuatku semakin ingin membalasnya.

Mmhh desahandesahan kami terdengar kembali bersama decakandecakan bibir kami yang memenuhi ruang kamar itu.
Nggh Her! aku merasakan jari telunjuknya menyusuri kedua buah dadaku. Menekannekan putingnya.

Kemudian diremasnya payudara sebelah kiriku lembut. Aaahhh aku menggeliat dalam pelan.

Bibir Herman turun ke bawah mencium daguku leherku ia mengecupi belahan

dadaku sebelum akhirnya ia menjilati puting dada kananku. Dikulumnya puting payudara itu dan dimainkannya dengan lidah di dalam mulutnya yang basah sementara ia masih meremas payudara kiriku sambil memilinmilin putingnya. Memutarnya sambil menekannekannya.

Ssshhh perutku terasa diadukaduk semakin cepat.

Bagian bawah pada tubuhku berkedutkedut dengan cepat. Kakiku tidak bisa diam dan terus bergerak menggesek kakinya.

Herman menyedot putingku kuatkuat, membuat buah dadaku itu mengeras.

Tidak ada susu, bisiknya.
Dasar bodoh!! balasku.

Ia tersenyum kemudian meremas dadaku yang sebelah, melakukan hal yang sama. Aku meremas rambutnya yang halus. Tibatiba ia melepaskan hisapannya kemudian bangun dan melepas sisa baju yang menempel di tubuhku dan di tubuhnya sendiri.

Ia kini berbaring di sampingku, telanjang. Dan menarikku agar naik ke atasnya. Aku duduk di pahanya lalu merunduk, membuat kontolnya yang mulai tegang, menusuk perutku.

Nghhh ia melenguh pelan.

Kukecupi kulit lehernya. Aku merasakan sensasi aneh saat payudaraku menempel pada kulit dadanya yang bidang. Terasa panas. Aku mengecup pipinya yang mulai tembam itu berkalikali. Kemudian turun lagi mengecupi lehernya. Sengaja kugeliatkan badanku pelan, membuat kontolnya yang menusuk perutku tergesek pelan bersama dengan dadaku yang menggesek dadanya.

Aaghh ia mendesah keras saat aku mengulum putingnya.

Perlahan, kugerakkan tanganku ke bawah sana, mengelus batang kemaluannya.

Aaagghh ia mendesah tertahan sambil meremas rambutku.

Kusedot kuat putingnya bersama dengan remasanku yang semakin kuat di kontolnya.

Arrrghhhhh ia mengerang kuat, hingga tubuhnya melengkung ke atas.

Lalu kurasakan tanganku basah. Sepertinya kontol Herman mulai mengeluarkan lendir bening.

Uughhh Ciki aku suka mendengarnya menyebut namaku.

Aku bergerak lagi ke bawah menciumi perutnya hingga ujung kontolnya merambat ke atas, menggesek belahan dadaku.

Nghhh aku mendesah menikmati sensasi batang kontolnya yang menggesekgesek kedua dadaku. Terasa dingin oleh cairan precumnya.
Aahhh shhh Ia semakin melebarkan kakinya, dan aku terus mengecupi perutnya semakin ke bawah.
Uuughhh Tubuh Herman menegang saat aku mengecupi biji pelirnya. Cikii oohh

Perlahan, kugesekkan kontolnya pada ujung daguku. Basah, daguku terasa basah. Ujung kontolnya berwarna merah dengan testis berkerut. Kuhembuskan nafasku sambil meniup benda itu. Herman berdesis pelan masih dengan memejamkan matanya. Wajahnya terlihat tersiksa dengan mulut terbuka. Aku selalu menyukai ekspresinya saat menahan nikmat. Kuremas batang kontolnya pelan.

Ssshhh aaaahhh Herman mendesah.

Kueluselus juga biji pelirnya yang mengerut dengan jari telunjukku.

Nghhh ooohhh dia mengerang tertahan.

Kemudian, kukecup lembut beberapa kali hingga membuat tubuhnya mengejang. Mmmhh kecupanku merambat ke bawah. Begitu pelan. Merasakan uraturat kontol Herman yang bertonjolan hingga sampai ke pangkalnya.

Sshhh lebih cepat, sayang ughh racau Herman. Ooohh sangat nikmat ssshhh

Terus kusedotsedot dan kuhisaphisap. Kujilati dengan lidah basahku.

Aaahhh Cikii engghhh Lendir bening yang dikeluarkannya menjadi semakin banyak.

Ooh aaahhh nghhh hhhh Kukecup lagi ujung kontolnya, lalu kuhisap kuatkuat.
Aarrghhh Cikkiii Herman mengerang tertahan.

Kumasukkan kontolnya ke dalam mulutku lalu mulai mengulumnya.

Mmhhh mmmm
Aaahh aaahh Herman menggelinjang.

Tanganku mengocok bagian bawah sementara mulutku bergerak naik turun mengemut batangnya. Aaaghhh nghhhh ssshhh tangan Herman meremas kuat rambutku, mendorong kepalaku agar kontolnya masuk lebih dalam ke mulutku.

Mmmhh mmmhhh terus kusedotsedot benda panjang itu. Membasahinya dengan air liur sambil sesekali menggesekkan gigiku pada kulitnya yang berlendir.
Ooohhh yeaahhh ssshhh Herman semakin kelojotan.

Kupercepat gerakan mulutku. Kurasakan denyutan di batang kontol Herman.

Cikkii uuughhh nghhh aahh akuuhh tubuh Herman semakin melengkung. Kuhisap kuatkuat kontolnya. Dan
Mmm mmmnnhhh aahh nghhh aaaaaaaaggghhhhh lenguhnya sambil menekan kepalaku kuatkuat.

Aku merasakan cairan asin yang menerobos tenggorokanku, membuatku hampir tersedak. Kuteguk semua cairan itu masih sambil mengulum kontolnya, lalu kujilati hingga bersih.

Nafas Herman naik turun. Ia memejamkan mata sambil membuka mulut untuk menghirup nafas karena lubang hidung saja tidak cukup untuk meraih udara. Aku tahu dia sangat lega. Ingat, aku hampir dua minggu tidak menyentuhnya.

Tibatiba saja dia bangun. Ditariknya aku hingga duduk di pangkuannya. Dikecupnya kening, pipi, hidung dan bibirku. Ia tersenyum sambil menatapku. Tangannya mengeluselus pinggangku. Membuat tubuhku menegang seketika. Kupeluk erat lehernya.

Ia sedikit mengangkat tubuhku. Ngghh aku mendesah saat merasakan ujung kontolnya menggesek liang memekku. Aaaahh kami mendesah bersama merasakan sensasinya. Rasa ngilu dan nikmat bercampur menjadi satu, benarbenar menggairahkan.

Mmmhh bibir Herman turun ke bawah, mengulum putingku, memainkannya dengan lidahnya.

Pembalasan Perselingkuhan

Aaahh aaah uuugh aku bertahan dengan ritme pelan, bagaimanapun masih ada nyawa di dalam perutku.
Aaahh Ciki oooh berhenti aaah pintanya.

Aku berhenti dan memisahkan diri darinya. Ia menuntunku untuk berbaring di tempat tidur. Diusapnya peluh di dahiku. Kau lelah? bisiknya pelan.

Aku tersenyum.

Sedikit, bisikku.
Hanya sebentar, balasnya lalu membuka kakiku lebarlebar. Ia menunduk,

mengecupi perutku yang sedikit buncit.

Aku tersenyum sambil mengelus kepalanya saat ia membenamkan wajahnya ke dalam perutku. Nafasnya terasa panas di kulit. Kemudian kepala Herman bergerak ke bawah.

Aaaarrgh Herr ssssssshhh erangku saat merasakan lidahnya menggelitik

belahan memekku.

Dijilatnya memekku yang sudah becek, dihisapnya klitorisku hingga berdecit. Kemudian dimasukkannya lidahnya ke dalam lubang memekku. Aaah Herr ooohhhh

Digelitiknya bibir memekku kemudian disedotnya kuatkuat. Aaarrgghhhh Memekku berdenyut kuat bersama cairan yang meluber keluar. Aku diam menikmati sensasinya. Orgasme pertamaku.

Ooohh bibirku mulai mendesah lagi saat merasakan ujung kontolnya yang menggesekgesek lubang memekku, meratakan cairanku yang baru saja tertumpah.
Ngghhh aku mencengkeram seprei saat ia memasukkan miliknya perlahan hingga terbenam sempurna. Bibirnya mengecupi kakiku yang disampirkan ke bahunya.
Aaahh mmmmhh ssssshhhhh Herman mulai menggerakkan pinggulnya perlahan.

Aku mengimbangi permainannya dengan menggerakan pinggulku berlawanan arah dengannya.

Ngghh oooohh aaaaahhh ia menunduk, mengulum putingku lagi. Dan menjilatinya rakus.

Kupeluk erat lehernya dengan kaki sementara jarijariku meremasremas rambutnya.

Her oooh uuumhh aaah
Cikii ooohh Ia melepaskan putingku lalu melumat bibirku lagi sejenak.

Kemudian kuraih jemarinya lalu kumasukkan ke dalam mulutku. Kukulum seperti aku mengulum kontolnya.

Mmhhh nghhh hhhh bunyi decakan terdengar semakin menggairahkan.

Tapi aku tahu, gerakannya lebih lambat dari biasanya. Ia sangat berhatihati kali ini.

Aku merasakan tubuh Herman semakin menegang. Memekku terasa becek oleh cairan lendir yang terus menerus keluar, membuat kontolnya semakin mudah masuk.

Aaah aaah perutku rasanya seperti diadukaduk. Memekku berkedut semakin kuat. Sampai akhirnya,
Aaaaaaaaarrrghh aku mengerang keras saat cairanku memancar keluar. Memekku berdenyut kuat meremas kontolnya.
Aaarrrggghh Herman ikut mengerang sambil menghujamkan kontolnya dalam dalam. Aku bisa merasakan spermanya yang hangat mengalir dalam perutku.
Aaah ia mendesah lega.

Menjatuhkan tubuhnya di sampingku.

Aku diam mengatur nafas sambil menikmati sisasisa dari orgasme kami. Kurasakan sentuhan jarijarinya yang merapikan rambutku. Sebuah kecupan mendarat di pipiku.

Aku mencintaimu, bisiknya pelan.
***
Her aku memelas kepadanya.
Herman mengacakacak rambutnya.
Bagaimana kalau aku saja? tanyanya. Aku menggeleng tegas.
Ayolah lagipula belum tentu Azka akan bersedia melakukannya Dia mau melakukan apapun untukku!!
Tapi tapi menampar wajahnya Ahh, kenapa kau harus ingin menampar wajahnya?? Dia tidak akan mau, Cik, itu akan sangat memalukan untuknya!!
Aku pernah menyuruhnya jalan mundur di kampus dan dia melakukannya dengan senang hati, itu lebih memalukan untuknya,
Dia dia bersedia? tanya Herman tidak percaya.

Aku mengangguk lagi.

Tidak boleh!! tegasnya sambil melipat tangan di depan dada.
Ayolah aku hanya ingin menampar pipinya itu
Bagaimana kalau pipiku saja? tawarnya sambil mendekatkan wajahnya kepadaku.

Aku mengecup pipinya kilat lalu tertawa. Aku mau Azka!!
Cikii mohonnya. Aku tidak ingin kau menyentuh lakilaki lain dan, dan

kenapa dia mau melakukannya untukmu?

Aku tertegun sejenak. Astaga Jadi dia sedang cemburu eh?! Karena Azka mau melakukan apa saja untukku?!

Telepon Azka sekarang!! Kalau kau mencintaiku, seharusnya kau juga mau melakukan apapun untukku!! dengusku sambil memalingkan wajah.

Herman menghela nafas pasrah. Ia meraih telepon yang ada di meja sudut sofa. Dengan tidak rela, dihubunginya Azka. Aku tahu dia pasti kesal setengah mati.

Ini aku!! katanya datar saat telepon tersambung.
Dia ia melirikku sekilas.
Dia baikbaik saja dan dia sedang hamil tujuh bulan lebih sekarang!! Bisa kau ke rumah kami? Apa? Australia?!

Aku mengerutkan kening mendengar hal itu, apalagi tibatiba Herman tersenyum lebar. Kurebut telepon dari genggamannya. Az, ini aku

Ciki, apa kabar?
Aku tertawa kecil mendengarnya.
Herman bilang kau sedang hamil, apa itu benar?
Iya, kemana saja kau? Setelah lulus kuliah tidak mengabariku sama sekali!!
Maafkan aku aku ada di Australia sekarang,
Untuk apa kau di sana? tanyaku cepat.
Itu emm sebenarnya aku aku sudah pacaran dengan Yuki,
Yuki? keningku berkerut.
Yukita Hishano, artis yang dulu bersama kita di pulau Bali, yang bersama Herman_
Ah, Aku tahu. Jadi kau sekarang ada di Australia?
Begitulah Yuki ada pemotretan disini.
Kapan kau akan kembali?
Mungkin minggu depan, memangnya kenapa?
Aku ingin sekali menampar wajahmu Bisakah kau pulang sekarang? rengekku.
Menampar wajahku? Harus sekarang? tanyanya bodoh.
Iya, sekaraaang
Baiklah, aku berangkat ke bandara sekarang juga, mungkin tiga jam lagi aku sampai,

Aku tersenyum lebar.

Kau yang terbaik!!! Kututup teleponku sambil tertawa lebar. Her_

Cegluuuk Aku menelan ludah saat menoleh ke arahnya. Dia melipat tangan di depan dada sambil menatapku tajam. Apa katanya? tanyanya dingin.

Didia pulang ke Indonesia sekarang juga, jawabku pelan.

Tibatiba saja aku merasa sangat takut.

Herman mengangguk pelan lalu menonton teve. Well, mengacuhkanku. ***

Aku melirik Herman yang masih berkencan dengan laptopnya. Kuhela nafas sambil menatap laptopku kembali. Dia masih tidak mau bicara kepadaku. Memikirkan hal itu membuatku sedikit sesak. Kuelus perutku pelan. Ini kan bukan keinginanku juga.

Tibatiba saja bell berbunyi. Tanpa berkata Herman beranjak dari duduknya lalu berjalan untuk membukakan pintu.

Ciikii!!! pekikan nyaring itu terdengar memenuhi ruangan.
Aku meletakkan laptopku di meja telepon lalu tersenyum padanya. Kau

benarbenar kembali, senyumku.

Tentu saja, aku sudah berjanji bukan? balas Azka sambil berlutut di hadapanku.
Az, ingat! sela Herman sebelum masuk ke dapur.
Apa? tanyaku.

Azka mengerucutkan bibirnya.

Dia bilang aku tidak boleh menyentuhmu!! Hanya kau yang boleh menyentuhku!!

Aku tertawa dalam hati. Ah, aku semakin mencintaimu Her.

Jadi, kau bilang ingin menampar wajahku hmm?
Aku menggeleng pelan.
Aku sudah tidak ingin,
Apa? Lalu?
Aku ingin menjewer telingamu saja, senyumku.
Ayo, tidur di sini!! kutepuktepuk pahaku yang sekarang sempit karena terdesak perut besarku.

Dengan senang hati Azka tidur di pangkuanku. Kubelai lembut rambutnya sebelum kujewer pelan telinganya. Dalam hati aku juga sedikit menyesal, kenapa bukan Herman saja.

Cik, apa kau bahagia dengannya? tanyanya pelan.
Tentu saja. Aku sangat bahagia bersamanya,
Kalau kau bahagia, aku juga akan bahagia, Azka tersenyum kepadaku.
Jadi bagaimana dengan pacar Jepangmu huh?
Kau ingin aku bercerita?
Tentu saja,

Aku terus menjewerjewer pelan telinga Azka sambil mendengarkan ceritanya. Sampai tibatiba

PRAAANG!!!

HEI, APA YANG KALIAN LAKUKAN?!!

Aku tersentak kaget mendengar teriakan itu. Azka langsung bangun dari tidurnya. Oh tuhan Aku melihat kilat kemarahan di mata suamiku.

Her, aku hanya_
Tidak perlu dijelaskan, lanjutkan saja! Aku pergi dulu!! potongnya dingin lalu
Tunggu, Her, aku beranjak dari dudukku akan menghampirinya. Tetapi kakiku

terpeleset genangan susu dari gelas jatuh yang dibawa Herman tadi. Aaaakhh CIKII!!! Herman berteriak kaget.

Aku meringis memegangi perutku yang terasa sakit karena benturan tubuhku yang jatuh ke lantai. Kugigit bibirku. Rasanya sangat sakit. Suara mereka mulai tidak terdengar, hal terakhir yang kulihat sebelum semuanya menjadi gelap adalah darah mengalir disela kedua kakiku.

Aku membuka mata perlahan. Semuanya terlihat putih. Bau obat yang tajam menusuk hidungku. Kepalaku terasa berat. Uugh aku melenguh pelan.

Cik suara merdu itu terdengar begitu cemas
kau sudah sadar?

Aku mengerjapkan mata sambil menoleh ke samping dengan lemas. wajah tampan itu terlihat begitu khawatir. Matanya bengkak dan menghitam. Kuulurkan tanganku pelan, menyentuh bawah matanya. Kau menangis? lirihku.

Ia mengambil tanganku lalu menciuminya. Maaf bisiknya Maafkan aku air matanya tergenang lagi.

Tidak apa, bisikku
Bagaimana bayi kita? tanyaku cemas.

Seulas senyum terlihat di bibirnya.

Perempuan, dia sangat cantik sepertimu,

Aku tersenyum lega. Terima kasih karena tuhan tidak mengambilnya lebih dulu.

Dimana dia? tanyaku.
Dia prematur, jadi masih harus di inkubator. Maafkan aku sudah menyakitimu aku hampir saja membunuh kalian,
Kau bodoh!! makiku sambil tersenyum.
Tapi syukurlah semuanya baikbaik saja
Kau koma selama 5 hari, Cik. Aku tidak bisa membayangkan kalau kau kalau kau
Sst semuanya sudah lewat.
Aku mencintaimu, Cik sangat mencintaimu.
Aku tahu senyumku.
Aku juga mencintaimu Jadi, siapa namanya?
Belum tahu, aku masih menunggumu siuman. Dia beranjak, mengecup keningku,
Terima kasih sudah menjadi istriku. Biar kupanggilkan dokter. Papa dan Mama ada di luar menunggumu,

Aku mengangguk pelan. semoga kebahagiaan ini terus dapat bertahan, menjadikan keluargaku sempurna. Aku mencintainya, Tuhan. Aku sangat mencintai suamiku. Terima kasih sudah memberiku kesempatan membuat skenario kehidupan ini bersamanya.

Post Terkait